Jambione.com, Manuver Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menjajaki koalisi dengan Golkar di Pilkada serentak 2020 menarik dibahas. Apalagi, koalisi ini berimbas ke Jambi. Pengamat Politik dari Fisipol Unja, Dori Efendi mengatakan Partai NasDem dikenal dengan partai yang pintar merebut kesempatan untuk mengusung kandidat.
Dia mencontohkan, saat pencalonan Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat. NasDem mencuri star mengusung Ridwan Kamil dan melangkahi Gerindra dengan mengusung beliau pada Pilwako. Menurut Dori, kejadian di Jawa Barat itu bisa juga terjadi di Pilgub Jambi 2020. Sebaliknya juga bisa tidak. karena posisi Golkar di Jambi lebih menjanjikan dibanding NasDem.
Dori menjelaskan beberapa asalan Golkar sulit mengikuti skenario koalisi dari pusat. Pertama, saat ini, Golkar sebagai partai besar dan memiliki kader terbaik yang mendominasi kandidat Pilgub 2020. Kondisi ini tentu menjadi pertimbangan sendiri oleh partai Golkar untuk mengusung kadernya.
"Kedua, Golkar tentu tidak mau di nomor dua kan. Karena memiliki 7 kursi di DPRD dan partai pemenang ketiga di Pemilu. Sementara Nadem hanya 2 kursi," katanya.
Lalu, yang ketiga, wajar saja jika terjadi koalisi karena para kandidat yang muncul hanya dua partai ini yang kuat. "Akan tetapi partai (golkar) tentu akan rasional dalam menanggapi populeritas dan elaktabilitas para kandidat," jelasnya.
Menurut Dori, dalam beberapa survei, Partai NasDem bisa melihat elaktabilitas dan populeritas kadernya masih tertinggal jauh oleh kader Golkar. " Berdasarkan tiga alasan tersebut, seharusnya NasDem yang mengusung calon dari Golkar. Ini untuk memastikan Partai NasDem tetap eksis di Jambi," sebutnya.
Dori melanjutkan, sebagai salah satu partai yang memiliki kader dengan jabatan tertinggi, tentu satu kekecewaan bagi NasDem saat Pemilu 2019 lalu hanya mampu meraih 2 kursi. "Artinya, di Jambi partai Golkar-NasDem bisa saja berkoalisi, tapi dalam koalisi yang rasional," pungkasnya.(fey)