Gas Gratis dari Sampah Pasar Talang Banjar Kini Nyaris Mati

Selasa, 03 November 2026 - 11:55:06 WIB - Dibaca: 74 kali

Fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (WTE) di Pasar Talang Banjar, Kota Jambi, yang kini tidak beroperasi optimal akibat kerusakan instalasi dan keterbatasan anggaran pemeliharaan. Foto: David
Fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (WTE) di Pasar Talang Banjar, Kota Jambi, yang kini tidak beroperasi optimal akibat kerusakan instalasi dan keterbatasan anggaran pemeliharaan. Foto: David ()

JAMBIPRIMA.COM,. JAMBI – Gas metan gratis hasil pengolahan sampah di Pasar Tradisional Talang Banjar, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, kini tak lagi mengalir optimal. Fasilitas Waste to Energy (WTE) yang dibangun dengan bantuan senilai Rp1 miliar tersebut terancam tak berfungsi maksimal akibat kerusakan sejumlah komponen instalasi.

Padahal, sebelumnya fasilitas ini mampu menghasilkan gas metan gratis untuk kebutuhan rumah tangga warga sekitar. Kini, aliran gas semakin mengecil sehingga manfaatnya tidak lagi dirasakan secara maksimal.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi memperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp50 juta untuk memperbaiki instalasi tersebut.

Saat beroperasi optimal, fasilitas Integrated Resource Recovery Center (IRRC) di kawasan Pasar Talang Banjar mampu mengolah hingga 5 ton sampah setiap hari. Sebanyak 3 ton diolah menjadi energi berupa biogas dan listrik, sedangkan 2 ton lainnya dimanfaatkan menjadi kompos.

Program yang dibangun pada 2017 melalui bantuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN-ESCAP) itu merupakan salah satu proyek percontohan pengolahan sampah menjadi energi di Kota Jambi.

Manfaatnya pun langsung dirasakan masyarakat. Ketika fasilitas berfungsi normal, gas metan disalurkan secara gratis kepada 10 kepala keluarga (KK) di sekitar pasar.

Rizki, salah seorang karyawan WTE Talang Banjar, mengatakan penggunaan gas metan tersebut cukup membantu menghemat pengeluaran rumah tangga.

Bahkan, tabung LPG 3 kilogram yang biasanya habis dalam waktu satu minggu bisa bertahan hingga dua minggu setelah warga menggunakan gas hasil pengolahan sampah.

Namun, kondisi saat ini jauh berbeda. Distribusi gas mulai terganggu akibat kerusakan sejumlah komponen utama instalasi.

Kabid Pengelolaan Sampah DLH Kota Jambi, Pramono, menjelaskan kerusakan terjadi pada pipa penyalur, balon penampung gas hingga filter.

Pipa mengalami pengeroposan akibat paparan embun metan, sementara balon penampung gas mengalami kebocoran.

"Pipa-pipa keropos, balon penampung sobek. Anggaran pemeliharaan tidak ada karena efisiensi," kata Pramono.

Menurutnya, perbaikan membutuhkan anggaran sekitar Rp50 juta agar instalasi kembali berfungsi normal. Jika diperbaiki, kapasitas layanan gas metan juga berpotensi diperluas hingga menjangkau sekitar 50 KK.

Selain kerusakan peralatan, keberlanjutan operasional WTE Talang Banjar juga menghadapi persoalan ketersediaan bahan baku. Pasokan sampah organik sebagai sumber utama produksi biogas semakin terbatas karena sebagian dimanfaatkan masyarakat untuk pakan ternak dan budidaya maggot.

Di sisi lain, pemilahan sampah dari sumbernya belum berjalan optimal. Akibatnya, sampah plastik masih bercampur dengan sampah organik yang masuk ke instalasi digester.

Persoalan ini sebelumnya juga menjadi perhatian Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha. Saat meninjau lokasi pada 9 September 2025, Diza menekankan pentingnya menjaga kestabilan pasokan sampah yang telah dipilah agar fasilitas pengolahan tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Sementara itu, Pemerintah Kota Jambi juga tengah menyiapkan proyek pengolahan sampah berskala lebih besar melalui pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Talang Gulo.

Untuk proyek tersebut, lahan seluas 5 hektare telah disiapkan dari total kawasan 21 hektare. Namun, PSEL membutuhkan pasokan sampah sekitar 1.000 ton per hari, sedangkan produksi sampah Kota Jambi saat ini baru mencapai sekitar 450 ton per hari.

Pemenuhan kebutuhan bahan baku direncanakan melalui kerja sama dengan Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari, dan Tanjung Jabung Timur, serta dukungan Danantara dan PLN UP3 Jambi.

Pengalaman WTE Talang Banjar menjadi gambaran bahwa pengolahan sampah menjadi energi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas. Ketersediaan anggaran pemeliharaan, kepastian pasokan sampah organik, serta pemilahan sampah dari sumbernya menjadi faktor penting agar fasilitas tersebut tetap beroperasi dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat. (DVD)





BERITA BERIKUTNYA