Petani HKTI Jambi Diminta Jadi Garda Terdepan Cegah Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:04:51 WIB - Dibaca: 44 kali

Ketua DPD HKTI Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH), bersama para petani saat berdiskusi terkait upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Foto: Rahim
Ketua DPD HKTI Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH), bersama para petani saat berdiskusi terkait upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi sekaligus Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM, meminta petani yang tergabung dalam HKTI menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal itu disampaikan Sutan Adil Hendra, yang akrab disapa SAH, pada 26 Agustus 2026. Menurutnya, petani memiliki posisi strategis karena berada langsung di kawasan pertanian dan perkebunan sehingga menjadi salah satu pihak yang paling cepat mengetahui kondisi lahan dan potensi munculnya titik api.

“Petani HKTI harus menjadi garda terdepan menghadapi karhutla. Pencegahan harus dimulai dari tingkat tapak, karena petanilah yang paling dekat dengan lahan dan paling cepat mengetahui jika muncul titik api,” ujar SAH.

Ia menilai, peran petani tidak sebatas sebagai penggerak produksi pangan, tetapi juga mencakup tanggung jawab menjaga lahan dan lingkungan dari ancaman kebakaran.

SAH juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, upaya pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika kebakaran sudah meluas.

Untuk memperkuat pencegahan, ia meminta jajaran HKTI di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat, kelompok tani serta masyarakat desa.

“HKTI harus hadir sebagai mitra pemerintah. Kita dorong petani untuk aktif melakukan deteksi dini, melaporkan potensi kebakaran dan mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara yang berisiko menimbulkan api,” katanya.

Menurut SAH, dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Asap yang ditimbulkan juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, kegiatan ekonomi, transportasi hingga produktivitas pertanian.

Karena itu, ia mengajak petani menjadikan pencegahan karhutla sebagai bagian dari budaya bertani yang berkelanjutan.

“Menjaga lahan dari kebakaran berarti menjaga sumber penghidupan petani, menjaga kesehatan masyarakat dan menjaga masa depan pertanian Jambi,” tegasnya.

SAH berharap sinergi dan semangat gotong royong antara petani, pemerintah, aparat dan masyarakat terus diperkuat. Menurutnya, karhutla bukan hanya persoalan ketika api telah muncul, tetapi merupakan ancaman yang harus dicegah sejak dini melalui kesadaran dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.

“Petani bukan hanya produsen pangan, tetapi juga penjaga lingkungan. Karena itu, petani HKTI harus tampil sebagai contoh dalam menjaga lahan, mencegah kebakaran dan memastikan Jambi tetap aman dari ancaman karhutla,” pungkasnya. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA