PKS Soroti Fenomena Fatherless, Tegaskan Penguatan Keluarga Jadi Kunci Ketahanan Bangsa

Senin, 06 Juli 2026 - 11:39:35 WIB - Dibaca: 85 kali

Presiden PKS Almuzzammil Yusuf menyampaikan sambutan usai menghadiri pemutaran film pendek Memutar Waktu dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional 2026 di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta
Presiden PKS Almuzzammil Yusuf menyampaikan sambutan usai menghadiri pemutaran film pendek Memutar Waktu dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional 2026 di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta (Humas PKS)

JAMBIPRIMA.COM, JAKARTA – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan pentingnya memperkuat institusi keluarga sebagai fondasi utama ketahanan bangsa di tengah meningkatnya berbagai tantangan sosial, termasuk fenomena fatherless atau berkurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan nonton bareng film pendek Memutar Waktu yang diselenggarakan Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) DPP PKS dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional 2026 di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta, Sabtu (4/7).

Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka), Eko Yuliarti Siroj, mengatakan keluarga merupakan pilar utama dalam membangun masyarakat yang kuat. Karena itu, menurutnya, berbagai persoalan yang mengancam keutuhan keluarga harus menjadi perhatian bersama.

Salah satu persoalan yang disorot adalah fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak kehilangan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional, akibat minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf mengaku tersentuh dengan pesan yang disampaikan melalui film tersebut. Ia menilai keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi setiap anak untuk kembali dan memperoleh kasih sayang dari kedua orang tuanya.

"Film ini sangat menyentuh dan membuat mata berkaca-kaca. Keluarga adalah tempat kembali, tempat pulang anak-anak kepada ayah dan ibunya. Namun, fenomena anak kehilangan sosok ayah yang sibuk di luar kini menjadi perhatian kita bersama, dan realitanya hal ini terjadi di kalangan ikhwan sekalipun," ujar Almuzzammil.

Ia mengatakan setiap keluarga memiliki tantangan yang berbeda sehingga persoalan rumah tangga perlu diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka. Hal itu, menurutnya, juga sejalan dengan pandangan psikolog M. Iqbal yang pernah berdiskusi dengannya mengenai dinamika dalam keluarga.

Sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga, PKS melalui Bipeka terus mengembangkan program Rumah Keluarga Indonesia (RKI) di berbagai daerah. Program tersebut ditujukan untuk memberikan pendampingan kepada keluarga yang menghadapi persoalan rumah tangga.

Di bidang legislasi, Fraksi PKS di DPR RI juga disebut terus mendorong lahirnya regulasi yang memberikan perlindungan lebih kuat terhadap institusi keluarga. Almuzzammil mengajak keluarga muslim menjadikan nilai ketakwaan sebagai landasan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Selain membahas penguatan keluarga, Almuzzammil juga menekankan pentingnya peran kader PKS sebagai pelopor kebaikan yang melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang agama maupun latar belakang.

Ia mencontohkan kolaborasi politik yang dibangun PKS di Pulau Tanimbar, wilayah dengan mayoritas penduduk nonmuslim. Menurutnya, PKS mampu bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, bahkan memiliki anggota legislatif nonmuslim yang mendukung perjuangan partai karena melihat komitmen PKS terhadap nilai keadilan dan pelayanan.

Almuzzammil menilai semangat tersebut merupakan implementasi nilai Islam sebagai Rahmatan lil 'Alamin, yang tidak hanya diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap lingkungan hidup dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Ia optimistis penguatan keluarga yang berjalan seiring dengan semangat kebangsaan yang inklusif akan menjadi modal penting dalam membangun Indonesia. (Rhm)





BERITA BERIKUTNYA