Polda Periksa Saksi dan Bukti, Cek CCTV untuk Mengetahui Anggota SMB yang melakukan Penyerangan

Selasa, 16 Juli 2019 - 07:44:50 WIB - Dibaca: 2201 kali

(eko siswono/Jambione.com)

JAMBI - Polda Jambi masih terus mengusut kasus penyerangan yang dilakukan massa Serikat Mandiri Batanghari (SMB) terhadap tim terpadu TRC Damkar, Karyawan PT WKS dan Satgas Karhutla  di Distrik VIII PT Wirakarya Saksi (WKS), wilayah Tanjab Baratm Sabtu (13/7) lalu. Selain meminta pimpinan (Ketua) SMB, Muslim menyerahkan diri, polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti.

            Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis AS mengatakan kasus penyerangan yang menyebabkan tiga orang terluka itu masih dalam proses penyelidikkan. Menurut dia, sejumlah orang sudah diperiksa sebagai saksi terkait penyerangan brutal tersebut."Kita masih terus mengumpulkan bukti bukti, saksi dan keterangan para korban," katanya, Senin (15/7)

            Muchlis mengatakan, sejumlah bukti dari lokasi penyerangan di camp karyawan dan kantor PT WKS di Distrik VIII sudah disita. "Kita kumpulkan CCTV, siapa siapa saja pelaku penyerangan itu. Kemudian kita juga melalukan mapping serta mengumpulkan keterangan baik dari korban karyawan, personil yang ada di lokasi saat kejadian," jelasnya.

            Dia juga menyebutkan keselamatan para personil saat penyerangan  dilalukan massa salah satu bahan evaluasi oleh pihaknya."Personil juga ada yang luka dan nyaris kena senjata rakitan (kecepek). Sejumlah kendaraan milk anggota juga rusak," sebutnya.

            Menurut Muchlis, konflik SMB dengan PT WKS merupakan maaasalah lama yang terus berlanjut tanpa ada penyelesaian yang jelas. Menurutnya, kelompok SMB  hanya menuntut kepemilikan lahan yang ada. "Saat ini masalah lahan itu ditangani Tim Terpadu Provinsi. Siapa saja yang pantas mendapatkan tanah," ungkapnya. 

            Muchlis memastikan massa yang melakukan penyerangan merupakan massa yang sama dengan yang melakukan pembakaran lahan seluas 10Hektare (Ha)."Iya mereka juga yang melakukan pembakaran,"katanya lagi.

            Hingga Senin kemarin, personel gabungan TNI-Polri masih berjaga di lokasi kejadian. Personel yang dikerahkan terdiri dari 100 prajurit TNI dan 230 anggota kepolisian." Lokasi kejadian masih dijaga ketat,’’ pungkasnya.

            Seperti diberitakan Sabtu (13/7), kelompok SMB pimpinan Muslim menyerang anggota Satgas Terpadu Karhutla yang memadamkan api di lahan konflik (milik PT WKS) yang sengaja mereka bakar.

Tiga orang dilaporkan terluka dalam penyerangan itu. Dua anggota TNI dan satu orang Pemadam kebakaran (Damkar) PT WKS. Selain itu, kelompok pimpinan Muslim ini juga merusak camp Distrik VIII PT WKS wilayah Tanjab Barat.  Seluruh karyawan terpaksa mengungsi  menyelamatkan diri ke Distrik IV, yang masuk wilayah Batanghari.

            Sebelumnya, kelompok ini juga menyerang pihak perusahaan. Terakhir, Rabu, 10 Juli lalu, kelompok  SMB terlibat bentrok dengan anggota koperasi pemilik IUP HTR di Desa Belanti Jaya, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari. Salah satu korbannya ketika itu adalah Kepala Desa Sengkati Baru, , Hendrianto.

            Namun, penyerangan anggota Satgas Karhutla Terpadu, Sabtu lalu benar benar tidak bisa ditolerir.  Kejadian ini juga membuat geram Dansatgas Karhutla Kolonel Arh Elphis Rudy. Dia minta kasus ini diusut tuntas oleh pihak kepolisian.

            Saat turun ke lokasi Minggu lalu, Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS menyerukan suapaya pimpinan SMB, Muslim menyerahkan diri. Kalau tidak polisi akan melakukan upaya paksa.

Sebelumnya, Danrem 042/Gapu Kolonel Arh Elphis Rudy, menjelaskan kronologis penyerangan anggota Satgas Karhutla di Distrik VIII PT WKS. Menurut dia, pada hari Jumat (12/7), Satgas Karhutla Terpadu yang terdiri dari gabungan TRC Damkar PT.WKS, Personel Polri, Babinsa dan Tim Satgas monitoring Karhutla Korem 042/Gapu, memadamkan api yang memebakar kurang lebih 10 hektar lahan di dua lokasi milik PT WKS.

Lahan tersebut terindikasi sengaja dibakar oleh kelompok SMB. Karena beberapa kelompok SMB berusaha mencegah pemadaman tersebut. Pemadaman dilakukan karena dikuatirkan kebakaran dapat meluas ke daerah lain dan menjadi bencana kebakaran hutan dan lahan. 

Lalu, pada Sabtu, 13 Juli, sekita 60 orang dari kelompok SMB dipimpin Muslim merangsek masuk ke Distrik VIII untuk mencari Tim Damkar yang memadamkan api. Pada saat kedatangan kelompok SMB, Anggota Satgas monitoring Karhutla Korem dan Anggota Polri melihat adanya kemungkinan  kelompok tersebut akan melakukan pembakaran lahan lagi. Karena mereka membawa senjata rakitan, senjata tajam dan alat-alat lainnya.

Ketika itu, anggota Satgas berusaha melakukan komunikasi untuk mencegah dan menghimbau kelompok tersebut dan menjelaskan bahwa pembakaran dapat berdampak luas. Namun kelompok SMB marah dan melakukan pemukulan terhadap TRC Damkar dan karyawan PT.WKS yang ada di lokasi. Akibatnya tiga orang terluka. 

"Pemukulan SMB tersebut juga sempat mengenai 2 orang personel Satgas Monitoring Karhutla Rem 042/Gapu yang mengakibatkan lebam dan lecet," kata Elphis. Bahkan karyawan PT WKS yang jadi korban mengalami patah tulang kaki.

Elphis mengatakan salah satu tugas mereka dalam siap siaga Karhutla adalah menjamin dan menjaga masyarakat Jambi bebas dari bencana Karhutla. ‘’ Kami berkomitmen untuk itu. Namun masih ada segelintir orang yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan sengaja membakar lahan,"tandasnya.

            ‘’ Saya sangat menyesalkan kejadian ini. Personel saya bersama tim pemadam lainnya sudah berjibaku melawan ancaman kebakaran hutan dan lahan, justru ikut di perlakukan tidak semestinya (dipukul),’’ sambungnya.

            Menurut Elphis, kelompok SMB ini telah melakukan tindakan kriminalisme dan premanisme. Mereka sengaja membakar lahan padahal sudah dilarang dengan Perda dan Pergub.  Pembakaran ini jika dibiarkan dapat menjadi bencana kebakaran bagi Jambi. Mereka juga menggunakan senjata rakitan ilegal untuk melukai orang dan senjata ini dilarang karena bisa mematikan. Mereka juga memprovokasi,  mengintimidasi dan menganiaya masyarakat dan berani menyerang aparat yang tidak bersenjata.

“Hukum harus di tegakkan, ini tidak bisa dibiarkan. Kita tidak boleh kalah dengan Premanisme,”tegasnya.(isw)

 



Tags:


BERITA BERIKUTNYA