Ketergantungan Komoditas Masih Dominasi Ekonomi Jambi, Petani Hadapi Ketidakpastian Harga

Senin, 20 April 2026 - 13:34:18 WIB - Dibaca: 102 kali

Tampak Tumpukan Sawit Salah Satu Komoditas Di Bungo
Tampak Tumpukan Sawit Salah Satu Komoditas Di Bungo (Rahim)

JAMBIPRIMA.COM, BUNGO - Ketergantungan terhadap sektor komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan pertambangan masih menjadi ciri utama struktur ekonomi di Provinsi Jambi. Kondisi ini dinilai memberikan dampak ganda: mendorong pertumbuhan saat harga global meningkat, namun sekaligus menciptakan kerentanan ekonomi ketika harga mengalami penurunan.

Berdasarkan penelusuran lapangan di Dusun Kuamang Jaya, Kabupaten Bungo, sebagian besar masyarakat masih menggantungkan penghidupan pada sektor perkebunan, khususnya karet dan kelapa sawit.

Seorang petani karet, Syukur, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga menjadi persoalan utama yang dihadapi.

“Kalau harga turun, kami tidak bisa apa-apa. Mau berhenti juga tidak bisa,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Ranto, petani kelapa sawit di wilayah yang sama. Ia menyebut bahwa petani tidak memiliki kendali terhadap harga jual.

“Harga ditentukan pabrik. Kami harus jual cepat, tidak bisa menunggu,” katanya.

Penurunan harga komoditas di pasar global berdampak langsung pada pendapatan masyarakat. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga memengaruhi aktivitas ekonomi di tingkat lokal.

Sejumlah pedagang di pasar tradisional mengaku mengalami penurunan jumlah pembeli ketika harga komoditas melemah. Hal ini menunjukkan adanya penurunan daya beli masyarakat sebagai efek lanjutan dari turunnya pendapatan petani.

Selain itu, ketimpangan ekonomi juga menjadi perhatian. Pelaku usaha skala besar dinilai memiliki kemampuan lebih untuk bertahan dalam kondisi harga rendah, sementara petani kecil cenderung lebih rentan.

Meskipun kenaikan harga komoditas dapat meningkatkan aktivitas ekonomi, manfaatnya tidak selalu dirasakan secara merata. Petani mengaku kenaikan harga tidak sepenuhnya berdampak signifikan terhadap pendapatan mereka.

Fenomena ini mengindikasikan adanya ketimpangan dalam rantai distribusi komoditas, di mana petani berada pada posisi paling lemah dengan akses terbatas terhadap pasar.

Pengamat ekonomi menilai bahwa permasalahan utama tidak hanya terletak pada fluktuasi harga, tetapi juga pada struktur ekonomi yang masih bersifat ekstraktif.

Dalam sistem ini, komoditas umumnya dijual dalam bentuk mentah dengan nilai tambah yang rendah. Akibatnya, keuntungan yang dihasilkan tidak sepenuhnya dinikmati di tingkat lokal.

Selain itu, harga komoditas sangat dipengaruhi oleh faktor global, seperti permintaan internasional dan kebijakan perdagangan, yang berada di luar kendali pemerintah daerah.

Pemerintah daerah telah mendorong berbagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas, antara lain melalui hilirisasi industri, pengembangan UMKM, serta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Namun demikian, implementasi kebijakan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur, belum meratanya investasi, serta kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ketergantungan terhadap komoditas masih menjadi faktor dominan dalam perekonomian Jambi. Kondisi ini menempatkan masyarakat, khususnya petani kecil, dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga global.

Diperlukan langkah strategis yang berkelanjutan untuk mendorong diversifikasi ekonomi dan memperkuat posisi pelaku usaha kecil agar tercipta pertumbuhan yang lebih stabil dan merata di masa mendatang. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA