INTERNASIONAL - Setelah dua hari dibombardir tanpa henti oleh pesawat-pesawat tempur Israel hingga Senin (6/5), seluruh Muslim Gaza memulai puasa Ramadhan. Hari pertama Ramadhan di Gaza jauh berbeda dengan Indonesia atau negara mayoritas Muslim lain yang diawali dengan sukaria. Di Gaza yang terlihat hanya ada kesuraman, rumah-rumah runtuh, dan jasad yang berceceran.
Di sebuah rumah sakit terbesar di Gaza, Shifa, dikabarkan setidaknya ada 21 warga Palestina yang meninggal sebelum sempat bertemu Ramadhan karim. Keluarga yang selamat berbondong-bondong datang untuk memakamkan saudara mereka dan mengantarnya dengan doa.
Sementara itu, para petugas sedang berusaha menyambungkan kembali tali-tali kehidupan di Palestina. Saluran telepon hancur akibat bom, sementara menara-menara runtuh dan menyisakan puing yang berserakan di tanah.
Di sisi lain, militer Israel mengklaim bahwa tank dan pesawat tempur mereka telah berhasil menjatuhkan setidaknya 350 target Hamas dan Jihad Islam di Gaza, termasuk terowongan lintas perbatasan, kamp pelatihan militan, dan tempat-tempat yang digunakan untuk menyimpan senjata.
Seorang juru bicara militer Israel juga mengatakan bahwa kelompok-kelompok militan Palestina Hamas dan Jihad Islam telah menembakkan sekitar 690 roket ke Israel dan menewaskan empat warga sipil Israel.
Di lingkungan Syekh Zayed di Gaza utara, setidaknya enam orang meninggal akibat serangan udara yang ditembakkan Israel. Empat apartemen hancur berkeping-keping dan setidaknya 600 unit rumah rusak parah.
"Saya belum pernah melihat gambar yang mengerikan dalam hidup saya daripada yang saya lihat kemarin. Saya melihat tubuh yang terpotong-potong, tubuh yang terbakar," kata Ziyad Hammash (60 tahun) yang tinggal dalam gedung di seberang jalan.
Sumayya Usruf mengatakan, suami, sepupu, dan bayinya yang baru berusia empat tahun meninggal dunia akibat runtuhan apartemen. "Ini Ramadhan yang sangat sulit. Kami tidak akan dapat menikmatinya dengan meriah," kata dia.
Saat Usruf berbicara, lusinan lelaki mondar-mandir membawa tubuh ke dalam ambulans yang berisi peti mati berisi daging dan bagian tubuh.
Israel menuduh Hamas yang berkuasa di Gaza berusaha menekannya agar melonggarkan pembatasan pergerakan orang dan barang keluar dari Gaza, yang menurut otoritas Israel perlu ditindak dengan menghentikan pergerakan Hamas. Di Tepi Barat, Perdana Menteri Mohammad Shtayyeh berjanji akan mengirim bantuan kemanusiaan dan makanan ke Gaza.
"Putaran ini sudah berakhir, tetapi saya khawatir yang lain akan segera dimulai. Kami bercita-cita untuk suatu hari ketika tidak ada yang akan terjadi," kata Adel Mohammad-Ali (55 tahun) pada satu pemakaman kerabatnya.
Sementara itu, sebanyak 13 sekolah di Jalur Gaza rusak parah akibat agresi militer Israel akhir pekan lalu. Pertempuran terbaru antara Israel dan faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza memang disebut sebagai yang terburuk sejak 2014.
Dilaporkan laman al-Araby, Kementerian Pendidikan Gaza yang dikelola Hamas mengatakan, sekolah-sekolah yang rusak berat akibat serangan Israel berada di sepanjang Jalur Gaza.
Lima sekolah dengan kondisi benar-benar hancur berlokasi di Khan Younis Barat. Tak hanya bangunanya yang terkoyak, halaman sekolah itu pun dipenuhi pecahan peluru.
Belum ada pengumuman tentang kapan kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah terkait dan sekolah lainnya akan dilanjutkan. Namun, yang pasti hancurnya gedung sekolah makin menyulitkan anak-anak Palestina di Gaza mengakses pendidikan.
Sepanjang akhir pekan lalu, Israel membombardir Gaza dengan serangan udara. Gedung-gedung di wilayah yang terblokade itu porak-poranda. Hingga Selasa (7/5) Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat sedikitnya 27 warga Palestina gugur.
Korban jiwa teranyar adalah sepasang suami istri yang jasadnya ditemukan tertimbun reruntuhan bangunan, kemarin. Pasangan itu adalah Talal Abu al-Jadyan dan Raghda Muhammad Abu al-Jadyan. Putra mereka yang berusia 12 tahun, Abdul Rahman al-Jaydan, juga diketahu gugur beberapa jam sebelum jenazah kedua orang tuanya ditemukan.
Faksi-faksi perlawanan Palestina, terutama Hamas dan Jihad Islam, membalas serangan Israel dengan meluncurkan ratusan roket ke wilayahnya. Sebanyak empat warga Israel dilaporkan meninggal.
Setelah pertempuran mematikan itu, Israel dan Hamas akhirnya menyepakati gencatan senjata pada Senin. Hal itu tercapai dengan bantuan mediasi dari Mesir. Kendati pejabat Hamas dan Israel tak ada yang mengumumkan secara resmi tentang gencatan senjata tersebut, peperangan seketika berakhir.
Situasi di perbatasan Gaza-Israel kembali senyap. Militer Israel pun telah menarik prajurit dan armada tanknya dari wilayah perbatasan (republikacoid/*)