JAMBI - Polisi masih menyelidiki kebakaran gudang penyimpanan minyak, di RT 06, Kelurahan Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, Rabu (10/7) lalu. Sementara ini, polisi mengaku sudah mengetahui identitas pemilik gudang minyak yang berlokasi di kawasan padat penduduk itu.
Kasat Reskrim Polresta Jambi, Kompol Yuyan Priatmaja mengatakan dalam waktu dekat akan memanggil pemilik gudang minyak yang diduga illegal tersebut. "Pemilik gudang berinisial B sudah kita ketahui. Kita juga sudah memeriksa beberapa orang saksi," katanya, Kamis (11/7)
Yuyan menyebutkan penyebab kebakaran adalah alat yang digunakan untuk melakukan penyedotan minyak dari tengki ke drum atau sebaliknya."Alat alkon penyebabnya. Karena ada gesekan dan minyak keluar dari selang sehingga timbul api. Alat itu berasal dari Cina," ungkapnya.
Tim penyidik Reskrim Polresta Jambi juga sudah mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi. Diantaranya, tiga mobil tanki, mesim alkon dan sejumlah peralatan lainnya. " Tanki mobil yang akan ada bekas api juga kita jadikan alat bukti," ujarnya.
Sebelumnya, warga sekitar menyebutkan pemilik gudang minyak tersebut bernama Budi Nias. Gudang tersebut sudah beropersi sejak satu tahun lalu. ‘’ Gudang itu punyo Budi Nias. Sudah setahun beropersi di sini,’’ kata Yesi, pemilik gudang plastik yang berada persis di samping gudang minyak tersebut.
Menurut Yesi, Budi menyewa lahan orang tuanya sebagai tempat gudang penyimpanan minyak tersebut. Bahkan ia pernah memperingatkan agar tidak lagi melakukan penyimpanan minyak di lokasi itu. "Saya sempat protes. Tapi bagaimana lagi dia hubungan nya sama orang tua saya," sebutnya.
Yesi mengungkapkan, pihak kelurahan juga pernah memperingatkan Budi agar tidak beroperasi (menyimpan minyak) di tempat tersebut. Namun peringatan itu tidak di indahkan. " Pemiliknya sudah diingatkan. Tapi masih saja operasi," katanya.
Sementara itu, sumber lain yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan gudang itu merupakan tempat bongkar muat minyak non subsidi dan minyak ilegal. " Informasi yang saya dapat gudang itu tempat mengoplos minyak. Mobil yang membawa minyak non subsidi sering masuk ke gudang tersebut. Di keluarkan dua drum, terus di isi lagi dengan minyak (diduga) ilegal dua drum. Ya... seperti di oplos gitu," jelasnya.
Sumber itu menyebutkan, proses bongkar muat dikakukan hampir setiap hari di gudang tersebut. Ini sangat berbahaya sekali karena lokasi tersebut padat penduduk. "Kalau dari pemukiman bisa dilihat sendiri, dekat sekali," tandasnya.
Ketua RT 06, Sijenjang, Suryadi mengatakan selama membuka gudang di wilayah tersebut, pemilik gudang tidak pernah melapor. "Saya tidak tahu awalnya. Saya fikir itu gudang rongsokan, sama seperti sebelahnya," katanya.
Menurut dia, gudang tersebut beroperasi di wilayah tersebut sejak Agustus 2018. Pihaknya juga telah melakukan pemberitahuan akan gudang tersebut ke Kelurahan. "Informasinya pihak kelurahan sudah dua kali menyurati agar gudang itu ditutup. Belum lagi peringatan ke tiga disampaikan, gudangnya malah meledak," sebutnya.
Bukan itu saja, lanjut Suryadi, berdasarkan laporan warga, di lokasi tersebut kerap keluar masuk kendaraan tanki dengan kapasitas besar "Kata warga gitu, tapi tidak tiap hari. Tapi ada gitu aktivitas mobilnya,"ujarnya.
Bahkan, kata dia, dia bersama warga sempat melakukan rapat membahas keberadaan gudang minyak tersebut. Mereka juga menghadirkan Babinsa, Babinkamtimas dan pihak kelurahan dalam rapat tersebut. Intinya warga minta aktivitas gudang minyak tersebut dihentikan.
Saat ditanya nama pemilik gudang, Suryadi mengaju tidak ingat. Dia hanya mengigat cirri ciri fisiknya. "Orang Medan, kalau dari gaya bicaranya. Kekar badannya. Sering membukakan pintu gudang,"jelasnya.
Namun, sayang saat Koran ini mencoba konfirmasi ke pihak Kelurahan Sijenjang, Lurah Sijenjang tidak berada di tempat. Yang ada hanyalah para stafnya. Konfirmasi dilakukan terkait surat peringatan yang disampaikan ke pemilik gudang.
Pantauan di lapangan, lokasi gudang yang terbakar tersebut sudah di pasang garis polisi (police line). Di lokasi tampak ada banyak drum (lebih kurang 45 drum), dan dua buah tanki. Kemudian ada sejenis tedmon sebanyak 10 buah berkerangka besi. (iws)