Anaknya ‘Ketangkap’ Main Hp Saat Ujian

Wali Murid Serang Kepala Sekolah

Sabtu, 07 Maret 2020 - 08:35:44 WIB - Dibaca: 2199 kali

(ist/Jambione.com)

Jambione.com, KUALATUNGKAL- Kasus kekerasan kepada tenaga pendidik (guru) kembali terjadi. Kali ini korbannya adalah Kepala SMA N 10 Tanjung Jabung (Tanjab) Barat, Lasemen.  Dia diserang oleh orang tua siswa (wali murid) lantaran menegur seorang siswanya yang bermain hanphone (Hp) saat jam ujian. Penyerangan itu terjadi, Rabu (4/3) siang lalu di lingkungan SMA N 10 Tanjab Barat.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, kasus penyerangan ini berawal saat siswa SMAN 10 Tanjab Barat melaksanakan ujian.  Sebelum ujian berlangsung, guru pengawas meminta para siswa meninggalkan semua peralatan, buku, tas dan handphone (hp) di luar kelas. Kemudian, saat ujian berlangsung, salah seorang siswa izin keluar kelas.

Tanpa diketahui guru pengawas, rupanya siswa tersebut diam diam  mengambil HP. Lalu,

Dia memainkan Hp tersebut di dekat toilet. Namkun, tanpa diduga, ulah siswa tersebut kepergok sang Kepala sekolah, Lasemen yang tengah mengecek situasi ujian. Melihat ulah siswa tersebut, Lasemen pun langsung menegur dan menyita handphone siswanya itu. Ketika itu, Lasemen juga berpesan kepada siswanya itu, jika mau mengambil hp harus bersama orang tuanya ke sekolah.

Sore harinya, orang tua siswa tersebut memang datang ke sekolah. Bukannya membicarakan masalah anaknya dengan cara baik baik, tapi malah marah marah. Kabarnya, orang tua siswa itu juga membawa senjata api (senpi). Bahkan informasinya sempat ada ledakan di luar sekolah. Namun, belum diketahui apakah ledakan itu dari senjata api orang tua siswa tersebut atau dari sumber lain.

Mengetahui ada ribut ribut di kantor guru, Kepala Sekolah Lasemen dan wakil kepala sekolah bidang ke siswaan keluar. Lasemen langsung diserang orang tua siswa tersebut dengan batako yang ada di depan kator guru. Tidak hanya itu, orang tua siswa tersebut juga sempat melayangkan pukulan dengan tongkat Pramuka ke arah kepsek.

Namun, beruntung lemparan batako dan pukulan tongkat Pramuka tersebut tidak mengenai kepala sekolah. Sebelum penyerangan makin brutal, keributan itu langsung dilerai waka kesiswaan.

Tidak selesai di situ,‎ malam harinya orang tua siswa itu datang lagi ke sekolah mencari kepala sekolah. Tapi tidak berhasil, karena sang kepala sekolah sudah disembunyikan di salah satu rumah guru.

Tidak terima dengan kejadian itu, keesokan harinya, Kamis, Lasemen melapor kepada  Kepala Desa Bukit Harapan, Kecamatan Merlung untuk minta perlindungan. Itu dia lakukan karena merasa terancam. Informasinya, Kades setempat sudah berupaya melakukan mediasi uhntuk mendamaikan kedua belah pihak. Namun, tidak ada titik temu. 

Kemudian, Lasemen juga melaporkan kejadian penyerangan tersebut ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jambi. Sampai kemarin, belum diketahui identitas siswa dan orang tuanya yang melakukan penyerangan tersebut. Informasi yang beradar menyebutkan, orang tua siswa itu bekerja sebagai sopir muatan kayu di salah satu perusahaan di Tanjab Barat.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 10 Tanjab Barat, Lasemen ketika dikonfirmasi tak mau berkomentar banyak. Ia hanya mengatakan untuk informasi sistem satu pintu saja.  "Satu pintu saja (penyidik kepolisian),"katanya, saat ditemui usai membuat laporan polisi di Polres Tanjab Barat, Jum'at (6/3) kemarin, sekitar pukul 17.30 Wib.

Wakapolres Tanjab Barat Kompol Wirmanto membenarkan ada laporan penyerangan terhadap Kepala SMAN10 Tanjab Barat. Dia juga mengatakan sudah ada pertemuan dengan pihak yang bersangkutan dan keterwakilan PGRI di Mapolres Tanjab Barat. "Iya, sudah ada laporan. Tadi kita juga sudah bertemu dengan PGRI,"katanya.

Pantauan ‎di Polres Tanjab Barat sore kemarin, sejumlah guru dari berbagai sekolah yang tergabung dalam PGRI mendampingi Lasemen membuat laporan polisi dan konsultasi mengenai kasus penyerangan itu.  Namun, tidak satupun diantara mereka mau berkomentar.

Terpisah, Kepala Desa Bukit Harapan, Kecamatan Merlung, Yusuf ketika dikonfirmasi mengaku telah memediasi kedua belah pihak.  Namun tidak menemui kesepakatan. Karena keterbatasan wewenangnya, maka dia menyerahkan ke Dinas Pendidikan atau polisi. "Kita sudah uapayakan mediasi. Tapi tidak ada titik terangnya. Ya udah, kita serahkan ke pihak berwenang,"katanya. (son)





BERITA BERIKUTNYA