Capaian Puskesmas Muara Bulian Paling Rendah, Elfie Yennie: Imunisasi MR Sangat Penting

Sabtu, 08 Desember 2018 - 12:54:40 WIB - Dibaca: 2132 kali

(Ardian Faisal/Jambione.com)

Muara Bulian - Imunisasi Measles Rubella (MR) akan berakhir 31 Desember 2018. Dari target nasional 95%, Kabupaten Batanghari baru bisa mencapai angka 78.04% (55.268) cakupan dari keseluruhan sasaran anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. 

"Kita himbau masyarakat untuk bisa memaafkan sisa waktu menjelang akhir desember agar dapat membawa anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, dr. H. Elfie Yennie, MARS, Jumat (7/12).

Elfie mengatakan kesadaran masyarakat Kota Muara Bulian pentingnya imunisasi MR masih rendah. Buktinya, capaian wilayah Puskesmas Muara Bulian 36,17% paling rendah diantara puskesmas lain. 

"Imunisasi MR di seluruh Puskesmas tetap menyediakan dan pada beberapa sekolah kita juga masih melakukan imunisasi ke lapangan," ujarnya.

Imunisasi MR merupakan imunisasi campak dan rubela yang ada dalam satu vaksin. Vaksin berfungsi mencegah dua penyakit ini sekaligus. Campak dan rubella adalah dua penyakit berbahaya yang bisa di cegah dengan imunisasi. 

"Jadi kalau memang ada imunisasi yang bisa mencegah penyakit berbahaya, akan lebih baik kita melakukan langkah pencegahan. Karena mencegah jauh lebih baik daripada mengobati," tegasnya. 

Penyakit campak meskipun kelihatannya tidak berbahaya, kata Elfie, tetapi komplikasi sangat berbahaya. Contoh komplikasi campak bisa sampai ke otak bahkan bisa menyerang ke paru-paru dan tidak jarang menyebabkan kematian. 

"Rubella sama seperti campak, secara klinis rubela tidak berbahaya. Bahkan kalau menyerang anak-anak tidak menimbulkan bahaya besar seperti campak," jelasnya.  

Tetapi bahaya rubella apabila menular kepada ibu hamil, maka janin dalam kandungan bisa cacat atau bisa meninggal dunia. Jenis cacat pada janin atau bayi bisa menimbulkan tuli, kelainan jantung kelainan otak dan sebagainya. 

"Kita sangat harapkan agar banyak anak-anak di imunisasi MR supaya mereka memiliki kekebalan, sehingga nanti bisa memutus mata rantai penyebaran penyakit tersebut pada ibu hamil," sebutnya.  

Kabupaten Batanghari, kata Elfie, banyak ibu-ibu yang terinfeksi rubella, bisa dilihat dari pemeriksaan darah. Dinas Kesehatan Batanghari juga ada program bila ada sample campak bisa dikirim ke jakarta untuk di periksa. 

"Ternyata sejauh ini sample campak yang kita kirim tersebut itu ternyata positif rubella. Karena tampilan klinis campak dan rubela sangat mirip, bisa saja anak yang terkena campak juga terkena rubella," paparnya. 

Berikutnya pada ibu dengan gangguan kehamilan. Misalnya, terlambat pertumbuhan bayi didalam kadungan, ibu-ibu yang lama tidak punya anak dan ibu dengan kasus keguguran abortus berulang, setelah di cek darahnya, rata-rata rubellanya positif. 

"Data rubella sulit diketahui dengan persis, karena gejalnya pada anak-anak tidak begitu khas. Tetapi untuk Batanghari sebenarnya sudah jadi masalah," tegas Elfie lagi.

"Rubella itu ada, buktinya beberapa anak yang lahir cacat dan kita ingin mengetahui penyebabnya, kita lakukan pemeriksaan darah pada ibu, itu masih bisa, ternyata masih ada tanda-tanda bahwa si ibu masih terinfeksi rubella," imbuhnya. 

Itu membuktikan bahwa rubella memang sejak dalam kandungan. Bila ada infeksi itu maka akan berakibat pada pertumbuhan janin bahkan akan berakibat pada bayi yang dilahirkan. 

"Orang yang terinfeksi rubella tidak bisa sembuh. Makanya banyak kasus orang sekian lama gak punya anak, setelah di tes ternyata rubelanya positif," tuturnya.  

Rubella seharusnya tidak boleh terjadi. Satu kasus saja sudah jadi masalah. Sama seperti campak, seharusnya sudah bisa di cegah dengan imunisasi. Rubella itu kan berakibat jelek pada ibu hamil. (fai) 



Tags:


BERITA BERIKUTNYA