Upacara Bendera Jadi Ruang Edukasi Karakter, Polisi Masuk Sekolah Tekan Kenakalan Remaja di Jambi

Selasa, 28 April 2026 - 10:26:29 WIB - Dibaca: 64 kali

Personel Polresta Jambi bersama pihak sekolah berfoto usai pelaksanaan upacara bendera dan penyuluhan di SMA Negeri 2 Kota Jambi, Senin (27/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan kepada pelajar terkait bahaya kenakalan remaja serta penguatan karakter dan kesadaran hukum di lingkungan pendidikan.
Personel Polresta Jambi bersama pihak sekolah berfoto usai pelaksanaan upacara bendera dan penyuluhan di SMA Negeri 2 Kota Jambi, Senin (27/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan kepada pelajar terkait bahaya kenakalan remaja serta penguatan karakter dan kesadaran hukum di lingkungan pendidikan. (Subahan)

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Upaya membangun karakter pelajar terus diperkuat lewat kolaborasi antara sekolah dan aparat penegak hukum. Di SMA Negeri 2 Kota Jambi, momentum upacara bendera dimanfaatkan tidak sekadar sebagai rutinitas, tetapi juga ruang edukasi untuk menanamkan nilai disiplin, hukum, dan moral kepada generasi muda, Senin (27/04/2026).

Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari Polresta Jambi, di mana Ps. Kanit Bintibsos Satbinmas, Iptu Wan Muhammad, bertindak sebagai inspektur upacara. Kehadiran aparat kepolisian di lingkungan sekolah menjadi bagian dari pendekatan persuasif yang kini semakin ditekankan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam menghadapi tantangan kenakalan remaja.

Dalam amanatnya di hadapan ratusan siswa, guru, dan kepala sekolah, Iptu Wan Muhammad tidak hanya menyampaikan pesan normatif, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai berbagai bentuk perilaku menyimpang yang kerap terjadi di kalangan pelajar. Mulai dari tawuran, geng motor, balap liar, hingga bullying dan penyalahgunaan narkoba menjadi sorotan serius yang dinilai dapat merusak masa depan generasi muda.

Pendekatan edukatif seperti ini dinilai relevan dengan kondisi saat ini, di mana sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pembentukan karakter. Pengaruh lingkungan sosial, media digital, dan pergaulan bebas menuntut adanya intervensi yang lebih luas, termasuk dari institusi seperti kepolisian.

Program pembinaan yang dilakukan oleh Satbinmas ini juga memperlihatkan adanya pergeseran paradigma dalam pendidikan karakter—bahwa penanaman nilai tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap pekan pun dimanfaatkan sebagai media strategis untuk menyampaikan pesan-pesan penting secara langsung dan terstruktur.

Iptu Wan Muhammad menegaskan bahwa masa remaja merupakan fase krusial yang menentukan arah masa depan seseorang. Dalam fase ini, kemampuan menyaring informasi dan memilih lingkungan pergaulan menjadi kunci utama agar pelajar tidak terjerumus ke dalam perilaku negatif.

”Jangan sia-siakan masa depan yang cerah hanya karena tindakan sesaat yang didasari emosi atau pengaruh teman. Jadilah pelajar yang cerdas, berkarakter, dan taat hukum ,” tutupnya.

Dari perspektif pendidikan, kegiatan ini menjadi refleksi bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Nilai-nilai kehidupan, kesadaran hukum, serta pembentukan karakter justru seringkali lebih efektif disampaikan melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan pihak luar.

Kolaborasi seperti ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga membentuk pelajar yang memiliki integritas, tanggung jawab sosial, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman. (San)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA