jambione.com, Banjir melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Batanghari. Lima dari delapan Kecamatan telah terendam air. Tak hanya merendam pemukiman, banjir juga meluluh lantakkan ratusan hektar sawah warga. Akibatnya, padi yang sudah masak terancam gagal panen.
Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Batanghari telah memantau kondisi banjir sejak beberapa hari terakhir. Petugas melihat kondisi terkini areal pertanian terendam. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Hortikultura 8 November 2018, terdapat Lima Kecamatan yang areal pertanian, khususnya padi sudah terkena dampak banjir.
"Lima Kecamatan itu yakni Kecamatan Batin XXIV, Pemayung, Muara Tembesi, Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Muara Bulian," kata Kepala Seksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Hortikultura Batanghari, Andul Latif, kemarin (14/11).
Dari Lima Kecamatan tersebut, ada beberapa desa yang terkena dampak banjir cukup parah dan areal sawah terendam cukup luas. Diantaranya Desa Pasar Terusan, Kecamatan Muara Bulian seluas 50 hektar, Desa Karmeo, Kecamatan Batin XXIV seluas 30 hektar.
Selanjutnya Desa Rantau Kapas Mudo, Kecamatan Muara Tembesi masing-masing 30 hektar, Desa Empelu seluas 25 hektar dan Desa Rantau Tanjung Marwo seluas 15 hektar. "Rata-rata umur tanam padi pada usia 80 sampai 100 hari setelah tanam dengan total luas 210 hektare. Jumlah itu merupakan total areal sawah yang terendam di Batanghari. Umumnya yang terendam adalah lahan persawahan warga yang siap panen," terangnya.
Meski tanaman padi petani terendam banjir, ancaman puso masih cukup jauh dari harapan. Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Yuli Akhdanur mengatakan pihaknya masih menunggu beberapa hari kedepan. Sebab penentuan status puso adalah lima hari setelah terkena banjir.
"Kita akan lihat perkembangan hingga Kamis atau Jumat depan untuk menentukan status puso. Saat ini kita tidak bisa memprediksi tanaman padi terkena puso atau tidak. Kalau hujan masih terus terjadi bisa saja mengancam tanaman yang belum panen," katanya.
Dengan kondisi cuaca saat ini para petani terpaksa melakukan panen cepat. Selain memang padi cukup umur, panen dilakukan untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Kerinci. Puluhan hektar sawah yang siap panen dipastika puso. Bahkan, untuk menghindari terjadi puso, sebagian warga terpaksa panen dini padinya.
Seperti yang terjadi di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau. Air Danau Kerinci yang semakin besar menyebabkan luas sawah yang terkena banjir makin bertambah. "Pada Minggu lalu, air Danau semakin naik menyebabkan sawah warga terendam," ujar Izuddin.
Untuk menghindari agar tidak terjadi puso, banyak petani yang sibuk panen dini padi yang telah hampir masak. "Banyak petani panen awal. Mana yang bisa dilakukan pada lahannya masing-masing," ujarnya.
Tentunya hal tersebut menyebabkan petani mengeluarkan modal cukup besar. Begitu juga dengan tenaga. "Kita berharap, semoga para petani mendapatkan asuransi," katanya.
Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikutural kabupaten Kerinci hingga saat ini, sekitar 184 hektar lahan pertanian yang terendam banjir di tiga kecamatan dalam kabupaten Kerinci. Sedangkan lahan sawah yang telah ditanami padi terendam seluas 59 hektare.
Rinciannya, di Kecamatan Keliling Danau 45 hektare dan Koto Lanang 40 hektare. Lalu, Kayu Aho Mangkak, Kecamatan Depati Tujuh 40 hektare. ‘’Sementara desa yang lahan sawah banyak terendam yakni, di Desa Tanjung Pauh Hilir 30 Hektare, Ujung Pasir 15 hektare, Koto Tuo Ujung Pasir 10 hektar, Koto Petai 2 hektare dan Pendung Talang Genting," kata Imelda, Kasi Pertanian Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultural Kerinci.
Sedangkan lahan pertanian terkena puso puso dengan luasan 17 hektare. Yaitu di Desa Koto Lanang dan Kayu Aho Mangkak kecamatan Depati Tujuh.(fai/sau)