Monitoring Sawah di Pulau Jelmu: Babinsa dan Petani Perkuat Ketahanan Pangan dari Lahan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:30:31 WIB - Dibaca: 38 kali

Babinsa Sertu Suherman bersama Poktan memantau perkembangan tanaman padi di Desa Pulau Jelmu, Tebo Ulu. Foto: Subahan
Babinsa Sertu Suherman bersama Poktan memantau perkembangan tanaman padi di Desa Pulau Jelmu, Tebo Ulu. Foto: Subahan ()

JAMBIPRIMA.COM, TEBO — Upaya menjaga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada hasil panen, tetapi juga pada bagaimana tanaman pangan dirawat sejak awal masa budidaya. Hal itu terlihat dalam kegiatan monitoring perkembangan tanaman padi yang dilakukan Babinsa Koramil 416-04/Pulau Temiang, Sertu Suherman, bersama kelompok tani (Poktan) di Desa Pulau Jelmu, Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, Minggu (30/08/2026).

Di tengah hamparan lahan pertanian, Sertu Suherman hadir untuk melihat langsung kondisi tanaman padi yang sedang dibudidayakan masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendampingan Babinsa terhadap sektor pertanian sekaligus upaya memastikan perkembangan tanaman tetap terpantau hingga memasuki masa panen.

Monitoring semacam ini memiliki arti penting bagi petani. Kondisi tanaman di lapangan dapat berubah seiring perkembangan umur padi, mulai dari kebutuhan air, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga kondisi tanah. Karena itu, pemantauan secara berkala memungkinkan persoalan yang muncul diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi gangguan yang dapat memengaruhi produktivitas.

Melihat Kondisi Tanaman Secara Langsung

Dalam kegiatan tersebut, Sertu Suherman tidak hanya melakukan peninjauan lahan. Ia juga berdialog dengan anggota Poktan mengenai kondisi tanaman, pola perawatan, serta kendala yang ditemui selama proses budidaya.

Dialog langsung dengan petani menjadi bagian penting dalam pendampingan. Sebab, petani merupakan pihak yang berhadapan setiap hari dengan kondisi lahan dan tanaman. Informasi mengenai perubahan kondisi sawah, pertumbuhan tanaman, maupun hambatan dalam pemeliharaan dapat menjadi bahan untuk menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendampingan pertanian di tingkat desa bukan sebatas kegiatan seremonial. Kehadiran aparat kewilayahan di tengah petani diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan membuka ruang untuk mencari solusi terhadap persoalan yang muncul di lapangan.

Sertu Suherman mengajak para petani untuk terus menjaga dan merawat tanaman padi secara optimal. Perawatan yang konsisten dinilai penting agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan pada akhirnya memberikan hasil panen yang maksimal.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Sawah

Bagi wilayah pedesaan yang memiliki aktivitas pertanian, keberadaan lahan sawah bukan hanya berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat. Produktivitas pertanian juga memiliki hubungan langsung dengan ketersediaan pangan di tingkat lokal.

Karena itu, menjaga tanaman hingga menghasilkan panen merupakan bagian dari mata rantai ketahanan pangan. Tanaman yang tumbuh optimal akan memberi peluang lebih besar bagi petani untuk memperoleh hasil produksi yang baik, sekaligus menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kegiatan Babinsa bersama Poktan di Pulau Jelmu menjadi salah satu bentuk dukungan di tingkat lapangan. Pendampingan tidak menggantikan peran petani sebagai pengelola utama lahan, tetapi dapat menjadi penguat komunikasi dan koordinasi ketika petani menghadapi persoalan dalam proses budidaya.

Monitoring juga memungkinkan perkembangan tanaman dicatat dan diamati secara lebih berkesinambungan. Dengan mengetahui kondisi tanaman dari waktu ke waktu, potensi gangguan dapat diidentifikasi lebih cepat dan penanganan dapat dilakukan secara bersama-sama.

Dari Pemantauan Menuju Panen

Tahapan setelah penanaman hingga panen merupakan periode yang menentukan bagi petani. Setiap gangguan yang terlambat ditangani berpotensi memengaruhi pertumbuhan tanaman dan hasil produksi. Karena itu, perhatian terhadap tanaman tidak berhenti setelah padi ditanam.

Kegiatan monitoring yang dilakukan secara rutin menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan perawatan. Babinsa bersama kelompok tani dapat membangun komunikasi mengenai perkembangan tanaman dan persoalan yang ditemukan di lapangan.

Bagi petani, pendampingan seperti ini juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kondisi aktual lahan secara langsung. Sementara bagi aparat kewilayahan, pemantauan memberikan gambaran mengenai perkembangan sektor pertanian di wilayah binaannya.

Harapannya, apabila ditemukan kendala dalam proses budidaya, persoalan tersebut dapat segera diketahui dan dicarikan solusi bersama. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya berorientasi pada kondisi tanaman saat dipantau, tetapi juga pada keberlanjutan produktivitas lahan hingga masa panen.

Menjaga Produktivitas, Menjaga Harapan Petani

Kegiatan di Desa Pulau Jelmu memperlihatkan bahwa ketahanan pangan pada akhirnya bertumpu pada aktivitas konkret di tingkat petani. Lahan yang dirawat, tanaman yang dipantau, dan persoalan budidaya yang segera ditangani menjadi bagian dari proses panjang menuju hasil panen.

Bagi masyarakat petani, keberhasilan panen memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan usaha tani dan pendapatan keluarga. Karena itu, menjaga tanaman tetap sehat bukan sekadar persoalan teknis pertanian, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ekonomi masyarakat desa.

Di titik inilah peran pendampingan kewilayahan menjadi relevan. Kehadiran Babinsa seperti Sertu Suherman di tengah kelompok tani menunjukkan upaya membangun sinergi antara aparat dan masyarakat dalam menjaga sektor pertanian.

Monitoring tanaman padi di Pulau Jelmu pun menjadi pengingat bahwa program ketahanan pangan tidak selalu hadir dalam bentuk kegiatan besar. Ia dapat dimulai dari langkah sederhana namun berkelanjutan: turun ke sawah, melihat kondisi tanaman, mendengarkan petani, mengidentifikasi kendala, dan bersama-sama memastikan tanaman terus terawat hingga menghasilkan panen.

Jika pola pendampingan tersebut dilakukan secara konsisten, bukan hanya perkembangan tanaman yang lebih terpantau. Hubungan antara petani, kelompok tani, dan unsur kewilayahan juga dapat semakin kuat—menjadi modal sosial penting untuk menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan di Kabupaten Tebo. (San)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA