Empat Jam dari Pedalaman Hutan, Begaya Datang Daftar ke SMAN 3 Tebo

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:53:35 WIB - Dibaca: 65 kali

Anak komunitas Suku Anak Dalam, Begaya saat mendaftar di SMAN 3 Tebo.
Anak komunitas Suku Anak Dalam, Begaya saat mendaftar di SMAN 3 Tebo. (Syahrial)

JAMBIPRIMA.COM, TEBO – Semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ditunjukkan Begaya, seorang pelajar dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Tebo. Begaya resmi mendaftarkan diri ke SMAN 3 Tebo melalui jalur afirmasi pada Selasa (9/6/2026).

Didampingi ayahnya, Jam, Begaya datang langsung ke sekolah untuk mengikuti proses pendaftaran secara online sekaligus melengkapi berbagai persyaratan yang diperlukan.

Usai melakukan pendaftaran, Begaya mengaku bersyukur proses yang dijalaninya berjalan lancar dengan bantuan panitia penerimaan peserta didik baru.

"Sudah daftar bang, tadi dibantu oleh panitia pendaftaran," kata Begaya.

Begaya merupakan lulusan SMPN 14 Muara Tabir. Ia berasal dari kelompok Temenggung Ngadap yang bermukim di kawasan Makekal Ulu, wilayah Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo.

Keputusannya memilih SMAN 3 Tebo didasari keinginan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Ia menilai sekolah tersebut memiliki kualitas pendidikan dan prestasi yang baik sehingga dapat membantunya meraih cita-cita di masa depan.

Langkah Begaya mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Meski harus menempuh jarak yang cukup jauh dari permukiman Orang Rimba menuju sekolah, keluarganya tetap berupaya memberikan kesempatan agar ia dapat melanjutkan pendidikan.

Ayah Begaya, Jam, mengaku sempat merasa berat melepas anaknya bersekolah jauh dari rumah. Perjalanan dari kawasan tempat tinggal mereka menuju SMAN 3 Tebo diperkirakan memakan waktu sekitar empat jam menggunakan sepeda motor dengan kondisi jalan yang tidak selalu baik.

Namun, kekhawatiran tersebut sedikit berkurang setelah mendapat dukungan dari pendamping komunitas Orang Rimba yang akan membantu mengawasi dan mendampingi Begaya selama menjalani pendidikan di Tebo.

"Saya sudah koordinasi dengan pendamping kami dari Yayasan Orang Rimba (ORIK). Alhamdulillah mereka akan membantu mengurus anak saya selama sekolah di Tebo, jadi saya tidak terlalu khawatir lagi," ujar Jam.

Ia berharap putranya dapat lolos seleksi dan diterima di SMAN 3 Tebo. Menurutnya, pendidikan menjadi jalan penting bagi anak-anak Orang Rimba untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

"Cukup saya yang bodoh karena tidak sekolah. Jangan sampai anak saya juga bodoh karena saya tidak mengizinkan dia sekolah jauh-jauh. Semoga anak saya diterima dan mampu mengikuti semua aturan serta pendidikan di sekolah itu," ucap Jam penuh harap.

Kisah Begaya menjadi gambaran kuat bahwa semangat menuntut ilmu tidak mengenal batas wilayah maupun latar belakang. Dukungan keluarga, lembaga pendamping, dan akses pendidikan yang inklusif diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi generasi muda Orang Rimba untuk meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik. (Syh)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA