Bukan Cuma Bisnis, UNJA Bawa Budaya Melayu Jambi dan Komedi ke Podium KMI Expo 2026

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:50:48 WIB - Dibaca: 48 kali

Delegasi UNJA meraih Juara II Kirab Budaya dan Juara Harapan II Stand Up Comedy Kewirausahaan pada KMI Expo XVII 2026 di Purwokerto. Foto: Rahim
Delegasi UNJA meraih Juara II Kirab Budaya dan Juara Harapan II Stand Up Comedy Kewirausahaan pada KMI Expo XVII 2026 di Purwokerto. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Universitas Jambi (UNJA) menunjukkan bahwa kreativitas mahasiswa di tingkat nasional tidak hanya bertumpu pada inovasi produk dan pengembangan usaha. Melalui ajang Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XVII 2026 di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, UNJA meraih dua prestasi melalui seni budaya dan komunikasi kreatif.

Dua penghargaan tersebut yakni Juara II Kirab Budaya dan Juara Harapan II Stand Up Comedy Kewirausahaan. Capaian ini memperlihatkan bagaimana mahasiswa mengembangkan potensi di luar aktivitas bisnis, mulai dari memperkenalkan identitas daerah hingga mengolah pengalaman berwirausaha menjadi materi komedi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di tengah kompetisi kewirausahaan yang menuntut kreativitas, kemampuan membangun komunikasi dan menyampaikan gagasan menjadi bagian penting. Pengalaman delegasi UNJA menunjukkan bahwa budaya lokal dan humor dapat menjadi medium untuk memperluas cara mahasiswa mengekspresikan ide sekaligus memperkenalkan karakter daerah di panggung nasional.

Mengangkat Tradisi Melayu Jambi di Panggung Nasional

Prestasi pertama diraih melalui Kirab Budaya yang mengusung adat Melayu Jambi dengan menampilkan prosesi pernikahan tradisional. Konsep tersebut tidak sekadar menghadirkan arak-arakan pengantin, tetapi juga memperkenalkan makna yang terkandung dalam tradisi masyarakat Jambi.

Pasangan adat yang diperankan Sunia Ariska dan Billy Afdil menjadi pusat penampilan. Prosesi tersebut diiringi lantunan dan tabuhan kompangan oleh M. Alfatra, Rayhan Al Ghiffari, Billy Afdil, Riskal Rinaldi, dan Haidiril Fadli.

Sejumlah unsur pendukung, termasuk pembawa bendera dan prosesi penaburan beras kunyit, turut memperkuat gambaran tradisi pernikahan Melayu Jambi. Beras kunyit dalam prosesi tersebut melambangkan doa keselamatan, penolak bala, serta harapan akan keberkahan dan kesejahteraan bagi pasangan pengantin.

Bagi delegasi UNJA, setiap unsur memiliki peran dalam membangun cerita budaya yang ingin disampaikan kepada penonton dari berbagai daerah. Kostum, musik, gerakan, dan simbol adat dirangkai agar penampilan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa pesan mengenai nilai-nilai tradisi.

Konsep dan koreografi dirancang oleh Muhammad Dino Saputra. Persiapan dilakukan selama satu minggu dengan memperhatikan keselarasan gerakan, ketepatan tempo kompangan, formasi peserta, hingga penempatan unsur simbolik dalam prosesi.

Tantangan utama terletak pada penyatuan seluruh elemen tersebut. Musik harus selaras dengan gerakan, sementara formasi dan prosesi adat perlu disusun agar pesan budaya dapat tersampaikan secara utuh.

Upaya tersebut mengantarkan UNJA meraih Juara II Kirab Budaya KMI Expo XVII 2026. Penghargaan ini sekaligus menunjukkan bahwa tradisi daerah dapat menjadi sumber kreativitas mahasiswa untuk diperkenalkan dalam ruang kompetisi nasional.

Lebih dari sekadar meraih penghargaan, penampilan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengambil bagian dalam memperkenalkan warisan budaya Melayu Jambi kepada generasi yang lebih luas.

Riskal Rinaldi Ubah Pengalaman Berwirausaha Menjadi Komedi

Di panggung berbeda, kreativitas UNJA hadir melalui Riskal Rinaldi, mahasiswa D3 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), yang meraih Juara Harapan II Stand Up Comedy Kewirausahaan.

Penghargaan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi Riskal karena KMI Expo XVII 2026 merupakan kompetisi stand up comedy pertamanya. Ketertarikannya terhadap dunia komedi telah tumbuh sejak kecil, tetapi kekhawatiran bahwa materi yang dibawakannya tidak akan mengundang tawa membuatnya belum berani mengikuti kompetisi.

Kesempatan tampil di KMI Expo akhirnya menjadi titik awal untuk menguji keberaniannya. Riskal berhasil melewati tahapan seleksi dan masuk dalam 20 peserta yang berkesempatan tampil langsung di babak final.

Perjalanan menyiapkan materi pun tidak selalu berjalan mulus. Salah satu ide awalnya muncul dari pengamatan terhadap kebiasaan ibu-ibu menawar harga di pasar. Namun, materi tersebut masih harus dikembangkan dan direvisi agar sesuai dengan karakter penampilannya.

Proses penyusunan materi bahkan berlanjut selama perjalanan menuju lokasi kegiatan. Karena tidak membawa kertas, Riskal sempat menuliskan gagasan komedinya pada bungkus roti. Catatan itu kemudian hilang setelah dirinya tertidur di dalam bus.

Pengalaman tersebut menggambarkan proses kreatif yang tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Gagasan harus terus disusun, diuji, dan diperbaiki sebelum akhirnya dibawakan di hadapan penonton.

Saat tampil di babak final, Riskal mengangkat pengalaman yang dekat dengan kehidupan mahasiswa wirausaha. Salah satunya ketika menawarkan pupuk TerraGrow kepada teman sendiri, tetapi justru menghadapi tawaran harga yang lebih rendah.

Cerita tersebut menjadi bahan komedi karena memperlihatkan situasi yang akrab bagi pelaku usaha pemula: menawarkan produk kepada orang terdekat tidak selalu berakhir dengan transaksi sesuai harapan.

Riskal juga menyisipkan ungkapan bahasa Jambi, “Pala otak kau”, ketika menceritakan temannya yang menawar produk. Penggunaan bahasa daerah memberikan warna lokal sekaligus membangun kedekatan dengan pengalaman yang disampaikan.

Selain pengalaman berjualan, Riskal menyesuaikan materi setelah tiba di Purwokerto. Ia turut mengangkat cerita personal mengenai namanya yang berkaitan dengan harapan orang tuanya dahulu untuk memiliki anak perempuan.

Pengalaman sehari-hari dan cerita pribadi tersebut menjadi bahan untuk membangun materi yang lebih autentik. Bagi Riskal, kehidupan mahasiswa yang dipenuhi proposal, penjualan produk, revisi, dan presentasi ternyata dapat dilihat dari sudut pandang berbeda untuk menghasilkan humor.

“Saya mencoba melihat dunia kewirausahaan dari sisi yang sering kami alami sendiri sebagai mahasiswa. Ada proposal, jualan, revisi, presentasi, dan banyak hal yang sebenarnya serius, tetapi kalau dilihat dari sudut berbeda bisa menjadi bahan humor,” ungkap Riskal.

Komunikasi Kreatif Menjadi Bagian dari Kewirausahaan

Persiapan menuju babak final dilakukan berulang kali sejak pengumuman peserta terpilih hingga hari penampilan. Riskal mendapat masukan dari dosen dan rekan-rekan kontingen UNJA, termasuk kesempatan berlatih di hadapan Wakil Rektor.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa stand up comedy dan presentasi bisnis memiliki tantangan komunikasi yang berbeda. Dalam pitching, peserta harus meyakinkan juri mengenai potensi usaha yang ditawarkan. Sementara itu, dalam stand up comedy, penampil perlu membangun kepercayaan audiens terhadap cerita dan premis yang disampaikan agar humor dapat diterima.

Keduanya menuntut kemampuan membaca audiens, menyusun pesan, serta menyampaikannya secara efektif. Perbedaannya terletak pada tujuan akhir: pitching berorientasi pada keyakinan terhadap peluang usaha, sedangkan komedi mengandalkan respons penonton terhadap cerita yang dibawakan.

Bagi mahasiswa yang sedang membangun usaha, kemampuan berkomunikasi menjadi bekal penting untuk menjelaskan produk, membangun hubungan dengan konsumen, dan menghadapi berbagai situasi dalam proses penjualan.

Riskal mengaku senang sekaligus terharu ketika namanya diumumkan sebagai peraih Juara Harapan II. Ia juga mengingat penilaian juri yang melihat dirinya memiliki karakter dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri.

Meski demikian, perjalanan di KMI Expo tidak sepenuhnya bebas dari tekanan. Riskal harus membagi perhatian antara persiapan stand up comedy dan tanggung jawab mempresentasikan usaha pupuk TerraGrow.

“Bagi saya, keduanya sama-sama menegangkan karena pitching TerraGrow dan stand up comedy adalah prioritas. Jadi, rasa cemasnya berlipat,” ujarnya.

Dua penghargaan yang diraih UNJA di KMI Expo XVII 2026 memperlihatkan beragam ruang pengembangan potensi mahasiswa. Kirab Budaya menjadi sarana memperkenalkan tradisi Melayu Jambi, sedangkan stand up comedy membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengolah pengalaman kewirausahaan menjadi komunikasi yang kreatif.

Kedua capaian tersebut menegaskan bahwa ekosistem kewirausahaan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan produk dan penjualan. Kemampuan berkreasi, membangun kepercayaan diri, menyampaikan gagasan, serta memperkenalkan identitas daerah juga menjadi bagian dari proses pengembangan diri mahasiswa di tingkat nasional. (rhm)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA