Tinggal Hujan Jadi Harapan, Padamkan Api Gunakan Alat Tak Mungkin Lagi, Warga Mulai Mengungsi

Senin, 23 September 2019 - 05:40:25 WIB - Dibaca: 4546 kali

(Eko Siswono/Jambione.com)

JAMBI- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jambi terus meluas dan sulit dikendalikan. Meski demikian, tim satgasgab Karhuta dibantu warga tidak menyerah begitu saja. Hingga kemarin, tim gabungan bersama warga masih terus berupaya dan berjiba memedamkan api.

Di Muarojambi misalnya. Pantauan Jambi One di lapangan, Minggu (22/9) kemarin, Warga Desa Betung, Kecamatan Kumpeh Ilir bersama anggota TNI-POlri berjibaku melakukan pembasahan lahan secara bergotong royong mengantisipasi api yang mulai mendekati wilayah perkebunan warga. Sumber  api diduga berasal dari kawasan PT Bara Ekapirma.

            "Kita melakukan pembasahan di sekitar sini bersama TNI-POLRI untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Sebab angin kencang dari arah atas (PT Bara Ekapirma),"kata PLT Kades Betung, Krisna kepada Jambi one.

            Menurut Krisna, pembasahan dilakukan bergotong royong bersama dengan TNI POLRI. "Banyak kedulitan yang dihadapi di lapangan. Mesin terbatas, selang terbatas dan kecil lagi. Bensin atau solar juga payah carinya,"ungkapnya. 

            Dia menyebutkan api yang sudah membakar lahan masyarakat lebih kurang sekitar 50 hektare tersebut berasal dari areal konsesi PT Bara Ekapirma. "Kita tidak tau itu dari mana asal api.  Yang jelas itu dari atas. Kebun warga kita sudah banyak terbakar. Makanya kita bahu membahu,"sebutnya.

            Dia juga meminta pemerintah dapat mengantisipasi terjadinya Karhutla di tahun selanjutnya. Sebab, jika tidak akan mengalami kesulitan seperti sekarang ini. "Akan kesulitan, bias jadi lebih parah,"ucapnya.

            Menurut Krisna, karhutla di wilayah itu tahun ini lebih parah dari tahun 2015 lalu. Pada 2015 di Betung tidak ada lahan yang terbakar. Tahun 2019 ini lahan mulai terbakar."Kalau dulu cuma asap tipis. Sekarang, langit pun sampai menguning akibat api dan sap,"katanya.

            Untuk mengantisipasi kabut asap, Krisna mengaku sudah mendapatkan bantuan dari PT Bara Ekapirma yang bekerjasama dengan rumah sakit Royal Prima. "Ada pembagian masker dan yang lainnya, pengobatan kelas ringan untuk masyarakat,"ujarnya.

            Krisna juga mengakui sejumlah karyawan PT Bara Ekapirma mengungsi ke tempat warga di desa tersebut. ‘’ Informasi dari masyarakat yang melapor kepada saya memang sudah ada beberapa yang mengungsi. Tetapi secara resmi diserahkan perusahaan belum ada,"katanya.

            Para karyawan PT Bara Ekapirma mengungsi karena api yang membakar lahan perusahaan itu sudah memulai mendekati kawasan Camp perusahaan. "Ada beberapa puluh camp yang ada di sana. Kemungkinan api sudah mendekati cemp mereka,"pungkasnya.

            Ahmad, warga Betung lainnya yang juga turut melakukan pembasahan mengatakan saat ini ada puluhan orang karyawan PT Bara Ekapirma yang mengungsi ke rumah warga. " Tadi malam (Sabtu malam) ada puluhan yang mengungsi. Mereka tidak bawa pakaian dan makanan. Makanya kita bantu,"katanya.

            Sementara itu, sejumlah Personel Polres Muarojambi yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan api saat ini membesar di kawasan tersebut. "Makanya kita mundur kita tidak kuat.  Di dalam, api besar sekali  dan angin kencang,"katanya.

            Selain angin, asap yang tebal membuat mereka sulit bernafas. "Sesak nafas. Pakai masker nian tidak telap kito,"ujarnya.

            Menurut anggota yang di lapangan itu, alat yang digunakan saat ini juga tidak mampu lagi untuk memadamkan api. Sebab kemampuan mesin dengan api tidak berimbang. "Kita hanya berharap hujan lagi. Kalau seperti ini kondisinya, pakai alat ya dari pada tidak saja. Kita meminta sama Allah lagi lah kalau gini,"katanya.

            Pantauan Jambi one di Desa Betung, jalan menuju PT Bara Ekapirma tertutup asap sangat tebal dan gelap. Jarak pandang hanya sekitar 10 meter. Selain itu, langit di wilayah tersebut mulai memerah. Sementara api yang terlihat dari kejauhan juga tampak cukup besar. Di lokasi tersebut angin juga bertiup cukup kencang. Sehingga debu dan bekas abu kebakaran beterbangan tak tentu arah.

            Di bagian lain, Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS, Minggu (22/9) kemarin melakukan pengecekan lokasi Karhutla di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi.

Kedatangan Kapolda bersama Karo Ops, Direktur Sabhara, Direktur Lalu Lintas, dan Kabid Humas Polda Jambi disambut Kapolres Muarojambi, Bupati Muarojambi Masnah Busro dan Satgas Karhutla yang sedang melaksanakan upaya pemadaman api.

Tiba di lokasi, kapolda langsung berkoordinasi dengan seluruh personel Satgas Karhutla. Kapolda juga terjun langsung memadamkan kebakaran lahan dengan alat seadanya.

Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Kuswahyudi Tresnadi mengatakan kehadiran kapolda tersebut sebagai bentuk kepedulian beliau terhadap Satgas Karhutla dan masyarakat.

"Beliau terjun langsung membantu proses pemadaman kebakaran lahan di Desa Puding, walaupun dengan peralatan seadanya," katanya.

            Ratusan personel Satgas Karhutla Kabupaten Muarojambi masih berupaya melakukan penyekatan dan pendinginan kebakaran lahan perkebunan kelapa sawit di areal pengelolaan PT BEP di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh. Titik tersebut merupakan lokasi kebakaran lahan paling parah di daerah itu dan menjadi fokus penanganan oleh tim gabungan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, serta tim pemadam kebakaran dari sejumlah perusahaan perkebunan di Muarojambi.

Embusan angin yang cukup kencang membuat sebaran api cepat merembet ke perkebunan sawit yang bagian rerumputannya telah mengering di atas tanah gambut.

Kapolres Muaro Jambi AKBP Mardiono, Kasdim 0415/Batanghari Mayor Beni, dan Kepala BPBD Kabupaten Muarojambi Muhammad Zakir memimpin kegiatan penanganan kebakaran hutan dan lahan di daerah itu yang telah berlangsung sejak beberapa hari terakhir ini.

"Angin cukup kencang, arahnya tidak tentu. Kita kesulitan menembus asap tebal dan suhu juga panas di dalam sana," kata Muhammad Zakir.

Titik api di lokasi tersebut cukup banyak dan sulit terdeteksi. Helikopter pengebom air juga tidak bisa dioperasikan ke daerah itu karena asap karhutla cukup tebal sehingga berisiko untuk melakukan pengeboman air di kawasan itu.

Begitu juga dengan drone (pesawat tanpa awak) untuk memantau perkembangan kebakaran lahan dari udara, tidak bisa optimal dan tidak bisa menembus asap. "Drone kita juga tidak bisa dimaksimalkan," kata Kasdim 0415/Batanghari Mayor Beni.

Sejak beberapa hari terakhir, dilakukan normalisasi aliran kanal guna memasok air untuk pompa pemadaman. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk mengalirkan air di kanal dan mengeruk saluran yang tersumbat lumpur maupun kayu yang melintang.

Personel BPBD Muarojambi, TNI, dan Polri melakukan pendinginan lahan yang belum terbakar untuk menyekat penyebaran api. Dengan membasahi lahan diharapkan api tidak merembet ke areal yang lebih luas.

Pantauan di lapangan, puluhan mesin pompa air dikerahkan dan dioperasikan di lokasi perkebunan sawit tersebut. Namun, di beberapa titik, tim pemadam kesulitan mendapatkan air karena kanal yang tak berair atau berlumpur.(isw)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA