JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM mendorong pemberdayaan petugas haji muda untuk memperkuat kualitas pelayanan jemaah. Menurutnya, kemampuan adaptasi teknologi dan pola komunikasi generasi muda bisa menjadi modal penting dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Hal itu disampaikan Sutan Adil Hendra, yang akrab disapa SAH dan juga merupakan Penasehat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Provinsi Jambi, saat dikonfirmasi wartawan jambiprima.com, Jumat (4/9/2026).
SAH menilai berbagai apresiasi terhadap perbaikan tata kelola penyelenggaraan haji harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan secara berkelanjutan. Salah satunya dengan memperkuat sumber daya manusia yang berada langsung di tengah jemaah.
“Apresiasi terhadap tata kelola haji tentu patut kita berikan. Tetapi apresiasi tersebut harus menjadi energi untuk melakukan perbaikan berkelanjutan, termasuk memperkuat kualitas dan regenerasi petugas haji,” kata SAH.
Menurutnya, sistem, regulasi, dan fasilitas pelayanan tidak akan cukup tanpa didukung petugas yang mampu merespons kebutuhan jemaah di lapangan.
Terlebih, karakteristik jemaah haji semakin beragam. Perbedaan usia, kondisi fisik, pendidikan hingga kemampuan menggunakan teknologi membuat petugas dituntut mampu memahami persoalan dengan cepat dan memberikan solusi yang tepat.
SAH melihat petugas muda memiliki keunggulan dalam hal adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Kemampuan itu, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penyampaian informasi, koordinasi pelayanan, pemantauan kondisi jemaah hingga penanganan persoalan di lapangan.
“Petugas muda harus diberi ruang untuk berkontribusi. Mereka memiliki energi, kemampuan teknologi dan pola komunikasi yang lebih dekat dengan perkembangan zaman. Ini merupakan modal penting untuk membangun pelayanan haji yang semakin responsif,” ujarnya.
Meski begitu, SAH menegaskan pemberdayaan petugas muda bukan berarti mengesampingkan peran petugas senior.
Menurut dia, pengalaman petugas senior justru harus menjadi bagian dari proses regenerasi. Kolaborasi antara pengalaman dan inovasi dinilai dapat menghasilkan pelayanan yang lebih efektif.
“Pengalaman jangan ditinggalkan, tetapi inovasi juga jangan ditolak. Petugas senior memiliki pengalaman lapangan, sedangkan generasi muda membawa semangat, inovasi dan kemampuan teknologi. Keduanya harus dipadukan,” tegas SAH.
SAH juga meminta adanya perubahan paradigma dalam memandang tugas petugas haji. Petugas, menurutnya, bukan hanya menjalankan pekerjaan administratif, tetapi memiliki tanggung jawab memberikan pelayanan langsung kepada jemaah.
Karena itu, proses seleksi dan pembinaan petugas haji perlu mempertimbangkan kompetensi, integritas, kemampuan komunikasi, kesiapan fisik dan mental serta kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi tertentu.
“Petugas haji harus memiliki mental melayani. Ketika jemaah menghadapi persoalan, petugas harus hadir dan memberikan solusi. Jangan sampai jemaah merasa sendirian ketika membutuhkan bantuan,” katanya.
Pelayanan yang humanis juga dinilai menjadi bagian penting. Jemaah berasal dari berbagai latar belakang sehingga membutuhkan petugas yang mampu berkomunikasi dengan sabar, sederhana dan mudah dipahami.
Di sisi lain, SAH mendorong penguatan transformasi digital dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Namun, digitalisasi menurutnya harus menjadi alat bantu untuk meningkatkan kualitas pelayanan, bukan menggantikan peran manusia.
“Digitalisasi harus membuat pelayanan semakin mudah, bukan semakin rumit. Teknologi harus membantu petugas dan jemaah, sementara pendekatan kemanusiaan tetap menjadi fondasi,” jelasnya.
SAH berharap pembinaan petugas haji dilakukan secara berkelanjutan. Program tersebut dapat mencakup mentoring, pelatihan teknologi, manajemen krisis, komunikasi publik hingga pelayanan terhadap jemaah lanjut usia dan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia menilai regenerasi petugas haji merupakan investasi jangka panjang untuk membangun sistem pelayanan yang semakin profesional.
Petugas muda yang mendapatkan pengalaman sejak awal, kata SAH, akan menjadi sumber daya manusia strategis bagi keberlanjutan pelayanan haji di masa mendatang.
“Regenerasi tidak boleh dilakukan secara tiba-tiba. Harus disiapkan sejak sekarang melalui pendidikan, pelatihan, pendampingan dan pengalaman lapangan,” ucapnya.
SAH juga mengajak seluruh pihak menjadikan setiap pelaksanaan haji sebagai bahan evaluasi. Hal-hal yang sudah berjalan baik harus dipertahankan, sedangkan kekurangan perlu diperbaiki secara terbuka dan sistematis.
“Yang paling penting adalah bagaimana setiap musim haji memberikan pembelajaran baru. Kalau ada yang sudah baik kita pertahankan, kalau masih ada kekurangan kita perbaiki,” tuturnya.
SAH optimistis penguatan tata kelola, pemanfaatan teknologi, peningkatan kompetensi serta pemberdayaan petugas muda dapat membuat pelayanan haji Indonesia semakin profesional, cepat, humanis dan responsif.
“Jemaah datang untuk beribadah. Tugas kita adalah memastikan mereka mendapatkan pelayanan terbaik sehingga dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman dan khusyuk. Di situlah sesungguhnya ukuran keberhasilan tata kelola haji,” pungkasnya. (Rhm)
Golkar Apresiasi SNT dan Capaian Pemkab Tebo, Ingatkan Relokasi Warga hingga Infrastruktur Pendukung
Hari Pelanggan Nasional, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Jambi Turun Langsung Layani Peserta
CPO PT SMS hingga RSUD STS Jadi Sorotan PAN: Jalan Dana Pinjaman Jangan Sampai Rusak!
Panen Padi Jambi 2025 Capai 80,37 Ribu Hektare, Produksi 367,79 Ribu Ton
Kemenag Jambi Lantik 17 Pejabat, Kakanwil Tekankan Pelayanan Tanpa Pungli
Golkar Bersuara di Paripurna: BLUD Rp17 Miliar, Krisis Air Lubuk Mandarsah hingga CPO PT SMS