JAMBI – Kabut asap disertai debu yang menyelimuti Kota Jambi beberapa hari terakhir salah satunya berasal dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Musi Banyu Asin (Muba), Sumatera Selatan. Saat ini, luas lahan gambut yang terbakar di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Muba mencapai 3.290 hektare (ha) dengan kedalaman 3 hingga 4 meter. Pihak Pemerintah Muba meminta maaf atas asap yang menyelimuti Kota Jambi dari wilayahnya.
Permintaan maaf ini disampaikan Staf Ahli Bidang Politik, Hukum dan Pemerintahan Bupati Muba, Hariyadi, kepada wartawan di Korem 042/GAPU/Jambi, Senin (19/8) kemarin. Menurut dia, dalam kurun waktu satu pekan ini, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 3.290 hektar. ‘’ Yang terbakar itu lahan gambut dengan kedalaman 3-4 meter,’’ katanya.
Menurut Hatiyadi, segala upaya saat ini dilakukan Pemkab Muba dan Pemprov Sumsel untuk menangani karhutla di wilayah tersebut. "Kita melakukan pemadaman baik dari udara maupun dari darat,"ungkapnya.
Saat ini pihak Satgas Karhutla Sumsel mengerahkan 5 helikopter untuk melakukan water bombing (Bom air) dari udara. "Makanya kita juga koordinasi dengan BPBD Muarojambi dan Jambi. Pertama kami akan mengisi bahan bakar di Bandara Jambi dan parkir heli. Lalu kami juga minta izin mengambil air di wilayah Muarojambi (kanal kanal yang ada) karena di wilayah karhutla kita sudah sulit mendapatkan air,"jelasnya.
Saat ini, lanjut Hariadi, lebih kurang sekitar 5.000 personil TNI, POLRI, BPBD, Manggala Agni, Damkar dan masyarakat dikerahkan melalukan pemadaman di lokasi. "Baru siang ini masuk lagi 100 brimob Polda Sumsel membantu melakukan pemadaman,"ungkapnya.
Hariyadi meminta maaf kepada Masyarakat Kota Jambi. Akibat karhutla yang terjadi di Muba asap masuk ke Kota Jambi. "Saya mewakili pemkab Muba meminta maaf atas asap yang masuk ke wilayah Jambi dan menganggu aktivitas,"ucapnya.
Tidak hanya itu, dia menduga kecepatan angin yang membuat asap tersebut sampai ke Jambi. "Asap itu kencang ke arah Jambi,"ujarnya. Saat ditanya apakah lahan tersebut milik PT HBL, Hariyadi membantah. Menurutnya yang terbakar tersebut merupakan lahan masyarakat di sekitar perusahahaan.
" Yang kita ketahui saat ini, itu punya masayarakat. Apakah itu lahan perusahaan nanti akan kita dalami,"katanya.
Lebih lanjut Hariadi mengatakan, saat ini kabupaten Musi Baynyuasin sudah meningkatkan level siaga karhutla menjadi bencana kebakaran hutan dan lahan. Peningkatan status itu bukan tampa alas an. Pasalnya di satu wilayah saja sudah 3.290 hektare lahan yang terbakar. “Saya juga akan menemui gubernur Jambi untuk berdiskusi agar Jambi tidak seperti Musi Banyuasin,”pungkasnya.
Sementara itu, Wadansatgas Karhutla Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah mengatakan kerja sama antara dua provinsi itu diawali dengan satu helikopter milik Sumatera Selatan terparkir di Provinsi Jambi untuk melakukan Water Bombing.
"Ada lima helikopter yang dari Sumsel sengaja di parker di Jambi, karena letak geografis Desa Medak lebih dekat dari Jambi. Jika diperlukan helikopter itu bisa digunakan memadamkan api di provinsi Jambi." Katanya.
Dampak asap yang belakangan melanda Kota Jambi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi menyatakan kondisi nya masih terbilang Sedang, dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terkini berada diangka 75.
Kasi Pengendalian Pencemaran DLH Provinsi Jambi Dian Hariani mengatakan, terkait kondisi yang disampaikan oleh Pemerintah Kota itu sama dengan hasil dari pada data yang dimiliki pemerintah provinsi.
"Data ISPU itu adalah data 24 jam. Di rilis setiap jam 15.00 Wib setiap hari dari 5 parameter dasar. Sampai saat ini kondisi nya sedang. Data yang dimiliki kota dan provinsi itu sama, alat pengukurnya pun sama yang di pasang di seputaran kantor walikota," kata Dian
Dengan adanya kebijakan dari Pemerintah Kota meliburkan sekolah, merupakan kebijakan kepala daerah masing masing sesuai data yang mereka miliki. "Kalau kota mengambil data riltem, ya boleh boleh saja. Kan kepala daerah punya keputusan masing masing. Kalau DLH ambil data dari ISPU," ujarnya.
Selanjutnya, Dian juga menjelaskan data yang dibaca di alat DLH untuk ukuran baik dari kisaran 0 sampai 50. Lalu kategori sedang dari 51 sampai 100. "Kita punya kategori ukur dari ISPU, baik dari 0 sampai 50, sedang 51 sampai 100," sambungnya.
Lebih lanjut mengenai alat kualitas udara milik DLH Provinsi Jambi yang saat ini rusak, menurut Dian, meskipun dinyatakan error tetapi masih bisa terbaca. Karena mereka menggunakan data perbanding dan ternyata hasilnya sama. "Kalau pun dinyatakan rusak, itu terbaca, kami sudah memasukkan data pembanding yang terpasang di DLH Provinsi Jambi," jelasnya.
Kemudian Kasi P2PLP Dinas Kesehatan Provinsi dr Ike juga menambahkan terkait dengan data ISPA dari Minggu pertama bulan Agustus belum ada peningkatan. "Belum ada peningkatan sampai dengan kami dapatkan Minggu pertama Agustus. Tapi beberapa tindakan yang kita ambil mulai dari menyiapkan masker, obat obatan dan mengirimkan surat ke kabupaten kota mudah mudahan Jambi tidak ada masalah," katanya.(isw)