Karhutla Masih Mengancam Bungo, Ratusan Hotspot Terpantau

Jumat, 11 September 2026 - 15:38:05 WIB - Dibaca: 56 kali

Kabut asap masih menyelimuti wilayah kabupaten Bungo, Jumat (11/9/2026). Foto: Dok. sidakpost.id
Kabut asap masih menyelimuti wilayah kabupaten Bungo, Jumat (11/9/2026). Foto: Dok. sidakpost.id ()

JAMBIPRIMA.COM, BUNGO – Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai di Kabupaten Bungo, Jambi. Hingga September 2026, ratusan titik panas terpantau di sejumlah wilayah dan memicu munculnya kabut asap.

Kepala BPBD Kabupaten Bungo Zainadi menyebut, sepanjang Januari hingga 10 September 2026 terdapat 276 hotspot di wilayah Bungo. Sementara total luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 24 hektare.

Menurut Zainadi, kondisi karhutla di Bungo relatif terkendali jika dibandingkan dengan sejumlah kabupaten tetangga. Namun, kabut asap yang dirasakan warga diduga turut dipengaruhi asap dari wilayah lain.

"Untuk Kabupaten Bungo, pada September tercatat 63 titik hotspot. Kabut asap yang semakin tebal diduga karena ada asap dari kabupaten tetangga yang jumlah titik hotspot-nya lebih banyak," kata Zainadi, Jumat (11/9/2026).

Berdasarkan data yang disebut Zainadi berasal dari BMKG Provinsi Jambi, Bungo berada di peringkat kedelapan dalam kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Angka itu lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah di sekitar Bungo. Kabupaten Tebo, misalnya, tercatat memiliki 1.166 titik hotspot, Merangin 499 titik, sedangkan Sarolangun mencapai 1.634 titik.

"Meski titik hotspot di Bungo relatif sedikit, kabut asap tetap terasa semakin tebal. Salah satunya diduga karena adanya asap dari wilayah kabupaten tetangga," ujar Zainadi.

BPBD Bungo mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan dan membuka lahan dengan cara membakar.

Zainadi mengatakan pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas. Peran masyarakat diperlukan untuk mencegah api meluas, terutama saat kondisi kemarau dan lahan dalam keadaan kering.

"Pencegahan karhutla membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Api ketika masih kecil bisa dikendalikan, tetapi jika sudah membesar dapat menimbulkan dampak yang fatal bagi lingkungan," katanya. (sab)





BERITA BERIKUTNYA