Perubahan Iklim Menghadang Suku Talang Mamak di Ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi

Rabu, 30 Agustus 2023 - 08:44:37 WIB - Dibaca: 2966 kali

Perubahan Iklim Menghadang Suku Talang Mamak di Ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi
Perubahan Iklim Menghadang Suku Talang Mamak di Ekosistem Bukit Tigapuluh, Jambi (jambiprima.com)

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI- Komunitas adat Suku Talang Mamak yang menetap di ekosistem Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, kini menghadapi dampak serius akibat perubahan iklim. Gejala cuaca yang tidak stabil membayangi produktivitas dan kesejahteraan masyarakat yang masih mengandalkan hasil hutan dan pertanian tradisional.

Kindo, tokoh adat dari Komunitas Talang Mamak, berbicara dalam sebuah talkshow yang diadakan oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jambi, mengungkapkan bahwa iklim di wilayah adat Talang Mamak telah mulai berubah, walaupun tidak seintensif di daerah perkotaan. Bagi Suku Talang Mamak, hutan adalah sumber kehidupan utama mereka. Mereka masih menjalankan tradisi menanam padi ladang secara konvensional dan menanam sayuran seperti pisang, terong, cabai, dan sayur-sayuran lainnya. Mereka juga mengumpulkan jernang di hutan sebagai sumber penghidupan.

Helen dari KKI WARSI (Kelompok Kerja Indigenous Peoples) mengungkapkan bahwa perubahan iklim memiliki dampak signifikan pada kehidupan masyarakat adat Talang Mamak. Hutan merupakan mata pencaharian mereka, dan tradisi "besiap" (berpindah) dalam mencari tanaman hutan untuk penghidupan menjadi terpengaruh. Masyarakat Talang Mamak memiliki pengetahuan lokal dalam menjaga hutan dan mengembalikannya ke keadaan semula setelah dibuka untuk pertanian.

Wilayah hutan di ekosistem Bukit Tigapuluh memiliki makna khusus bagi Suku Talang Mamak. Beberapa wilayah hutan dianggap sebagai tempat roh leluhur, tempat roh jahat, atau digunakan untuk berladang. Mereka juga mengkategorikan hutan berdasarkan fungsi dan makna spiritual.

Perubahan iklim menyebabkan pergeseran dalam pola berladang dan waktu panen bagi Suku Talang Mamak. Produktivitas sialang (lebah penghasil madu) menurun karena madu berasal dari bunga di hutan. Panen buah tahunan seperti durian dan jernang tidak lagi dapat diprediksi dengan pasti. Produktivitas karet dan padi juga menurun akibat cuaca dan penyakit.

Banyak pihak memberikan dukungan kepada Suku Talang Mamak, termasuk KKI WARSI dan PT Alam Bukit Tigapuluh (ABT), untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Dukungan ini meliputi sosialisasi, akses ke layanan kesehatan dan pendidikan, serta pelatihan untuk diversifikasi mata pencaharian dan pertanian.

Nety Riana dari PT ABT menyatakan bahwa perusahaan tersebut berupaya menjadi solusi bagi masyarakat adat Talang Mamak yang bergantung pada hasil hutan. Misi PT ABT adalah mengembalikan fungsi hutan seperti semula. Dukungan berupa layanan kesehatan bulanan, pendidikan, dan bantuan untuk komunitas serta upaya melestarikan hutan menjadi bagian dari upaya PT ABT dalam mendukung komunitas adat.

Perubahan iklim bukan hanya mengancam kehidupan Suku Talang Mamak, tetapi juga berdampak pada stabilitas ekosistem dan kesejahteraan umum. Upaya bersama dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat adat, maupun sektor swasta, menjadi penting dalam menjaga kelangsungan kehidupan dan keberlanjutan ekosistem di Bukit Tigapuluh.**





BERITA BERIKUTNYA