JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Rektor IAI AN-NAJAH Jambi sekaligus sejarawan Jambi, Dr. Drs. H. Yusdi Anra, M.Pd., berharap Musyawarah Besar (Mubes) Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi pada Desember 2026 mendatang melahirkan pemimpin yang bijaksana, berintegritas, dan mampu menjaga marwah lembaga adat.
Yusdi menilai, sosok yang terpilih harus mampu memperkuat peran adat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemimpin LAM Jambi juga diharapkan menjadi panutan serta tempat masyarakat mencari perlindungan, nasihat, dan solusi atas berbagai persoalan.
Menurutnya, karakter pemimpin adat ideal telah tergambar dalam filosofi kepemimpinan Melayu Jambi, yakni ibarat pohon besar yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Ibarat sebatang pohon gedang di tengah dusun, batangnya besak tempat bersandar, daunnya rimbun tempat berlindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnya besak tempat bersilo, pegi tempat betanyo, balik tempat babarito,” demikian filosofi yang disampaikan Yusdi.
Selain kapasitas kepemimpinan, ia menekankan pentingnya menjaga independensi LAM Jambi dari kepentingan politik praktis maupun kelompok tertentu. Menurutnya, pemimpin adat harus mengemban amanah lembaga secara utuh, tanpa menjadikan organisasi adat sebagai alat untuk mencapai kepentingan sesaat.
Ia mengingatkan agar proses pemilihan pemimpin LAM Jambi tetap berpegang pada roh dan amanah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2014 tentang Lembaga Adat Melayu Jambi.
Yusdi juga mengingatkan bahaya sikap yang bertentangan dengan nilai kejujuran dan ketulusan dalam menjalankan amanah. Ia mengutip seloko Melayu, “telunjuk lurus kelingking bekait” dan “menggunting dalam lipatan” sebagai gambaran perilaku yang harus dihindari dalam kepemimpinan adat.
Baginya, menjaga eksistensi dan marwah LAM Jambi merupakan hal mendasar agar lembaga tersebut tetap independen serta tidak mengalami penyimpangan fungsi, baik saat ini maupun pada masa mendatang.
“Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi bukan sekadar wadah pelestarian tradisi, melainkan penguat moral dan pembangun karakter masyarakat Jambi yang berintegritas,” tegas Yusdi Anra.
Ia turut mengingatkan pentingnya mempertahankan prinsip “Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah” sebagai landasan kehidupan masyarakat Melayu Jambi. Prinsip tersebut, menurutnya, perlu terus dijaga agar adat tetap menjadi benteng moralitas sekaligus perekat persatuan masyarakat.
Menjelang pelaksanaan Mubes, Yusdi berharap seluruh pihak yang terlibat mengedepankan kebersamaan dan musyawarah dalam menentukan arah kepemimpinan LAM Jambi ke depan.
Ia menilai pemimpin adat tidak cukup hanya memiliki pengaruh, tetapi juga harus mampu merangkul seluruh elemen masyarakat, mendengarkan berbagai pandangan, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Menutup keterangannya, Yusdi berharap Mubes LAM Jambi pada Desember mendatang menghasilkan pemimpin yang mampu menjaga persatuan dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
“Sebagaimana seloko adat, ‘duduk sorang besempit-sempit, duduk basamo balapang-lapang’, pemimpin adat harus mengutamakan musyawarah untuk mufakat agar tercipta kondisi ‘negeri aman padi menjadi, aek bening ikannya jinak’ demi kemajuan dan ketenteraman Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah,” pungkasnya. (tdr)
Buron Kasus Perampokan Rp31 Juta di Pasar Angso Duo Jambi Ditangkap Polisi
Asari Syafii Soroti Aksi Anarko, Saat Gubernur dan Aparat Jibaku Padamkan Karhutla
Kebakaran Rumah di Rimbo Ulu Tewaskan Pemiliknya, Kerugian Ditaksir Rp250 Juta
Polres Muaro Jambi Gelar Subuh Keliling, Warga Diingatkan soal Kamtibmas hingga Karhutla
Rocky Candra Desak Pemprov Jambi Ajukan WPR, PETI di TNKS Jadi Sorotan
Festival Budaya Melayu Jambi di Teluk Rendah Pasar, Tradisi Lokal Jadi Ruang Pewarisan Generasi