Panen Perdana Jagung Merangin Mulai Diserap Bulog, Produktivitas Masih Terkendala Lahan Eks Sawit

Sabtu, 25 April 2026 - 11:49:31 WIB - Dibaca: 133 kali

Aktivitas Muat Hasil Panen Perdana Jagung Di Wilayah Pemkab Merangin.
Aktivitas Muat Hasil Panen Perdana Jagung Di Wilayah Pemkab Merangin. ()

JAMBIPRIMA.COM, MERANGIN – Hasil program Gerakan Tanam Jagung Serentak di Kabupaten Merangin mulai menunjukkan progres nyata. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura kini tidak hanya memasuki masa panen, tetapi juga mulai memasarkan hasilnya, termasuk ke Bulog.

Langkah ini menjadi indikator awal bahwa program yang digagas untuk mendorong ketahanan pangan daerah tersebut mulai bergerak dari tahap penanaman menuju distribusi hasil.

Bupati Merangin H M Syukur mengungkapkan, pada tahap awal, jagung pipilan yang berhasil dijual mencapai 5,6 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,6 ton diserap oleh Bulog Merangin, sementara dua ton lainnya dijual langsung ke masyarakat.

“Jadi sebanyak 5,6 ton jagung itu baru sebagian dari hasil panen di Balai Benih Unggul (BBU) Margoyoso,” ujar Bupati, usai Subuh Keliling (Subling) di Masjid Baiturrohim Desa Titian Teras, Kecamatan Batang Masumai, Jumat (24/4).

Ia menegaskan, capaian tersebut baru berasal dari sekitar empat hektare lahan. Padahal, total luas lahan di BBU Margoyoso mencapai 27 hektare, yang sebagian besar belum dipanen.

“Jagung sebanyak 5,6 ton itu lanjut bupati, baru dari sekitar empat hektar lahan, masih banyak lagi jagung yang belum dipanen,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, potensi produksi jagung di Merangin diperkirakan akan terus meningkat. Selain BBU Margoyoso, sejumlah balai benih lainnya juga mulai digarap.

“Hasil panen jagung itu belum lagi yang dari BBU Sungai Manau. Untuk BBU Lembah Masurai dan BBU Jangkat juga akan segera digarap, sehingga panen jagung di Merangin akan semakin melimpah,” terang bupati.

Namun di balik optimisme tersebut, tantangan di lapangan masih cukup signifikan. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Merangin, Mujiburrahman, menjelaskan bahwa hasil panen saat ini belum maksimal karena kondisi lahan yang digunakan merupakan eks perkebunan sawit dan karet.

“Sebanyak 5,6 ton jagung tersebut, hasil panen perdana di lahan eks kebun sawit dan karet di BBU Margoyoso itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tanah yang masih keras dan belum sepenuhnya subur menjadi faktor utama rendahnya produktivitas awal.

“Bisa dibayangkan eks lahan sawit dan karet yang tanahnya masih keras itu tentunya belum subur, sehingga kalau diprosentase dari luas lahannya, hasil panennya masih tergolong belum maksimal,” ujar Mujiburrahman.

Selain itu, persoalan teknis seperti sistem drainase yang belum memadai serta riwayat banjir di kawasan tersebut turut memengaruhi hasil produksi.

“Kendala lainnya, draenase yang ada juga belum memadai dan lahan itu pernah kena banjir. Penanaman jagung di lahan BBU Margoyoso itu tidak sekaligus 27 hektar, tapi beransur-ansur,” jelasnya.

Di sisi lain, standar kualitas juga menjadi perhatian, khususnya untuk memenuhi persyaratan pembelian oleh Bulog. Saat ini, pihak dinas masih melakukan proses penyesuaian kadar air jagung.

“Kita juga sedang mengurangi kadar air dari jagung yang akan dijual, karena ketentuan dari Bulog kadar air pada jagung yang dibeli harus dibawah 14 persen. Untuk bibit kita pakai kualitas bibit Bisi Dua,” terang Mujiburrahman.

Terkait harga, Bulog membeli jagung petani dengan harga Rp 6.400 per kilogram. Angka ini dinilai cukup kompetitif sebagai stimulus bagi petani dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan produksi.

Secara keseluruhan, panen perdana ini menjadi langkah awal bagi Merangin dalam mengoptimalkan lahan-lahan eks perkebunan menjadi kawasan pertanian produktif. Meski masih menghadapi berbagai kendala teknis, potensi peningkatan produksi ke depan dinilai cukup besar, terutama dengan perluasan area tanam dan perbaikan infrastruktur pendukung. (San)





BERITA BERIKUTNYA