Penulis: Ramsaulina sinaga (Mahasiswa Fakultas hukum,Universitas Jambi)

Ketidaksetaraan Gender dalam Budaya Batak

Sabtu, 11 Maret 2023 - 11:48:29 WIB - Dibaca: 14655 kali

Ramsaulina sinaga (Mahasiswa Fakultas hukum,Universitas Jambi)
Ramsaulina sinaga (Mahasiswa Fakultas hukum,Universitas Jambi) (Pribadi Penulis)

Gender muncul akibat pengaruh sosial budaya dari  kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat setempat. Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dapat disebabkan beberapa hal yaitu:seperti sosialisasi,budaya yang berlaku serta kebiasaan yang ada. Gender tentu berbeda dengan seks,seks merupakan biologis antara laki-laki dan perempuan dan bersifat alamiah. 

sedangkan gender adalah hasil prilaku atau hasil konstruksi sosial,perempuan dilihat dari kacamata gender sebagai mahluk yang lemah dan perlu mendapat perlindungan. laki-laki dipandang sebagai mahluk yang kuat dan perkasa sehingga perlu melakukan perlindungan terhadap perempuan.

konstruksi ini dibentuk oleh ideologi patriarki.Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi.

Begitu juga dengan budaya batak, masyarakat batak terkenal dengan budayanya yang patrilineal serta adat-istiadatnya yang masih kental dan masih berlangsung sampai saat ini. Dalam budaya batak laki-laki dianggap paling penting dalam setiap aspek kehidupan,hal inilah yang membuat kesenjangan gender dalam masyarakat.

Laki-laki dalam budaya batak selalu mendomonasi sedangkan perempuan selalu berada dibawah laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari garis keturunan yang sering disebut dengan marga,yang hanya diwariskan kepada laki-laki,jadi apabila dalam keluarga memiliki anak perempuan,maka garis keturunannya akan berheti pada anak perempouan tersebut.dengan kata lain tidak aka nada penerus.apapun keputusan laki-laki biasanya dalam masyarakat batak hal tersebut harus diikuti oleh perempuan.

Dalam budaya batak biasanya anak laki-laki yang diprioritaskan,misalakan dalam hal Pendidikan,pasti anak laki-laki yang lebih diperhatikan dan diharapka untuk menempuh Pendidikan yang lebih tinggi dengan alasan suatu saat nanti laki-laki akan menjadi peminpin dalam keluarga. Sedangkan anak perempuan biasanya tidak diberikan Pendidikan yang lebih tinggi dari laki-laki karena menganggap “ untuk apa di sekolahkan tinggi-tinggi ,toh ujung-ujungnya didapur." Selain sebagai penerus keturunan dan yang selalu memjadi prioritas dalam hal pembaguian harta waris dalam budaya batak juga biasanya diberikan kepada anak laki-laki bahkkan lebih banyak,sedangkan anak perempuan mendapat warisan yang lebih sedikit.bahkan sering kali tidak mendapatkan sama sekali dari warisan orang tua.hal ini tentu adalah diskriminasi terhadap anak perempuan yang dapat menimbulkan keributan dan ketidakadilan dalam hak berwarga negara dikarenakan dalam hukum Indonesia,tidak ada sama sekali yang menyatakan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan.bahkan dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 1 yang menyatakan kesetaraan diantara warga negara tanpa memandang gender.***





BERITA BERIKUTNYA