Kebakaran Cempaka Putih Jambi: 15 Rumah Ludes, Pemerintah Bergerak Cari Hunian Layak bagi Korban

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:01:29 WIB - Dibaca: 123 kali

Gubernur Jambi Al Haris menyerahkan secara simbolis bantuan BAZNAS Provinsi Jambi senilai Rp50 juta kepada warga terdampak kebakaran di Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Foto: Rahim
Gubernur Jambi Al Haris menyerahkan secara simbolis bantuan BAZNAS Provinsi Jambi senilai Rp50 juta kepada warga terdampak kebakaran di Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Musibah kebakaran yang melanda permukiman warga di Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, menyisakan persoalan panjang bagi warga terdampak. Bukan hanya kehilangan tempat tinggal dan harta benda, para korban kini harus menghadapi ketidakpastian tempat tinggal di tengah proses pemulihan setelah kebakaran.

Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos., MH, turun langsung meninjau lokasi kebakaran, Minggu (30/8/2026) sore. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi warga sekaligus melihat secara langsung kebutuhan yang harus segera dipenuhi pemerintah.

Dalam peninjauan itu, Al Haris didampingi Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., Kepala Dinas Sosial Provinsi dan Kota Jambi, Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jambi Ariansyah, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Jambi, serta tokoh masyarakat setempat.

Di lokasi, Gubernur mendapatkan gambaran mengenai besarnya dampak kebakaran yang terjadi sehari sebelumnya. Sebanyak 15 unit rumah dilaporkan hangus total, sementara empat unit lainnya mengalami kerusakan ringan.

“Kita sengaja datang langsung untuk melihat kondisi masyarakat yang rumahnya mengalami kebakaran Sabtu kemarin. Ada 15 unit rumah yang hangus total dan empat unit mengalami rusak ringan,” ujar Al Haris.

Kehilangan Rumah, Persoalan Baru Dimulai

Bagi warga yang rumahnya ludes terbakar, berakhirnya kobaran api bukan berarti berakhirnya persoalan. Mereka kini harus bertahan tanpa rumah, kehilangan sebagian besar harta benda, sekaligus memikirkan bagaimana kehidupan keluarga dapat kembali berjalan normal.

Untuk sementara, para korban ditampung di tenda darurat yang disiapkan Dinas Sosial Kota Jambi. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak ideal apabila berlangsung dalam waktu lama.

Al Haris meminta jajaran Dinas Sosial Provinsi Jambi dan Dinas Sosial Kota Jambi segera mencarikan tempat tinggal sementara yang lebih layak.

“Saya sudah minta Kadis Sosial Provinsi dan Pak Kadis Sosial Kota Jambi segera mencarikan tempat bagi warga untuk tinggal sementara, sampai rumah mereka bisa kembali ditempati. Tidur di tenda dan di lantai tanah dalam waktu lama tentu tidak baik untuk kesehatan, apalagi anak-anak dan lansia,” tegasnya.

Permintaan tersebut menunjukkan bahwa penanganan korban tidak hanya diarahkan pada pemberian bantuan logistik, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar yang lebih panjang, terutama tempat tinggal.

Pemerintah Janji Tak Tinggal Diam

Al Haris menegaskan Pemerintah Provinsi Jambi bersama Pemerintah Kota Jambi akan mencari solusi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Menurutnya, pemerintah memiliki kewajiban untuk hadir ketika masyarakat menghadapi bencana dan membutuhkan pertolongan.

“Pemerintah tidak akan membiarkan, ini kewajiban kami membantu warga kami. Insya Allah kami akan berdiskusi untuk kelanjutannya seperti apa sambil kami mencari tempat tinggal yang baru,” ucapnya.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Pemerintah mulai memikirkan kebutuhan warga untuk kembali memiliki tempat tinggal yang layak setelah masa penampungan sementara berakhir.

Trauma dan Kesehatan Warga Jadi Perhatian

Selain kerugian materi, Al Haris menyoroti dampak psikologis yang kemungkinan dialami warga. Kehilangan rumah secara tiba-tiba dapat meninggalkan trauma, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Kondisi kesehatan warga juga menjadi perhatian karena korban harus tinggal di tempat penampungan sementara. Situasi tersebut berlangsung ketika Jambi menghadapi musim kemarau dan kualitas udara juga menjadi perhatian akibat kabut asap.

“Apapun namanya musibah, dampaknya luar biasa. Trauma, kesehatan mental, dan kondisi fisik warga pasti terganggu. Apalagi saat ini musim kemarau, udara kita juga tidak sehat karena kabut asap,” kata Al Haris.

Karena itu, menurut pemerintah, kebutuhan korban harus dipandang secara menyeluruh. Bantuan makanan, pakaian dan perlengkapan tidur memang penting pada tahap awal, tetapi tempat tinggal yang layak dan pemulihan kondisi psikologis juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

BTT dan BAZNAS Disiapkan untuk Bantu Korban

Untuk meringankan beban warga, Pemerintah Provinsi Jambi menyiapkan bantuan melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT). Bantuan juga disalurkan melalui BAZNAS Provinsi Jambi.

Dalam kunjungannya, Al Haris menyerahkan secara simbolis bantuan BAZNAS Provinsi Jambi senilai Rp50 juta.

Selain bantuan dana, turut diserahkan 50 lembar kasur, 50 lembar selimut, 100 paket makanan siap saji, 20 paket family kit, 56 paket makanan anak dan 20 lembar terpal.

Bantuan tersebut mencakup berbagai kebutuhan dasar, mulai dari perlengkapan pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan tidur, makanan hingga kebutuhan lain selama warga berada dalam masa tanggap darurat.

“Kami pemerintah, baik Provinsi maupun Kota Jambi, hadir untuk memberikan simpati dan perhatian. Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan dan warga segera bangkit dari musibah ini,” pungkas Al Haris.

Pemkot Salurkan Bantuan Rp2 Juta per KK

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Jambi juga telah bergerak memberikan bantuan awal kepada keluarga terdampak.

Menurut Diza, bantuan tersebut diberikan sesuai arahan Wali Kota Jambi sebagai bentuk respons awal pemerintah daerah terhadap warga yang kehilangan tempat tinggal.

“Untuk saat ini dari Pemerintah Kota, sesuai arahan Bapak Wali Kota sudah menyampaikan bantuan sekitar Rp2 juta per rumah per KK. Dari rekan-rekan BAZNAS juga ikut menyalurkan bantuan,” jelas Diza.

Bantuan tersebut menjadi bagian dari respons awal pemerintah setelah kebakaran. Namun, kebutuhan warga diperkirakan masih akan berlanjut karena 15 rumah mengalami kerusakan total.

Pemulihan Tak Cukup Hanya dengan Bantuan Darurat

Musibah di Cempaka Putih memperlihatkan bahwa fase setelah bencana memiliki tantangan yang tidak kalah berat. Ketika api telah padam, warga harus membangun kembali kehidupan dari kondisi yang serba terbatas.

Kehadiran pemerintah pada tahap awal menjadi penting untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan korban memperoleh tempat tinggal sementara yang layak hingga tersedia solusi jangka lebih panjang.

Pemprov Jambi dan Pemkot Jambi menyatakan akan terus memantau kondisi warga serta memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi selama proses pemulihan.

Bagi warga korban kebakaran, bantuan yang datang bukan sekadar soal nilai rupiah atau jumlah paket logistik. Lebih dari itu, kehadiran pemerintah memberi pesan bahwa mereka tidak menghadapi musibah tersebut seorang diri.

Kini, pekerjaan berikutnya adalah memastikan kepedulian itu berlanjut setelah masa tanggap darurat berakhir—hingga warga yang kehilangan rumah dapat kembali menjalani kehidupan dengan tempat tinggal yang aman dan layak. (Rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA