Jambione.com - SAROLANGUN, Kampung Madani khusus warga Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Lubuk Jering, Kecamatan Air Hitam, mulai dibangun. Di mana Pemkab Sarolangun menyiapkan lahan seluas 10 hektar untuk membangun kawasan terpadu SAD tersebut, 3 hektar lahan diantaranya sudah mulai digarap pembangunannya.
Tentu bukan tanpa alasan, Pemkab Sarolangun membangun kawasan Kampung Madani tersebut. Menurut Bupati Sarolangun, H Cek Endra, bahwa pembangunan Kampung Madani khusus SAD tersebut, merupakan kepedulian Pemerintah atas keberadaan warga SAD atau orang rimba tersebut.
Dengan harapan para warga SAD bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, selain punya rumah atau tempat tinggal secara permanen, warga SAD juga mendapatkan pendidikan, pelayanan kesehatan dan peningkatan skill di bidang pertanian dan perkebunan.
"SAD di Jambi selama ini hanya menjadi isu, seringkali pemerintah seolah olah tidak ada kepedulian kepada warga SAD, saya pikir Sarolangun memotori itu semua. Bukan baru sekarang kita bantu, tapi sudah dari dulu, maka kita pikir di pusat kawasan Kampung Madani, bukan hanya sekedar melayani tempat tinggal, tapi juga pusat pelatihan, pusat pendidikan dan juga kesehatan," ujar Cek Endra, Selasa (17/4) kemarin.
Tidak hanya itu, pembangunan kawasan Kampung Madani ini juga bertujuan agar warga SAD tidak bercampur atau bergabung dengan masyarakat pada umumnya. Artinya, di Kampung Madani tersebut memang murni khusus warga SAD, dengan tujuan pembinaan dan pelayanan bisa lebih fokus dan terarah.
"Yang mana sarana-sarana itu, untuk beberapa kualitas SAD belum bisa kita campurkan dengan masyarakat pada umumnya, makanya kita bangun kawasan khusus itu, dengan catatan supaya lebih nyaman untuk warga SAD, karena tidak bercampur dengan masyarakat luar. sehingga kita lebih leluasa membinanya nanti kedepan, "jelasnya.
Ia juga optimis jika nanti warga SAD ini bisa melalui proses di Kawasan Kampung Madani, maka kehidupannya akan lebih bertahan dan berkembang, sehingga tidak mengganggu aktivitas warga pada umumnya. Karena, nanti sebut CE akan banyak program Pemerintah yang akan dilaksanakan, mulai program keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan juga peningkatan SDM.
"Kalau dia sudah melalui proses di Kampung Madani itu, baik dari segi agama, ekonomi, pendidikan dan kesehatan, sehingga dia bisa survive hidup bermasyarakat dan tidak mengganggu lagi. Di sana nanti akan banyak program kita, bagaimana kita membangu memberdayakan SAD ini, termasuk pendidikannya," jelasnya lagi.
Bahkan bisa saja nanti, budaya Nomaden (berpindah. red), yang menempel pada warga SAD sejak lama, bisa akan hilang dengan sendirinya. Namun, hal itu kata Cek Endra, butuh waktu yang lama karena tentu akan mengalami kesulitan merubah pola pikir Warga SAD, apalagi sudah dewasa.
"Budaya nomadennya itu memerlukan waktu, yang tua-tua ya sudah, sulit kita merubahnya untuk tidak berpindah-pindah. tapi merekakan punya anak, anaknya ini kita mulai latih, kalau dia sudah sekolah, masuk pesantren, pasti tidak mau lagi berpindah pindah, tapi ini jangka panjang, tidak bisa semua SAD itu berubah, hari ini yang tua-tua sudahlah, yang muda-muda ini anak anak ini yang kita harapkan," pungkasnya. (wel)