Setetes Darah untuk Sesama, Gerakan Kampung Donor Darah PMI Jambi Terus Diperluas

Senin, 07 September 2026 - 12:39:26 WIB - Dibaca: 47 kali

Gita Nopalian Eka Putra, Ketua Kampung Donor Darah PMI Kota Jambi. Foto: Rahim
Gita Nopalian Eka Putra, Ketua Kampung Donor Darah PMI Kota Jambi. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Kebutuhan darah bagi pasien di rumah sakit tidak mengenal waktu. Ketika stok darah dibutuhkan, keluarga pasien kerap harus bergerak cepat untuk mencari pendonor maupun memastikan proses administrasi dapat dilakukan. Persoalan inilah yang menjadi salah satu alasan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jambi mengembangkan Program Kampung Donor Darah di tengah masyarakat.

Program yang mulai digagas sejak 2022 tersebut mulai dilaksanakan pada 2023. Kehadirannya tidak sekadar menjadi wadah untuk mengajak masyarakat mendonorkan darah, tetapi juga diarahkan sebagai sarana edukasi agar warga memahami pentingnya donor darah sekaligus mengetahui mekanisme memperoleh darah ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan.

Ketua Kampung Donor Darah PMI Kota Jambi, Gita Nopalian Eka Putra, mengatakan program tersebut terus diperluas. Hingga Senin (7/9/2026), Kampung Donor Darah telah terbentuk di 26 kelurahan yang tersebar di 11 kecamatan di Kota Jambi.

"Hingga saat ini, Kampung Donor Darah telah terbentuk di 26 kelurahan yang tersebar di 11 kecamatan di Kota Jambi," kata Nopalian, Senin (7/9/2026).

Berangkat dari Persoalan Keluarga Pasien

Bagi keluarga pasien, kebutuhan darah dapat menjadi persoalan tersendiri. Selain harus menghadapi kondisi anggota keluarga yang sedang menjalani perawatan, mereka terkadang juga dihadapkan pada kebutuhan mencari pendonor serta memahami prosedur untuk mendapatkan darah.

Kampung Donor Darah hadir untuk memperpendek jarak antara masyarakat dengan informasi mengenai donor darah.

Menurut Nopalian, program tersebut lahir dari persoalan yang sering dihadapi keluarga pasien ketika membutuhkan darah. Karena itu, PMI tidak hanya mendorong warga menjadi pendonor, tetapi juga membangun pemahaman mengenai bagaimana sistem pelayanan darah bekerja.

Edukasi menjadi bagian penting karena masyarakat perlu mengetahui bahwa kebutuhan darah tidak berhenti pada tersedianya pendonor. Ada prosedur yang harus dilalui, termasuk administrasi dan komunikasi dengan pihak PMI maupun rumah sakit.

Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi kebingungan ketika menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan transfusi darah.

Tidak Cukup Hanya Membentuk Kampung

Perluasan Kampung Donor Darah menjadi langkah penting. Namun, membentuk kampung donor ternyata bukan akhir dari pekerjaan PMI Kota Jambi.

Dari 26 kelurahan yang telah memiliki Kampung Donor Darah, PMI mencatat baru sekitar 30 persen yang secara rutin menjalankan kegiatan donor darah.

Angka tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan besar untuk menjaga agar gerakan donor darah tidak berhenti setelah sebuah kampung ditetapkan sebagai Kampung Donor Darah.

Kegiatan donor yang dilakukan secara rutin menjadi penting karena kebutuhan darah juga berlangsung secara terus-menerus. Tanpa kesinambungan pendonor, keberadaan kampung donor belum sepenuhnya mampu menjadi penopang kebutuhan darah masyarakat.

Karena itu, PMI Kota Jambi terus melakukan edukasi kepada kampung-kampung yang belum aktif. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa donor darah bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan bentuk kepedulian sosial yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Membangun Kesadaran dari Lingkungan Terdekat

Konsep Kampung Donor Darah pada dasarnya membawa kegiatan kemanusiaan lebih dekat dengan kehidupan warga. Masyarakat tidak hanya menjadi objek yang diminta untuk berdonor, tetapi juga diberikan pengetahuan mengenai manfaat dan mekanisme donor darah.

Lingkungan kelurahan menjadi ruang yang strategis untuk membangun kebiasaan tersebut. Ketika warga saling mengenal dan memiliki komunikasi yang baik, informasi mengenai kegiatan donor maupun kebutuhan darah dapat lebih mudah disebarluaskan.

Di sisi lain, edukasi mengenai prosedur mendapatkan darah juga dapat membantu keluarga pasien mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi kebutuhan transfusi.

Setiap rumah sakit dapat memiliki mekanisme administrasi yang berbeda. Kondisi tersebut membuat komunikasi dengan PMI dan pemahaman terhadap prosedur menjadi hal yang tidak kalah penting dibanding keberadaan pendonor.

Menjaga Semangat Donor Tetap Berkelanjutan

Tantangan berikutnya adalah menjaga semangat warga agar donor darah dilakukan secara berkelanjutan.

Kampung yang sudah terbentuk perlu terus dihidupkan melalui kegiatan dan edukasi. Sebab, tanpa aktivitas rutin, Kampung Donor Darah berisiko hanya menjadi sebuah nama tanpa gerakan yang nyata.

Bagi PMI Kota Jambi, keberlanjutan menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab bersama. Pemerintah di tingkat kelurahan, pengurus lingkungan, komunitas, serta masyarakat dapat mengambil peran untuk menjaga kegiatan donor tetap berjalan.

Perluasan program ke 26 kelurahan menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap aksi kemanusiaan tersebut memiliki ruang untuk terus tumbuh. Namun, capaian tersebut perlu diikuti dengan peningkatan jumlah kampung yang aktif melakukan donor.

Pada akhirnya, Kampung Donor Darah bukan hanya berbicara tentang setetes darah yang disumbangkan. Di baliknya terdapat upaya membangun sistem kepedulian di tingkat masyarakat, sehingga ketika seseorang membutuhkan darah, ada lingkungan yang siap membantu dan masyarakat memahami ke mana harus mencari pertolongan.

Nopalian menegaskan, PMI Kota Jambi akan terus memberikan edukasi kepada Kampung Donor Darah yang belum aktif agar kegiatan donor dapat berjalan secara berkelanjutan. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA