JAMBIPRIMA.COM, JAMBI – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Jambi dalam beberapa hari terakhir membawa perkembangan positif terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pantauan aplikasi Sipongi, titik panas atau hotspot di Jambi tercatat nihil pada 27 dan 28 Oktober 2026.
Meski tidak ditemukan hotspot selama dua hari tersebut, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Provinsi Jambi tetap melanjutkan penanganan di sejumlah daerah. Upaya yang dilakukan meliputi pemadaman, pendinginan lahan bekas terbakar, hingga pengeboman air dari udara atau water bombing.
Juru Bicara Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Johansyah, mengatakan bahwa berdasarkan laporan harian per 27 Oktober 2026, tidak ditemukan titik panas di wilayah Provinsi Jambi.
Hal tersebut disampaikan Johansyah kepada wartawan, Kamis (29/10/2026), saat memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan karhutla di sejumlah kabupaten.
"Untuk laporan titik hotspot harian, nihil atau nol," ujar Johansyah.
Kendati kondisi mulai membaik, Johansyah menjelaskan bahwa personel Satgas Karhutla masih bekerja di lapangan untuk memastikan lahan yang sebelumnya terbakar tidak kembali memunculkan api.
Di Kabupaten Muaro Jambi, petugas melakukan pemadaman pada lahan seluas 0,5 hektare dan pendinginan di area seluas 1,2 hektare. Sementara itu, lahan yang telah dinyatakan selesai ditangani atau clear mencapai 11 hektare.
Penanganan juga dilakukan di Kabupaten Tebo. Berdasarkan laporan Satgas Karhutla, luas lahan yang telah dinyatakan clear di wilayah tersebut mencapai 2 hektare.
Sementara di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, pemadaman dilakukan pada lahan seluas 0,4 hektare. Adapun luas area yang telah dinyatakan clear mencapai 61 hektare.
Selain mengandalkan personel darat, Satgas Karhutla juga mengerahkan dukungan udara melalui kegiatan water bombing untuk membantu proses pemadaman di lokasi yang membutuhkan penanganan intensif.
Di tengah membaiknya kondisi hotspot, dampak karhutla terhadap kualitas udara masih menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya berkaitan dengan kesehatan masyarakat yang terdampak kabut asap.
Dinas Kesehatan Provinsi Jambi bersama pemerintah kabupaten dan kota memperpanjang layanan rumah oksigen hingga 31 Oktober 2026. Layanan tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan akibat paparan asap.
Selain melalui rumah oksigen, pelayanan kesehatan juga tersedia di sejumlah puskesmas yang telah ditetapkan oleh bupati dan wali kota di masing-masing daerah.
Satgas Karhutla menegaskan bahwa nihilnya hotspot tidak serta-merta menunjukkan seluruh wilayah Jambi telah terbebas dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Potensi kebakaran masih dapat terjadi, terutama apabila kondisi cuaca kembali panas dan lahan yang sebelumnya basah akibat hujan mulai mengering.
Karena itu, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya di kawasan hutan, perkebunan, dan lahan yang rawan terbakar.
Johansyah juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah terjadinya kebakaran sejak dini, termasuk dengan segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar.
"Kami mengharapkan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan hutan dan lahan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api," pungkasnya. (rhm)
Polsek Jambi Selatan Amankan Remaja 17 Tahun Terkait Kasus Pembakaran Rumah dan Pencurian
Hujan Guyur Jambi, Hotspot Nihil Dua Hari, Satgas Karhutla Tetap Siaga
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri HCS 2026 di Jambi, Pemkot Siapkan 4.000 Kamar Hotel
Kelompok SAD Datangi Polres Merangin Bawa Senjata, Polisi Dalami Dugaan Bekingan PETI
Ricuh di Polres Merangin, SAD Diduga Lepaskan Dua Tembakan ke Udara
Mahasiswi PLP UIN STS Jambi Bangkitkan Semangat Belajar Siswa MTsN 2 Kota Jambi Lewat Ice Breaking
Cegah Karhutla, Manggala Agni Bentuk Masyarakat Peduli Api di Sungai Buluh Bungo