Sebagian kecil jamaah haji Indonesia telah menyelesaikan ritual lempar jumrah aqabah, Minggu (11/8) pagi Waktu Arab Saudi (WAS). Mereka mengejar waktu afdoliyah (utama) untuk melempar batu di Jamarat.
Agus Supardi, jamaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 39 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) mengatakan, bersama rombongan yang berjumlah 91 orang memilih berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina. Sebab, bus angkutan jamaah tersendat karena padatnya kondisi jalan raya menuju Mina.
"Kita jalan kaki dari Muzdalifah jam 01.00 (dini hari tadi) ke Mina. Biar ngejar lempar jumrah aqabah pas subuh," kata jamaah haji asal Cilegon, Banten ini.
Agus mengatakan, setelah melempar jumrah aqabah, dia bersama rombongan langsung kembali ke hotel yang lokasinya tak begitu jauh dari Jamarat. Dia akan beristirahat sebentar di hotel sebelum melanjutkan dengan tawaf ifadah. "Total kami berjalan sekitar 10 kilometer dari Muzdalifah, Mina, ke sini (Mekkah)," katanya.
Markhumah, rekan jamaah haji lainnya, menuturkan saat tiba, kondisi Jamarat telah menjadi lautan manusia. Jamaah haji dari berbagai negara juga melakukan lempar jumrah Aqabah saat waktu yang diutamakan. "Sudah berdesak-desakan, alhamdulillah bisa melempar jumrah," katanya.
Apa yang dilakukan jamaah haji Kloter 39 JKG sebenarnya di luar jadwal yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi. Pada 10 Zulhijjah (11 Agustus 2019), jamaah haji Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dilarang melempar jumrah Aqabah dari pukul 04.00 hingga 10.00 WAS.
Kebijakan ini karena pada jam-jam tersebut, kondisi jalan dari tenda di Mina menuju Jamarat sangat padat. Mereka akan berdesakan dengan jamaah haji dari negara lain yang postur tubuhnya lebih besar, sehingga bisa menimbulkan risiko yang tidak diinginkan. Jamaah haji Asia Tenggara baru dipersilakan melempar jumrah Aqabah setelah pukul 10.00 WAS
Sebelumnya, lebih dari 2 juta muslim berkumpul di Padang Arafah, Sabtu (10/8). Mereka menjalani wukuf yang dimulai sejak tergelincirnya matahari hingga menjelang Magrib. Selama waktu yang disebut sebagai puncak ibadah haji itu, jamaah melakukan refleksi diri dan berdoa sekhusyuk-khusyuknya. Sekaligus memaknai ibadah haji sebagai kesetaraan dan persatuan umat.
Untuk jamaah Indonesia, ada dua tenda besar yang disiapkan sebagai masjid. Naib (wakil) Amirulhaj Bunyamin Ruhiyat bertugas memberikan khotbah. Kiai yang juga merupakan pemimpin Pesantren Cipasung tersebut mengawalinya dengan bacaan talbiah. Jamaah yang lokasi tendanya tidak jauh dari tenda masjid utama mendekat untuk mengikuti khotbah itu, sementara yang lainnya menjalankan ibadah dan berdoa di tenda masing-masing.
Menteri Agama sekaligus Amirulhaj Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan syukur karena jumlah jamaah Indonesia yang sakit untuk sementara ini menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu. Dia mencontohkan, jamaah yang mengikuti safari wukuf tercatat hanya 65 orang. Bandingkan dengan tahun lalu yang mencapai lebih dari 360 orang.
Selain itu, ada 111 jamaah batal haji karena wafat dan 119 jamaah badal haji karena sakit. Jamaah badal sakit secara medis kondisinya tidak memungkinkan dibawa ke Arafah meskipun dengan menggunakan ambulans atau bus khusus. “Dalam banyak hal, banyak kemajuan dibanding (penyelenggaraan haji, Red) tahun lalu,” katanya.
Kepala Pusat Kesehatan Haji (Puskeshaj) Kemenkes Eka Jusuf Singka melakukan pengecekan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Arafah. Dia menjelaskan, sejak dibuka pada Jumat malam (9/8), ada 59 orang yang dirawat di klinik berkapasitas 50 tempat tidur tersebut. “Tahun lalu 70 jamaah,” tuturnya.
Mereka umumnya masuk KKHI Arafah karena dehidrasi. Akibatnya, penyakit bawaan dari tanah air menjadi lebih buruk. Misalnya, penyakit darah tinggi atau kencing manis. Untuk itu, beberapa jam sebelum wukuf, jamaah diingatkan untuk mengurangi aktivitas di luar tenda. Imbauan tersebut disampaikan lewat pengeras suara. Apalagi, suhu terus beranjak naik. Dari 33 derajat Celsius saat pagi menjadi 39 derajat Celsius pada pukul 13.00 WAS.
Setelah selesai khotbah, terjadi anomali cuaca. Yang sebelumnya panas mendadak mendung. Sekitar pukul 15.00 WAS (19.00 WIB) turun hujan lebat. Hujan disertai embusan angin tersebut mengguyur lumayan kencang. Selain itu, guntur menggelegar bersahutan. Kondisi lampu di tenda petugas haji mati karena aliran listrik padam. Tenda tersebut terbuat dari plastik dengan rangka baja ringan sehingga cukup kuat menahan embusan angin. Hujan turun hampir bersamaan dengan pengiriman petugas haji gelombang pertama menuju Muzdalifah.
Setelah selesai wukuf, jamaah akan menjalani fase rangkaian haji berikutnya. Mulai mabit di Muzdalifah dan Mina; melontar jumrah Aqabah, Ula, dan Wusto; hingga tawaf dan sai di Masjidilharam.
Pemulangan jamaah haji gelombang pertama menuju tanah air akan dimulai 17 Agustus. Selanjutnya, jamaah haji gelombang kedua diberangkatkan ke Madinah mulai 20 Agustus. Jamaah gelombang kedua pulang ke tanah air dari Madinah pada 30 Agustus. Proses pemulangan berakhir sampai 16 September.
Sementara itu, di antara kerumunan jamaah haji tahun ini, terdapat sekitar 200 warga Christchurch, Selandia Baru. Mereka merupakan survivor, keluarga, atau para penduduk muslim wilayah tersebut yang selamat dari teror penembakan di masjid pada 15 Maret lalu. Kerajaan Arab Saudi mengundang mereka untuk berhaji secara gratis sebagai bentuk solidaritas umat beragama Islam. “Ini adalah cara kami untuk melawan dan mengalahkan terorisme,” ujar Menteri Urusan Agama Islam Arab Saudi Abdulaziz Al Sheikh kepada CNN.
Salah seorang di antara mereka adalah Maryam Gul. Dia bahagia bisa berhaji, namun juga bersedih. Orang tuanya, termasuk saudara laki-lakinya, terbunuh dalam aksi penembakan itu. Sendirian, perempuan 31 tahun tersebut menyembuhkan hatinya dengan melihat Kakbah. “Ini adalah simbol perdamaian. Simbol dari Tuhan,” ungkapnya.(jpg)