Sama Sama Untung, Peluang Memenangkan Pertarungan Makin Kuat

Golkar-PDIP Berpotensi Koalisi

Kamis, 05 Maret 2020 - 07:45:04 WIB - Dibaca: 4440 kali

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi (ist/Jambione.com)

Jambione.com, JAMBI - Arah dukungan partai di Pemilihan Gubenur (Pilgub) Jambi, 23 September mendatang mulai terlihat. Sejauh ini, baru beberapa parpol menengah sudah jelas arah dukungannya. Seperti PPP yang memiliki 3 kursi dan PKS 5 kursi. PPP sebelumnya sudah mengeluarkan surat tugas ke Sy Fasha untuk mencari tambahan partai koalisi guna mencukupi syarat pencalonan 11 kursi di parlemen.

Teranyar, PKS tinggal memilih antara Syarif Fasha dan Al Haris. Kini hanya Wali Kota Jambi dan Bupati Merangin itu yang tengah ditimang timang akan dipilih. Keputusannya akhir Maret ini. Namun setidaknya partai berbasis dakwah ini sudah memberikan sinyalnya akan mengusung salah satu dari dua kandidat tersebut.

Sementara Golkar, sepertinya hampir dipastikan akan mengusung Cek Endra (CE) yang baru terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Provinsi Jambi dalam Musda, 29 Februari lalu. CE tinggal mencari tambahan 4 Kursi untuk memenuhi syarat mendaftar sebagai cagub. Ini artinya, Golkar harus cari teman koalisi. 

Lalu bagaimana dengan partai besar lainnya, seperti PDIP 9 kursi, Demokrat, PAN dan Gerindra yang sama-sama memiliki 7 kursi di DPRD Provinsi Jambi? Hingga kemarin, partai partai pemilik kursi mayoritas di DPRD Provinsi ini masih terkesan jago santing. Sementara ini, mereka masih mengklaim tetap menjagokan dan mengutamakan kader masing masing.

Namun, ini diyakini sejumlah pihak hanya untuk jaga imej sementara saja. Sebab, semua sudah tahu tiga partai elit itu  tidak punya kader potensial yang benar benar meyakinkan mampu bertarung dengan tiga kader Golkar, Syarif Fasha, Al Haris dan Cek Endra,  yang dari beberapa hasil survei, elektabilitasnya paling tinggi alias terkuat. Paling realistis, kader PDIP, Gerindra dan PAN hanya petensial untuk posisi wakil atau nomor 2.

PDIP misalnya, punya Safrial dan Abdullah Sani. Diantara dua nama ini, Safrial yang ngotot maju sebagai nomor 1. Sementara Sani mencalonkan diri sebagai wakil. Jika dipaksakan maju, Safrial diprediksi sulit bersaing jika tidak dipasangkan dengan wakil yang tepat.

Begitu juga dengan Sani yang katanya sudah mantap berpasangan dengan Al Haris. Kalaupun diusung, PDIP yang memiliki 9 kursi, tetap harus berkoalisi dengan partai lain untuk mencukupi syarat dukungan 11 kursi di parlemen. Masalahnya, partner untuk koalisi juga harus pas dan menguntungkan. Ini yang harus dihitung matang matang. Sebab, hingga saat ini Al Haris belum mendapatkan satu partai pun.

Dari bincang bincang dengan sejumlah mantan politisi, teman koalisi PDIP yang pas adalah Golkar. Potensi bergabungnya beringin dan banteng moncong putih ini bisa sama sama menguntungkan. Paling tidak, sementara ini Golkar sudah punya jagoan yang bisa diandalkan untuk diusungkan. Yaitu Cek Endra. Selain baru terpilih sebagai Ketua DPD I, CE juga punya kekuatan, baik massa maupun dari segi financial.

Kemudian, jika berhasil memenangkan pertarungan di Pilgub nanti, jelas PDIP diuntungkan. Selain bisa ‘nebeng’ sebagai penguasa (posisi wakil), kursi Bupati di Sarolangun yang ditinggalkan CE otomatis beralih ke tangan kader  banteng, Hillallatil Badri yang kini menjabat sebagai wakil bupati. ‘’ Yang jelas kalau koalisi dengan Golkar, PDIP untung dua kali,’’ kata salah seorang sumber diinternal PDIP.

Bahkan bisa untung tiga kali. Jika CE berpasangan Sukandar, tentu Bupati Tebo itu harus ada komitmen dengan PDIP. Paling tidak jika pasangan ini memenangkan pertarungan, posisi Bupati Tebo yang ditinggalkan Sukandar beralih ke tangan wakilnya yang merupakan orang PDIP.

‘’ Jika koalisi ini (Golkar-PDIP) mengusng CE-Sukandar, kejadiannya bisa seperti di Pilpres. Saat Gerindra mengusung dua kadernya Prabowo-Sandi. Salah satunya, Sandi keluar dari Gerindra. Ini bisa terjadi pada Sukandar. Tinggal bagaimana rundingan dan komitmenya saja. Dalam politik semua bisa terjadi,’’ kata sumber ini.

Sinyal ke arah bersatunya PDIP dengan Golkar juga sudah terlihat di lapangan. Dua hari lalu, Bupati Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) Safrial yang juga balongub PDIP bertemu dengan Cek Endra, yang baru  terpilih sebagai Ketua DPD I Golkar Provinsi Jambi. Safrial mengatakan, kedatangannya ke kediaman Cek Endra hanya bersilaturahmi. “Saya dengan Cek Endra sudah lama berteman baik dan lama,” ujarnya.

Safrial tidak mempermasalahkan ada yang mengkait kaitkan pertemuan itu ke wacana berduet di Pilgub nanti. Kata dia, sah-sah saja dalam komunikasi maupun penjajakan, karena politik sifatnya cair dan dinamis. “Kami juga belum bisa mengambil keputusan yang pasti. Nanti kita lihat Cek Endra sudah keluar rekomendasi partainya. Begitupun juga saya dari PDIP. Setelah itu baru kita bisa berkomunikasi lebih jauh,” katanya.

Sementara itu, Cek Endra mengatakan semoga kedatangan Safrial ini tetap menjaga jalinan hubungan baik selama ini. “Kemungkinan politik kita tidak bisa menebak. Karena beliau kader senior PDIP dan saya kader Golkar. Saya pikir ini dua kekuatan besar hadir pada hari ini, mudah-mudahan, do’akan saja. Kita lihat saja nanti,” katanya.

Wakil Sekretaris DPD PDIP Provinsi Jambi, Afriyoga Felmi mengatakan arah dukungan partainya saat ini masih dalam tahap proses. Soal koalisi, menurut dia, masih sangat terbuka dengan partai manapun. Termasuk dengan Golkar. Karena tidak ada satupun parpol yang bisa mengusung calon tanpa berkoalisi.

Mengenai pertemuan Safrial dengan CE di Sarolangun, apakah itu sinyal kedua partai akan berkoalisi? Kader PDIP yang biasa dipanggil Yoga ini mengatakan bisa saja. Namun, dia menegaskan saat ini  tetap saja menunggu keputusan DPP.  "Bisa saja berkoalisi dengan Golkar. Tapi kan semuanya tetap menunggu keputusan DPP," sebutnya. "Mudah-mudahan April nanti sudah ada hasilnya," tambahnya.

Sementara PAN, sampai kemarin juga masih tetap mendorong Ketua DPW nya H Bakri. 
Sekretaris DPW PAN Provinsi Jambi, Ahmad Khusaini mengatakan saat ini partainya hanya memiliki satu nama yang akan diusung di Pilgub Jambi 2020. Yaitu ketua DPW H. Bakri.

Khusairi yang saat dihubungi mengaku berada di luar kota mengatakan saat ini partainya sedang menunggu hasil survei kandidat. Survei tersebut diperkirakan akan selesai akhir Maret ini. "Hasilnya bukan untuk dipublikasikan, hanya untuk internal saja," katanya.

Lalu bagaimana jika survei H. Bakri rendah, apakah PAN tetap ngotot mengusung? Menurut Khusaini pihaknya akan menunggu DPP, karena semuanya tergantung instruksi DPP.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Unja, Dori Efendi mengatakan, saat ini partai yang sudah memperlihatkan dukungannya kepada balongub baru partai-partai tengah. "Itu pun baru sebatas dukungan politik. Belum berani menjadi partai pengusung. Seperti PPP dan PKS," katanya.

Menurutnya, partai-partai besar, seperti PDIP, Golkar, Demokrat, Gerindra dan PAN dukunganya pasti akan diberikan ke kader mereka sendiri. Sebagai partai besar, tentu mereka tidak mau hanya menjadi penonton di perebutan BH 1 mendatang. "Golkar, PAN, Demokrat, PDI-P dan Gerindra tentu mempersiapkan kader mereka untuk posisi satu atau dua," jelasnya.

Dia memprediksi, partai partai besar tersebut juga tengah memantau perkembangan kandidat. Lalu, melihat peluang koalisi yang menguntungkan bagi partai. ‘’ Yang jelas, kalaupun koalisi, mereka tentu akan melilih teman yang bisa menguntungkan. Paling tidak kadernya bisa diutamakan. Bisa nomor satu atau 2,’’ pungkasnya.(fey/kum) 





BERITA BERIKUTNYA