JAMBIPRIMA.COM, BUNGO – Kesempatan mendapatkan pendidikan Islam tanpa biaya kini terbuka bagi anak yatim dan piatu di Kabupaten Bungo, Jambi. Yayasan Ad-Dhuha melalui Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT) Ad-Dhuha memberikan fasilitas pembebasan biaya pendidikan hingga 100 persen pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027.
Sekolah yang berada di Jalan Asahan, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo ini juga menawarkan dua sistem pembelajaran, yakni pendidikan berasrama atau mondok dan full day school bagi siswa yang memilih pulang ke rumah setelah mengikuti kegiatan belajar.
Pimpinan Yayasan Ad-Dhuha, Dr. Mukhlisin, saat dikonfirmasi wartawan Jambiprima.com, Jumat (30/10/2026), menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya yayasan memperluas kesempatan pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan biaya sekolah.
Menurutnya, keberadaan sekolah Islam terpadu diharapkan dapat menjadi alternatif bagi orang tua yang menginginkan pendidikan umum sekaligus pembinaan nilai-nilai keislaman bagi anak-anak mereka.
Pada penerimaan tahun ajaran 2026/2027, SMP IT Ad-Dhuha hanya menyediakan empat rombongan belajar dengan jumlah keseluruhan 100 peserta didik.
Dari kuota tersebut, sebanyak 50 tempat disediakan bagi siswa laki-laki yang terbagi dalam dua kelas. Sementara 50 tempat lainnya diperuntukkan bagi siswa perempuan dengan jumlah kelas yang sama.
Selain membatasi jumlah penerimaan siswa, pihak sekolah juga memberikan keleluasaan kepada orang tua untuk menentukan pilihan pendidikan sesuai kondisi keluarga.
Bagi siswa yang ingin mengikuti pendidikan dengan sistem asrama, sekolah menyediakan pilihan mondok. Sedangkan peserta didik yang tetap ingin tinggal bersama orang tua dapat memilih program full day school.
Menariknya, program pembebasan biaya pendidikan diberikan secara khusus kepada anak yatim dan piatu. Untuk mendapatkan fasilitas tersebut, calon peserta didik perlu menyerahkan dokumen pendukung berupa surat keterangan anak yatim dari pemerintah desa atau akta kematian orang tua.
Tidak hanya jenjang SMP, SIT Ad-Dhuha juga membuka penerimaan peserta didik untuk tingkat TK IT, SD IT, dan SMA IT pada tahun ajaran yang sama.
Berdasarkan informasi penerimaan siswa baru yang disampaikan pihak sekolah, masyarakat dapat memperoleh keterangan lebih lanjut mengenai pendaftaran dengan mendatangi langsung SIT Ad-Dhuha di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo.
Sementara itu, Dr. Mukhlisin menyampaikan bahwa penerimaan siswa baru tahun ini memberikan dua alternatif pendidikan bagi masyarakat. Meski demikian, jumlah peserta didik yang diterima tetap dibatasi sesuai kapasitas sekolah.
"Kami membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di SMP IT Ad-Dhuha. Ada dua pilihan pendidikan, yakni sistem asrama atau mondok dan full day school. Untuk penerimaan siswa baru, kuota yang kami sediakan sebanyak 100 siswa, terdiri dari 50 putra dan 50 putri," ujar Dr. Mukhlisin.
Lebih lanjut, ia berharap fasilitas pendidikan gratis yang disediakan yayasan dapat meringankan beban keluarga sekaligus memastikan anak yatim dan piatu tetap memperoleh kesempatan menempuh pendidikan yang layak.
"Khusus anak yatim dan piatu, kami memberikan pembebasan biaya pendidikan sebesar 100 persen dengan melengkapi persyaratan yang telah ditentukan. Harapan kami, program ini dapat membantu anak-anak memperoleh pendidikan yang baik tanpa terkendala biaya," pungkasnya. (sab)
“Kalau Perusahaan Berhenti, Kami Mau Makan Apa?” Warga Senamat Protes ke DPRD Bungo
Antrean Solar Subsidi di SPBU SKB Bungo Mengular, Jalan Lintas Sumatra Terganggu
Cegah Karhutla, Manggala Agni Bentuk Masyarakat Peduli Api di Sungai Buluh Bungo
Parkir Liar Kembali Marak di Depan RSUD H. Hanafie Bungo, Warga Pertanyakan Penertiban
Polisi Tangkap Pria Asal Sumbar di Bungo, Sita 695 Gram Sabu dan 970 Butir Ekstasi
SPBU di Bungo Diduga Istimewakan Pelangsir Solar Subsidi, Warga Soroti Praktik Jual Beli Nomor Antre
Mahasiswi PLP UIN STS Jambi Bangkitkan Semangat Belajar Siswa MTsN 2 Kota Jambi Lewat Ice Breaking