PKS Soroti Narasi BEM Psikologi UI soal Homoseksualitas, Minta Kampus Hadirkan Kajian Berimbang

Kamis, 02 Juli 2026 - 13:49:23 WIB - Dibaca: 189 kali

etua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Eko Yuliarti Siroj, menyampaikan pandangannya terkait narasi BEM Fakultas Psikologi UI mengenai homoseksualitas di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
etua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Eko Yuliarti Siroj, menyampaikan pandangannya terkait narasi BEM Fakultas Psikologi UI mengenai homoseksualitas di Jakarta, Rabu (1/7/2026). (Humas PKS)

JAMBIPRIMA.COM, JAKARTA – Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Eko Yuliarti Siroj, menyampaikan keprihatinan terhadap narasi yang disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) terkait homoseksualitas yang dinilai sebagai sesuatu yang normal dan bukan penyimpangan.

Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (1/7/2026), Eko menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan kajian ilmiah yang objektif, komprehensif, dan bertanggung jawab. Menurutnya, isu yang berkaitan dengan manusia, keluarga, dan masa depan peradaban tidak seharusnya dipahami hanya dari satu sudut pandang.

Eko mengatakan, sebagai seorang muslim, dirinya meyakini bahwa nilai-nilai kehidupan tidak semata ditentukan oleh kesepakatan manusia yang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Ia menegaskan, pandangan tersebut juga harus berpijak pada ajaran agama yang diyakini sebagai pedoman hidup.

Ia menambahkan, kebebasan akademik tetap harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan intelektual. Karena itu, setiap materi atau narasi yang disampaikan kepada publik, terutama oleh institusi pendidikan tinggi, dinilai perlu memberikan ruang bagi beragam perspektif, mulai dari agama, budaya Indonesia, kesehatan masyarakat, hingga dampaknya terhadap ketahanan keluarga.

Eko juga menyinggung sejumlah hasil penelitian di bidang kesehatan masyarakat. Menurutnya, data epidemiologi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi HIV dan beberapa penyakit menular seksual dibandingkan populasi umum. Ia menilai fakta tersebut perlu menjadi bagian dari pembahasan dalam penyusunan materi edukasi.

Selain aspek kesehatan, Eko mendorong kalangan akademisi untuk mengkaji persoalan orientasi seksual secara lebih menyeluruh. Menurutnya, pembahasan tidak cukup hanya dari sisi penerimaan sosial, tetapi juga perlu mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, budaya, nilai-nilai agama, serta pembangunan ketahanan keluarga.

"Kampus memiliki tanggung jawab besar dalam membangun tradisi berpikir kritis. Karena itu, setiap isu yang sensitif hendaknya dikaji secara utuh, menghadirkan berbagai perspektif ilmiah, sosial, budaya, hukum, dan agama, sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman yang seimbang dan tidak parsial," katanya. (Rhm)





BERITA BERIKUTNYA