215 Rumah Terendam, Warga Mengungsi

Senin, 17 Desember 2018 - 22:22:27 WIB - Dibaca: 1987 kali

()

 

 

 jambione.com, Tingginya intensitas hujan beberapa  hari terakhir menyebabkan banjir besar di sejumlah wilayah dalam Kota Jambi. Wilayah yang terendam itu diantaranta,  kawasan Legok, Kecamatan Danau Sipin, Keluarahan Penyengat Rendah, Kecamatan Telanaipura, dan Buluran. Selain itu, banjir juga terjadi di sejumlah komplek perumahan dalam Kota Jambi.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Jambi, Ridwan mengatakan, saat ini sedikitnya 215 rumah terendam banjir. Diantaranya di Buluran Kenali 5 Kepala keluarga (KK), Legok  181 KK, Sungai Asam 8 KK, dan Penyengat Rendah 21 KK. "Ini tersebar di dua kecamatan, yakni Telanaipura dan Danau sipin," katanya.

            Menurut Ridwan, saat ini kondisi air sungai Batanghari dalam ketinggian 13,60 meter. Artinya kondisi ini masih dalam tahap siaga 4. Jika air terus meningkat hingga 15 meter maka status air sungai bisa mencapai tanggap darurat. "Saat ini kita sudah menurunkan beberapa tenda pengungsian untuk empat daerah yang terendam banjir tersebut," kata dia.

            Selain itu, 215 KK yang jadi korban banjir juga mendapat bantuan sembako dari dinas penyelamatan dan Kebakaran kota Jambi. Diantaranya  bantuan beras 10 Kilogram dari dinas Sosial Kota Jambi. "Saat ini sandang dan pangan sudah disiapkan. Termasuk dari camat, lurah, Bulog dan lainnya," tegasnya.

            Ridwan meminta warga aktif melaporkan kejadian banjir. Laporan bisa disampaikan kepada lurah, camat, dinas terkait dan lainnya. Sehingga pihaknya tanggap dan cepat dalam menanggapi masalah banjir ini.

            Kepala Dinas Sosial Kota Jambi Kaspul mengatakan pihaknya siap menyalurkan bantuan korban bencana banjir di kota Jambi. Namun, menurut dia, tidak semua warga yang rumahnya terendam banjir menerima bantuan. "Ada kelas kelasnya dan ada kriterianya. Jadi tidak semua," ujarnya.

            Sementara itu, Walikota Jambi Syarif Fasha mengatakan banjir di kota Jambi saat ini disebabkan oleh meluapnya Sungai Batanghari. Ini merupakan dampak dari adanya banjir di wilayah Bungo dan Tebo, serta di wilayah Padang. "Kita tempat paling rendah, makanya setiap hulunya hujan kita terdampak," katanya. 

            Menurut Fasha, warga yang terdampak banjir saat ini sudah dievakuasi dan didirikan tenda tenda darurat, serta diberikan bantuan sesuai dengan status. ‘’ Kami pemerintah tidak bisa sembarangan mengeluarkan bantuan. Kami keluarkan bantuan berdasarkan status-statusnya, dan saat ini status siaga," jelasnya.

            Fasha mengatakan, bantuan yang diberikan berupa pakaian, sembako dan juga fasilitas kesehatan. Selain itu juga fasilitas penerangan dan air bersih. "Intinya pemerintah hadir saat warganya mengalami kesulitan," tegasnya.

            Terpisah, Raden Zaini, warga RT 09 Kelurahan Penyengat Rendah mengatakan, dia bersama warga lainnya sudah empat malam mengungsi di tenda darurat. Ini mereka lakukan karena rumahnya terendam banjir hingga setinggi 25 cm. "Sudah sering seperti ini. Kalau di sini cuma keluarga kami yang mengungsi," katanya.

            Menurut Zaini, jika air terus meningkat, dirinya akan mengungsi lebih lama lagi. Barang berharga miliknya, seperti pakaian dan lainnya masih di tinggal di rumah. Namun jika nanti air terus meningkat maka barang-barang miliknya tersebut juga akan ikut diungsikan.

            Dia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa rumah yang layak untuk ditempati. "Kalau bisa pemerintah memberikan bantuan. Apakah rumah kami ditinggikan atau direlokasi," ujarnya.

 

            Sementara itu, warga RT 56, Perumahan Kembar Lestari II, Kelurahan Kenalin Besar, Kecamatan Alam Barajo yang jadi langganan banjir menawarkan solusi kepemerintahan Kota Jambi. Namun sampai sekarang belum ada respon.

Menurut Joni, warga setempat, pihaknya telah menawarkan sejumlah solusi kepemerintah Kota Jambi. Diantaranya membangun kolam penampungan air atau daerah resapan. "Kita sudah tawarkan solusi ke Pemkot pada banjir 3 Desember lalu tapi sampai sekarang tidak ada respon," katanya, Senin (17/12)

            Meski solusi tersebut tidak dapat menghilangkan banjir secara total, namun, dia meyakini dapat mengurangi banjir. "Dulu di wilayah atas dekat jembatan Permata Muarojambi sebelum ditimbun, daerah ini kalau banjir hanya satu jam paling lama. Itupun tidak besar dan tidak sampai masuk rumah," sebutnya.

            Tapi, tahun ini, lanjut Joni, banjir di Kembar Lestari sangat parah.  "Selama lima tahun terakhir, tahun ini paling parah banjirnya. Perumahan ini sudah ada sejak 11 tahun lalu," ungkapnya.

            Menurut dia, hingga saat ini belum ada bantuan apapun dari pemkot maupun pemrov. "Jangankan bantuan lebih, bantuan sarapan saja ga ada mas," pungkasnya.

            Ketua RT 56, Bujang Habif juga mengakui tidak ada bantuan yang mereka terima meski alat rumah banyak yang rusak. "Bantuan ga ada," ujarnya.

           

 

Petani Ikan Khawatir Kerambah Terbara Arus

 

            Sementara itu dari Muarojambi dilaporkan, para petani kerambah ikan khawatir kerambah mereka hanyut terseret banjir. Apalagi, saat ini debit air sungai Batanghari terus naik. Sebagian besar mereka membuat kerambah ikan di sungai dan anak sungai Batanghari

            " Sekarang ini kita was-was dan waspada. Kadang hujan itu lebat, arus air juga kencang, takut jaring keramba jebol atau koyak. Kalo sudah koyak keluar lah ikan-ikan," kata Asip, petani kerambah di Sekernan.

            Menurut Asip, dalam kondisi air naik seperti saat ini, keramba harus kuat dan banyak jaring, sehingga tidak terbawa arus. " Ini perlu adanya campur tangan dinas terkait. Bagaimana mengedukasi atau memberikan perhatiannya kepada petani kerambah. Apalagi mereka mengklaim sebagai wilayah kawasan perikanan. Kami, Petani keramba perlu adanya tali ikat, tiang pancang, gethek atau boat kecil dan sarana jalan usaha tani yang memadai dan juga sarana penerangan, " jelasnya. 

            Hal senada juga dikatakan oleh Azan, petani kerambah lainnya di Desa Sekernan. Yang dia takutkan saat ini adalah sampah yang dibawa dari arus sungai. Karena bisa menjadi salah satu penyebab jaring kerambah rusak. " Arus sungai itu pastilah bawak sampah. Kadang sampah batang kayu. Kalo lah keno kerambah, jaring dak kuat jebol lah lagi. Makonyo nak di tengok nian sekarang ni," katanya. 

            Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Muarojambi, Parahuman Lubis mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak provinsi Jambi. Mereka sudah mempertemukan para petani untuk menyampaikan permintaan pembangunan jalan usaha tani di aliran sungai Batanghari. ‘’ Proposal sudah kita sampaikan dan juga sudah ditanggapi oleh provinsi. Sekarang tinggal masalah anggaran saja. Mudah-mudahan tahun 2019 jalan usaha produksi sudah mulai dibangun. Namun lokasi belum ditentukan, " pungkasnya. (ali/wil)

 

 





BERITA BERIKUTNYA