John Eka Powa dan Mursyid Sonsang Ajak Masyarakat Jambi Bijak Bermedsos, Waspadai Hoaks

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:25:58 WIB - Dibaca: 71 kali

John Eka Powa dan Mursyid Sonsang saat menjadi narasumber dialog membangun masyarakat melek digital di TVRI Jambi, Selasa (27/10/2026). Foto: Tania
John Eka Powa dan Mursyid Sonsang saat menjadi narasumber dialog membangun masyarakat melek digital di TVRI Jambi, Selasa (27/10/2026). Foto: Tania ()

JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jambi, John Eka Powa, bersama wartawan senior Mursyid Sonsang mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial di tengah derasnya arus informasi digital.

Pesan tersebut disampaikan dalam dialog tentang membangun masyarakat melek digital yang disiarkan TVRI Jambi, Selasa (27/10/2026).

Dialog yang dipandu Dr. Mochammad Farisi, S.H., LL.M., dosen Universitas Jambi (Unja), itu membahas pentingnya literasi digital, bahaya penyebaran informasi bohong atau hoaks, serta tanggung jawab masyarakat dalam menggunakan teknologi.

John Eka Powa yang juga menjabat Asisten I Setda Provinsi Jambi mengatakan, perkembangan teknologi informasi memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses berbagai informasi. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi yang benar.

"Ketika HP di tangan, dunia dalam genggaman. Tapi harus bijak dalam menggunakannya, jangan sampai menyebarkan hoaks. When you hold a smartphone, you hold the world in your hands. But be wise in using it — don't spread hoaxes," tegas John.

Ia juga mengingatkan slogan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yakni "Tahan Jempolmu", yang mengajak masyarakat berpikir sebelum membagikan informasi melalui media sosial.

Menurut John, Pemerintah Provinsi Jambi terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan literasi digital masyarakat. Salah satunya melalui program mengatasi kesenjangan teknologi di 285 desa serta sosialisasi kampung digital.

Program tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai penggunaan teknologi informasi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, wartawan senior Mursyid Sonsang menjelaskan bahwa literasi digital tidak sebatas kemampuan mengoperasikan telepon pintar atau menggunakan media sosial.

Menurutnya, terdapat empat pilar utama literasi digital yang menjadi acuan nasional, yakni Digital Skills (kecakapan digital), Digital Ethics (etika digital), Digital Safety (keamanan digital), dan Digital Culture (budaya digital).

Keempat pilar tersebut dinilai penting untuk membangun masyarakat yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memahami etika serta risiko yang dapat muncul dalam aktivitas digital.

Mursyid yang pernah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi periode 2007–2017 itu menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengunggah maupun membagikan konten di media sosial.

Wartawan senior yang telah berkecimpung lebih dari 30 tahun di dunia jurnalistik tersebut juga dikenal sebagai salah satu pendiri SMSI dan JMSI Pusat, pemegang Press Card Number One (PCNO), serta pernah menjabat Kepala Biro iNews TV Jambi.

Dalam dialog tersebut, Mursyid mengingatkan bahwa setiap unggahan di media sosial dapat menimbulkan konsekuensi, termasuk persoalan hukum apabila mengandung unsur pelanggaran.

"Jarimu adalah harimaumu. Maksudnya, apa yang kita ketik, apa yang kita posting, apa yang kita bagikan di medsos itu bisa menerkam balik diri kita sendiri. Satu jempol bisa membuat seseorang terjerat UU ITE," ujar Mursyid.

Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian pengguna media sosial yang langsung menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya.

Menurutnya, masyarakat perlu menerapkan prinsip verifikasi dengan memeriksa sumber informasi, waktu kejadian, lokasi, serta pihak yang terlibat dalam suatu peristiwa.

"Jangan langsung percaya dan langsung share. Verifikasi dulu informasi itu, konfirmasi sumbernya. Tanyakan who, what, when, where-nya jelas tidak," katanya.

Mursyid turut menyarankan masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksa fakta, seperti TurnBackHoax.id, untuk membantu menelusuri kebenaran informasi yang beredar.

Selain itu, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga perlu diwaspadai karena memungkinkan munculnya foto dan video hasil manipulasi yang sulit dibedakan dari konten asli.

Meski teknologi AI dapat digunakan sebagai alat bantu pemeriksaan, masyarakat tetap perlu melakukan pengecekan silang melalui sumber informasi yang dapat dipercaya.

Di akhir dialog, Mursyid kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi, terlebih jika berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

"Jangan sampai kita jadi penyebar hoaks karena malas verifikasi," pungkasnya. (tdr)





BERITA BERIKUTNYA