JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Langkah Universitas Jambi (UNJA) memperluas jejaring internasional kian konkret. Melalui International Academic Collaboration Meeting bersama Guizhou University dan International Plant Protection Cooperation Organization (IPPCO), kampus terbesar di Provinsi Jambi ini mulai menapaki babak baru diplomasi akademik berbasis riset dan kebutuhan lokal.
Pertemuan yang digelar Rabu (29/04/2026) itu bukan sekadar agenda seremonial. Di balik forum tersebut, tersimpan agenda strategis: menghubungkan persoalan global seperti ketahanan pangan dan perubahan iklim dengan problem nyata di daerah salah satunya krisis tanaman duku yang tengah menghantui petani Jambi.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi UNJA, Revis Asra, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi pijakan awal menuju kolaborasi jangka panjang yang lebih konkret.
“Pertemuan ini bukan sekadar forum silaturahmi akademik, tetapi juga menjadi momentum penting untuk membangun kolaborasi strategis yang berkelanjutan. Universitas Jambi berkomitmen untuk terus membuka ruang kerja sama global demi meningkatkan kualitas pendidikan, riset, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Revis Asra.
Dalam beberapa tahun terakhir, perguruan tinggi di Indonesia didorong untuk memperluas kolaborasi internasional, tidak hanya dalam bentuk pertukaran mahasiswa, tetapi juga riset bersama yang berdampak langsung. UNJA mencoba menjawab tantangan itu dengan pendekatan yang lebih kontekstual.
Kerja sama dengan Guizhou University—kampus asal Tiongkok dengan kekuatan riset di bidang pertanian—dan IPPCO sebagai platform global perlindungan tanaman, dinilai menjadi kombinasi strategis.
Executive Director IPPCO, Lian-Sheng Zang, menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tekanan besar di sektor pangan.
“Ketahanan pangan global dan keamanan lingkungan tidak dapat dijaga oleh satu negara saja. Tantangan seperti perubahan iklim, penyebaran patogen, dan peningkatan perdagangan internasional menuntut adanya kolaborasi lintas negara yang kuat, terutama dalam bidang perlindungan tanaman,” jelas Prof. Lian-Sheng Zang.
IPPCO sendiri tergolong baru, didirikan pada 10 Agustus 2025 oleh Guizhou University bersama ASEAN University Network. Meski demikian, organisasi ini langsung memposisikan diri sebagai simpul kolaborasi riset lintas negara di bidang perlindungan tanaman, pertukaran ilmuwan, hingga inovasi pertanian berkelanjutan.
Di balik pembahasan global, satu isu lokal mencuat kuat dalam forum: kematian massal pohon duku (Lansium domesticum) di Jambi.
Komoditas ini bukan sekadar buah. Duku memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas kultural masyarakat Jambi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ribuan pohon dilaporkan mati secara bertahap.
Tim UNJA mengungkapkan sejumlah dugaan penyebab, mulai dari perubahan iklim, serangan patogen, sistem drainase yang buruk, hingga kemungkinan infeksi Phytophthora sp.—patogen yang dikenal merusak sistem akar tanaman.
Masalah ini dinilai mendesak. Jika tidak ditangani serius, bukan hanya produksi yang terdampak, tetapi juga keberlanjutan komoditas unggulan daerah.
Dean of Science and Technology Department Guizhou University, Jian Wu, melihat persoalan ini sebagai peluang kolaborasi riset yang konkret.
“Permasalahan penyakit tanaman seperti yang terjadi pada duku di Jambi perlu ditangani melalui pendekatan ilmiah yang terintegrasi. Kolaborasi riset, penguatan laboratorium, dan penerapan Integrated Pest Management menjadi langkah penting untuk menghasilkan solusi jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Prof. Jian Wu.
Diskusi yang berlangsung tidak berhenti pada identifikasi masalah. Kedua pihak mulai memetakan langkah konkret, mulai dari:
Pendekatan yang ditawarkan juga tidak parsial. Delegasi Guizhou University menekankan pentingnya Integrated Pest Management (IPM) atau pengendalian hama terpadu, yang menggabungkan pendekatan biologis, lingkungan, dan teknologi secara berkelanjutan.
Langkah UNJA ini mencerminkan pergeseran paradigma perguruan tinggi: dari sekadar pusat pendidikan menjadi aktor penting dalam penyelesaian masalah daerah melalui jejaring global.
Kerja sama internasional tidak lagi berhenti pada MoU, tetapi dituntut menghasilkan dampak nyata terutama bagi masyarakat.
Melalui forum ini, UNJA menegaskan posisinya sebagai kampus yang tidak hanya mengejar reputasi global, tetapi juga berupaya menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil di lapangan.
Jika kolaborasi ini berjalan konsisten, bukan tidak mungkin krisis duku di Jambi justru menjadi pintu masuk lahirnya inovasi pertanian berkelanjutan yang berkontribusi lebih luas tidak hanya bagi daerah, tetapi juga bagi ketahanan pangan global. (*)
Rabu Berkah PKK Jambi Jadi Media Edukasi PAUD, Tanamkan Karakter Sejak Dini
Wali Kota Jambi Serahkan Santunan Korban KRL Bekasi, Pastikan Hak Keluarga Terpenuhi
Pemerintah Perkuat JKP, Menaker: Negara Hadir Saat Pekerja Kehilangan Pekerjaan
Desa Parit Kembangkan Lahan Produktif, Warga Tanam Semangka Bersama Polres Muaro Jambi
Pemkab Tebo Hadirkan “Sijempol”, Urus Izin Kini Bisa dari Kecamatan
Polisi, Damkar, dan Warga Bersatu Padamkan Kebakaran di Pulo Aro
UIN STS Jambi Sosialisasikan Google Workspace for Education Plus, Dorong Transformasi Digital Kampus