Mahasiswa UNJA Olah Limbah Rumput dan Kotoran Ternak Jadi Pupuk, Raih Penghargaan Nasional

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:04:50 WIB - Dibaca: 200 kali

Dosen pembimbing Dr. Ade Perdana Siregar, S.E., M.M., memberikan bimbingan kepada mahasiswa UNJA dalam pengembangan TerraGrow, inovasi pupuk organik berbahan limbah rumput dan kotoran kambing. Foto: Rahim
Dosen pembimbing Dr. Ade Perdana Siregar, S.E., M.M., memberikan bimbingan kepada mahasiswa UNJA dalam pengembangan TerraGrow, inovasi pupuk organik berbahan limbah rumput dan kotoran kambing. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI - Mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) mengembangkan pupuk organik slow release berbahan limbah rumput dan kotoran kambing melalui usaha rintisan TerraGrow. Inovasi tersebut berhasil meraih Juara Harapan III KMI Awards XVII 2026 kategori Budidaya Tahap Awal dalam ajang KMI Expo XVII 2026 di Universitas Jenderal Soedirman.

TerraGrow berawal dari gagasan Raihan Nabil yang melihat potensi pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan bersama Akhdarunnafis Azzaky, Riskal Rinaldi, dan Azril, dengan bimbingan Dr. Ade Perdana Siregar, S.E., M.M.

Tim TerraGrow sebelumnya memperoleh pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026. Melalui program tersebut, mereka mengembangkan produk pupuk organik padat dengan pendekatan ekonomi sirkular untuk mendukung kesuburan tanah, terutama pada budidaya kelapa sawit.

Proses produksi TerraGrow memanfaatkan rumput liar atau gulma dan kotoran kambing yang diolah melalui fermentasi aerob dan anaerob menggunakan Starbo-AFE, bioaktivator hasil hilirisasi Universitas Jambi. Bahan yang telah diolah kemudian dicetak menggunakan alat soil block agar lebih praktis dalam penggunaan.

Produk ini dirancang memiliki karakteristik slow release, yakni melepaskan nutrisi secara bertahap dengan daya tahan sekitar 30–90 hari di dalam tanah. Tim juga telah melakukan pengujian kandungan produk di UPTD Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Provinsi Jambi. Hasil pengujian menunjukkan parameter yang diuji memenuhi standar SNI yang menjadi acuan.

Selain pengujian kandungan, tim melakukan uji pertumbuhan tanaman sawi dengan membandingkan penggunaan TerraGrow dan pupuk NPK 16-16-16. Pengujian tersebut menjadi bagian dari upaya tim mengevaluasi potensi produk sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Perjalanan TerraGrow berlanjut melalui tahapan evaluasi kemajuan usaha hingga Penilaian Kemajuan Pelaksanaan (PKP). Setelah menjalani evaluasi pada 27 Agustus 2026, TerraGrow menjadi salah satu dari lima tim UNJA yang lolos ke KMI Expo XVII 2026.

Menjelang kompetisi nasional tersebut, tim telah memproduksi sekitar 300 kilogram pupuk yang dipasarkan kepada sejumlah konsumen, mulai dari petani kelapa sawit di Penyengat Olak dan Muaro Jambi, petani hortikultura, pemilik tanaman hias, kelompok tani, hingga perusahaan jasa perawatan taman.

TerraGrow juga telah memiliki badan usaha PT TerraGrow Agri Indonesia. Saat ini, tim masih menjalankan proses pengurusan izin edar produk dan memperluas jaringan kemitraan untuk mendukung pemasaran serta pengembangan usaha.

Ke depan, TerraGrow menargetkan perusahaan perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu pasar utama pada 2027. Tim juga menargetkan produksi 600 kilogram pada semester I sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi dan penjualan.

Dosen pembimbing TerraGrow, Dr. Ade Perdana Siregar, S.E., M.M., mengatakan pengembangan usaha mahasiswa tidak cukup hanya berfokus pada kualitas produk, tetapi juga harus memperhatikan kebutuhan pasar dan keberlanjutan bisnis.

“TerraGrow tidak cukup hanya menghasilkan pupuk yang baik. Mahasiswa juga harus belajar membaca kebutuhan pasar, menghitung biaya, membangun kepercayaan konsumen, dan memastikan bahwa produk bisa tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan,” ujarnya. (rhm)





BERITA BERIKUTNYA