JAKARTA- Seorang Anggota TNI Angkatan Darat (AD) asal Jambi, Serda Kav Rikson Edi Candra gugur saat menjalankan tugas di Papua. Serda Rikson yang diketahui beralamat di jalan Nuri 1, RT 25, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi meninggal dunia dengan luka bagian kepala terkena senjata tajam/sejenis parang dan luka panah pada bagian kepala. Dia kena serangan saat ikut mengamankan aksi demonstrasi di Deiyai, Papua, Rabu (28/8) kemarin.
Polisi menduga, penyerangan tersebut dilakukan oleh Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB) Papua. Mereka melakukan penyerangan kepada aparat kemanan yang tengah menjaga unjuk rasa di Deiyai, Papua. Akibatnyaa kontak senjata tak terhindarkan.
Selain anggota TNI, lima anggota Polri juga terluka dalam penyerangan itu.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, dalam peristiwa ini satu Anggota TNI dipastikan meninggal. Sedangkan 5 polisi mengalami luka panah “Satu TNI meninggal, ada tambahan lima anggota polri terluka panah. Penyerangnya diduga terindikasi kelompok KKB,” ujar Dedi di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Rabu (28/8).
Menurut Dedi, kejadian ini bermula saat 150 orang berunjuk rasa menuntut Bupati Deiyai menandatangani persetujuan referendum Papua, pukul 13.00 WIT. Aparat kemananan kemudian melakukan negosiasi dengan massa.
“Pada saat proses negosiasi itu sedang berlangsung, sekitar pukul 14.00 WIT muncul kurang lebih sekitar ribuan masyarakat dari berbagai macam penjuru dengan membawa sajam dan panah, langsung melakukan penyerangan terhadap aparat keamanan,” ungkapnya.
Dedi menjelaskan, penyerangan ini diduga karena ada kabar masyarakat sipil meninggal. Padahal sejauh ini kabar tersebut belum terkonfirmasi. Polda Papua masih mendalami informasi tersebut.
Saat ini, aparat kemanan sedang berusaha membuat situasi di Deiyai kondusif. Polri menghimbau kepada masayarakat agar tidak terprovokasi oleh kabar yang tidak benar. Dan waspada kepada kelompok tertentu yang memanfaatkan kondisi ini.
“Kondisi saat ini aparat kepolisian bersama TNI masih berupaya semaksimal mungkin melakukan pengendalian terhadap massa, dan terus mengimbau masyarakat melalui tokoh-tokoh masyarakat, kemudian melalui pemda setempat untuk tidak terprovokasi,” pungkas Dedi.
Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal mengatakan semula aparat yakin massa menyampaikan aspirasinya dengan damai. Namun tiba-tiba sekelompok orang menunggangi aksi dan menyerang aparat. "Semula kami meyakini mereka bagian dari saudara-saudara kita yang ingin turut menyampaikan aspirasi dengan damai. Namun setelah menarikan tarian Waita atau tarian perang, mereka langsung menyerang petugas di lapangan," ujar dia.
Iqbal menegaskan pihaknya selalu mengedepankan pendekatan persuasif dalam mengendalikan massa. Personel yang diturunkan untuk mengawal demonstrasi pun tak dilengkapi peluru tajam.
Dia menyesalkan aksi yang berujung penyerangan aparat. Saat ini sejumlah anggota yang terluka mendapatkan penanganan medis. "Saudara kami dari TNI dilukai dengan senjata tajam dan ditikam dengan anak panah hingga akhirnya gugur. Beberapa anggota kami terkena panah, bahkan ada yang dipanah di bagian leher. Saat ini kami mengupayakan tindakan medis semaksimal mungkin kepada para personel yang terluka," ujar Iqbal. (isw)