MUARASABAK –Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Tanjabtim pada Agustus ini merupakan yang terparah. Ini ditandai dengan semakin menebalnya kabut asap di wilayah Tanjabtim. Dari sejumlah Karhutla yang terjadi sepanjang Agustus tersebut, Kecamatan Sadu dan Dendang merupakan dua kecamatan yang paling banyak penyumbang asap.
Ini terungkap dari hasil rapat analisis dan evaluasi (Anev) Karhutla yang dipimpin Wabup Robby Nahliansyah dan Kapolres AKBP Agus Desri Sandi, kemarin (26/8). Sepanjang musim kemarau tahun ini, sebanyak 67 titik hotspot terpantau di Kabupaten Tanjabtim. 49 titik diantaranya terjadi sepanjang Agustus.
Sementara perkiraan luas lahan dan hutan yang terbakar hingga saat ini mencapai 488 hektar. Sebagian besar terjadi di Kecamatan Sadu dan Dendang. Luas lahan yang terbakar di Sadu mencapai 255 hektar. Sedangkan di Dendang sekitar 100 hektar.
Pada pertemuan yang dihadiri pihak perusahaan dan masyarakat pemilik lahan hingga 25 hektar lebih tersebut, Pemkab maupun Polres meminta peranan perusahaan turut serta membantu proses pemadaman. Apalagi sebagian besar karhutla di Tanjabtim bersinggungan dengan lahan milik perusahaan.
Namun pada saat dilakukan proses pemadaman, pihak tim gabungan selalu mengalami kesulitan yang sama. Yakni sulitnya mendapatkan sumber air. Sehingga tak jarang, proses pemadaman pun hanya mengandalkan water boombing.
“Lahan perkebunan milik perusahaan maupun masyarakat seharusnya sudah dilengkapi dengan sumber air. Seperti kanal dan embung. Itu sebenarnya sudah menjadi kewajiban perusahaan. Tapi kenyataannya di lapangan masih banyak perusahaan perkebunan yang mengabaikan hal ini,” kata Robby.
Bahkan pada pertemuan tersebut, terdapat salah satu perusahaan yang diduga terkesan menjaga lahannya, ketimbang membantu proses pemadaman. Padahal kebakaran lahan yang terjadi berada persis di dekat lahan perusahaan tersebut. Mengetahui hal ini Wabup tampak kecewa, dan langsung memerintahkan perusahaan tersebut membuat embung air dengan batas waktu dua hari kedepan.
“Saya kasih waktu selama dua hari. Nanti saya dan Kapolres akan langsung mengecek, apakah sudah ada atau belum,” tegasnya.
Dampak dari Karhutla tersebut, kualitas udara di tanjabtim kian memburuk. Meski masih berada dalam kategori tidak sehat, namun angka hasil pemantauan terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data pemantauan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Minggu (25/8), rata-rata kualitas udara di Kabupaten Tanjabtim berada diangka 111.89 ugram/m3. Angka ini naik dua kali lipat dibanding empat hari sebelumnya, dikisaran 55 hingga 60 ugram/m3.
“Rentang 55 hingga 150 ugram/m3 itu masih dalam kategori tidak sehat. Angka ini menunjukan peningkatan dibanding hari-hari sebelumnya,” ujar Agustin, Kepala DLH Kabupaten Tanjabtim.
Menurut dia, kualitas udara di Tanjabtim telah memasuki kategori tidak sehat sejak Rabu (21/8). Saat itu kualitas udara berada di rentang 55 hingga 60 ugram/m3. Dari hasil pemantauan pada Minggu (25/8), angka tersebut mengalami peningkatan dengan rata-rata per jam mencapai 111.89 ugram/m3.
“Hasil pemantauan kualitas udara ini telah diketahui OPD terkait, seperti Dinas Pendidikan dan Kesehatan untuk mengambil langkah-langkah strategis. Misalnya Dinas Pendidikan telah memperpanjang libur sekolah, sementara Dinas Kesehatan telah intens melakukan pembagian masker,” terangnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanjabtim Junaidi Rahmad, membenarkan adanya kebijakan memperpanjang libur sekolah dari tingkat PAUD, TK, dan siswa Kelas 5 SD. Hal ini menyusul adanya surat edaran dari DLH yang menyatakan bahwa kualitas udara di Kabupaten Tanjabtim semakin memburuk.
“Libur sekolah untuk tingkat PAUD, TK, dan SD hingga kelas 5 diperpanjang hingga 28 Agustus. Sebelumnya kebijakan serupa juga telah lakukan selama tiga hari sebelumnya yakni 22 hingga 24 Agustus,” ujar Junaidi.
Sementara Sekretaris Dinas Kesehatan Hendri mengakui, adanya peningkatan kasus Ispa meskipun tidak terlalu signifikan, yakni sekitar 20 persen. “Pada minggu pertama Agustus misalnya, tercatat kunjungan pasien Ispa mencapai 453 pasien. Angka ini kemudian bertambah pada minggu kedua menjadi 503 pasien,” kata Hendri.
Lalu, pada minggu ketiga terdapat penurunan kunjuan pasien Ispa dibanding minggu kedua.(zal)