JAMBI - Kisruh antara mahasiswa dan pihak manajemen Universitas Adiwangsa Jambi (UNAJA) mendapat perhatian serius dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Kota Jambi. Mereka merasak terusik dan prihatin atas skorsing yang diberikan manajemen UNAJA kepada tujuh mahasiswa.
Aliansi BEM se Kota Jambi akan mengambil sikap tegas atas kejadian itu. Namun sikap tersebut baru diputuskan seteklah mengetahui hasil audiensi kedua belah pihak di DPRD Provinsi Jambi, Senin (8/7) besok.
Presiden BEM Unja, Ardy Irawan mengatakan pihaknya akan mengambil sikap tegas jika hasil audiensi nantinya tidak menemukan titik terang antara kedua belah pihak. Ardy mengaku geram dengan kampus yang terkesan otoriter tersebut. Bahkan ia juga menegaskan telah lama melakukan pengamatan dan mendengar keluhan mahasiswa di kampus yang baru dua tahun berdiri tersebut.
"Sudah lama saya mengamati UNAJA ini. Terlalu banyak juga kasus yang muncul yang melibatkan nama Warek II. Saya pun panas dengar ada teman-teman mahasiswa yang diancam gara-gara mengkritik rektorat. Saya minta agar Warek II segera mundur saja sebelum kampus dikepung oleh ratusan mahasiswa se-Jambi. Polemik UNAJA ini sudah puncak sekali," katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UIN STS Jambi, Ari Kurniadi juga menyayangkan dan prihatin mendapat kabar tujuh rekannya di Unaja diskors selama satu tahun karena melakukan aksi menuntut haknya beberapa hari lalu. "Saya melihat ini sebuah pembunuhan karakter dan penindasan terhadap gerakan mahasiswa," katanya.
Ari menilai pihak kampus sudah sangat kelewatan. Karena kebebasan beraspirasi atau menyampaikan pendapat di muka umum sudah diatur dalam undang-undang. "Apalagi seorang mahasiswa yang memang mempunyai peran penting dalam mengkritisi setiap kebijakan birokrasi maupun pemerintahan," sebutnya.
Menurut Ari, pihaknya akan membantu mengadvokasi tujuh mahasiswa yang disekor oleh manajemen UNAJA. Dia juga akan menggalang kekuatan massa serta mengajak mahasiswa se Jambi turun melakukan aksi. " Kalau kami diam, ke depan pihak kampus, apapun itu kampusnya bisa saja melakukan hal serupa untuk membungkam mulut mahasiswa," ujarnya.
Dia menegaskan, pihaknya tidak akan meninggalkan mahasiswa UNAJA dalam penderitaan sendiri."Kami tidak akan diam dan akan tetap solid bersama kawan-kawan UNAJA," tegasnya.
Kampus yang saat ini sudah melakukan koordinasi, dan siap turun kelapangan, kata Ari, yakni UNJA, Unbari, Stikom, Univ Muhammadiyah, Poltekkes, dan Stikba. "Kami sudah sepakat dengan kawan-kawan untuk turun aksi besar-besaran. Kami menghimpun kekuatan mahasiswa se Jambi agar ikut turun sama-sama menuntut pemerintah agar tegas kepada pihak kampus UNAJA yang semena-mena dengan mahasiswa nya," tandasnya.
Terpisah Presiden Mahasiswa UNAJA, Hary Ramadhani menyambut baik sikap para pimpinan mahasiswa Se Jambi tersebut. "Saya sambut baik, kawan sekalian, dan terimakasih atas dukungan moral dan sepiritual nya. Kita akan lakukan audiensi terlebih dahulu untuk menentukan sikap" katanya.
Sebelumnya, Badan Pengurus Harian (BPH) UNAJA, Eko Kuswandono mengatakan pihaknya menskors tujuh mahasiswa karena diduga telah memprovokasi massa untuk demo. Menurut dia, surat skorsing tersebut dikeluarkan, Kamis (4/7). Salah satu yang diskor adalah presiden Mahasiswa, Hery atau UNAJA Creatif (UC).
Ditanya apa dasar skors 1 tahun dikeluarkan, Eko mengatakan ada aturannya. " Mereka demo di luar kampus tidak izin ke kampus,"sebutnya. Demo yang dimaksud, kata Eko adalah aksi mahasiswa UNAJA di Kantor KPU Provinsi Jambi 22 Mei 2019 lalu. " Itulah salah satu dasar skor dikeluarkan,"pungkasnya
Wakil Rektor II UNAJA, Ade menambahkan, para mahasiswa tidak melakukan koordinasi dengan pihak rekotat terlebih dahulu saat akan melakukan demo. "Sebelum turun demo harusnya ada audensi terlebih dahulu, baru demo. Ini tidak,"katanya.
Mengenai tunutan mahasiswa, Ade mengatakan pihaknya akan mendiskusikan dengan pihak yayasan maupun kampus lain. Dia membantah mengancam orang tua mahasiswa. Dia mengklaim itu bentuk komunikasi kepada orang tua. "Sebagai orang tua di kampus kami melalukan koordinasi dengan orang tua mahasiswa, karena dengan mereka kita di tolak," ucapnya.
Soal penggunaan almemater harus izin kampus dalam melakukan kegiatan, penggalangan dana dan demo, Ade menegaskan pihaknya merekrut mahasiswa bukan untuk demo atau meminta minta di jalanan. "Kami merekrut mereka untuk menjadi akademisi yang menjalankan pengabdian dan lainnya. Bukan untuk meminta minta di jalanan jika ada sesuatu instansi yang tidak baik," jelasnya.
Ade menegaskan, pihaknya tidak melarang menggunakan almemater tetapi harus se izin kampus.Bahkan penggalanagan dana harus dilakukan dengan cara kreatif. "Misalnya dengan membuat sesuatu yang bisa dijual dan itu akan lebih baik,"ucapnya.
Terkait penggunaan atribut kampus, Ade menyebut semua sudah diatur dalam statuta kampus dan aturan akademik. Dia menghimbau kepada mahasiswa yang meninggalkan asarama untuk kembali lagi. "Kami membuka pintu lebar lebar untuk mereka kembali ke kampus," pungkasnya.(isw)