Jambione.com - Aktivitas usaha Reptile Tina Mitra di RT 15 Kelurahan Thehok, Kecamatan Jambi Selatan Kota Jambi dikeluhkan warga. Limbah produksi produksi kulit Reptile Tina Mitra mengeluarkan bau tak sedap karena dibuang langsung ke drainase.
Salah seorang warga RT 15, Mardianis mengatakan sejak adanya produksi kulit reptile tersebut, kawasan lingkungan mereka harus menikmati bau limbah tak sedap. Limbah dibuang dan dialirkan ke drainase lingkungan rumah warga.
Baca Juga: Kerjaan Proyek Akibatkan Pipa Gas Bocor
Menurut Mardianis, limbah yang dialirkan tersebut mengadung warna yang sangat mencolok. Kadang berwarna merah, kuning, hijau dan gelap. “Setiap mereka buang limbah (kulit binatang), bau amisnya sangat menyengat. Limbahnya juga berwarna, kadang merah, kadang biru. Campur, ada pewarna, ada darah reptile,” kata Mardianis, kemarin (19/4).
Mardianis mengatakan, warga setempat sudah membicarakan hal tersebut kepada pihak RT dan kelurahan. Namun belum ada tindaklanjutnya.
“Sudah kita laporkan. Kami juga sering lihat reptile lepas. Biawak yang paling sering kita lihat,” ujarnya.
warga lainnya menambahkan, limbah hasil produksi kulit reptile tersebut dialirkan setiap tiga hari sekali. Bau busuk sangat menyengat. “ Lewat depan drainase rumah kami. Bau nya minta ampun,” kata HM, yang tidak mau namanya ditulis lengkap.
Seharusnya sebut HM, limbah tersebut tidak dibuang ke lingkungan warga, karena diduga mengandung bahan kimia. “Itukan limbah pewarna, limbah produksi reptile. Ikan di anak sungai ini saja hilang kalau limbah lagi mengalir,” katanya. Menurut HM, seharusnya dinetralisir terlebih dahulu baru dibuang.
Sementara Managemen Tina Mitra, Tino mengatakan, saat ini pihaknya tengah menggarap pembuatan saringan limbah. Namun masih menunggu teknis dan SOP dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi. “Kami menunggu SOP dari DLH. Sebab kalau kami langsung buat nanti salah, malah dibongkar,” katanya.
Tino mengakui, saat ini limbah yang dikeluarkan memang belum melalui saringan. “Ada limbah pupuk urea, karena kita pakai itu juga. Produksi kita disini ada pemotong reptile, juga menggunakan warna,” jelasnya.
Menurut Tino, Tina Mitra sudah berdiri sejak delapan tahun lalu dan produksi di sana. Kata dia, reptile yang diolah Tina Mitra sebut diantaranya Ular dan Biawak. “Kalau ular kita lepas, tidak bisa matok. Karena matanya dilakban,” sebutnya.
Terpisah, Kepala Disperidag Kota Jambi, Komari mengatakan saat ini ada dua UMKM pengolahan reptile yang menjadi binaan pihaknya. Salah satunya Tina Mitra. “Kita lakukan pembinaan mulai dari produksi hingga pemasaran,” kata Komari saat di konfirmasi, kemarin (19/4).
Menurut Komari, Tina Mitra sudah memiliki gerai sendiri yang dikelola dengan baik. “Mereka sudah punya gerai sendiri. Sudah mantap semua. Pasarnya juga sudah mantap. Itu sudah lama kita bina,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kota Jambi, Junedi Singarimbun mengatakan pemilik usaha harus segera menyiapkan instalasi pengelolaan air limbah (Ipal). Dalam aturan, limbah tidak diperbolehkan dibuang ke dalam saluran drainase .
"Kalau misalnya sudah sangat mencemari, maka harus dihentikan sementara. Tapi kita sebagai pemerintah tidak bersifat kaku. Makanya harus segera dibuat Ipalnya," katanya.
Junedi menambahkan, saat ini Pemerintah Kota Jambi juga tengah menormalisasi anak-anak sungai yang ada di Kota Jambi untuk menekan tingkat pencemaran lingkungan yang ada di Kota Jambi.
"Oleh karena itu pemilik usaha harus mulai sadar akan hal tersebut. Kalau memang sudah dikeluhkan warga, dalam waktu dekat komisi III akan turun untuk mengecek," pungkasnya. (Ali)