MUARA BULIAN – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus meluas. Selain lahan masyarakat dan konsesi perusahaan, kebakaran juga merembet ke Tanaman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha, Syaipuddin, di Kabupaten Batanghari. Kepala pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batanghari, Nazhar mengatakan luas lahan yang terbakar di Tahura Senami sekitar 25 hektar.
Dia menduga kebakaran terjadi sengaja dilakukan oknum masyarakat. Titik api muncul pertama pada Kamis (22/8) bertepatan dengan musibah salah satu petugas Manggala Agni Daops Muara Bulian, Asmara tertimpa pohon. "Kebakaran di sana (Tahura Senami) terjadi selama tiga hari. Kemarin saya telepon BPBD Provinsi Jambi minta bantuan pemadaman api," katanya, Minggu (25/8).
Menurut Nahzar, kobaran api dalam kawasan Tahura Sultan Thaha Syaifuddin berada dalam wilayah KM 13 Dusun Senami, Desa Jebak, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Jambi. Api berhasil dipadamkan helikopter water bombing sekitar pukul 14.05 WIB kemarin. "Upaya pemadaman melalui udara dengan helikopter water bombing dilakukan BNPB sejak pukul 12.05 hingga 14.05 WIB," jelasnya.
Lebih lanjut Nahzar mengatakan, proses pemadaman kebakaran Tahura STS Senami selama tiga jam membutuhkan 30 kali water bombing. Petugas BPBD Batanghari terlebih dahulu melakukan monitoring titik api bersama anggota Satgas Karhutla BNPB Pusat, Kalak BPBD Provinsi Jambi dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batanghari. "Kondisi di lapangan pada pukul 14.03 WIB api masih hidup dan banyak mengeluarkan asap di sekitar area, sehingga menggangu aktifitas masyarakat pengguna jalan," katanya.
Usai proses pemadaman kebakaran 3 jam, sekitar pukul 17.06 WIB operasi pemadaman jalur darat resmi dihentikan. Pemadaman jalur darat melibatkan TNI-Polri. "Petugas pemadam jalur darat kesulitan memadamkan api akibat lokasi sulit terjangkau. Alasan inilah akhirnya kita minta bantuan helikopter water bombing," pungkasnya.
Sementara itu, dari Tanjab Timur dan Tanjab Barat dilaporkan kabut asap makin pekat dan menanggagu aktivitas warga. Di Tanjab Timur, sejak 22 Agustus lalu Dinas Pendidikan Tanjabtim telah meliburkan sekolah karena udara sudah masuk kategori tidak sehat. Sejak itu pula hingga saat ini kualitas udara belum menunjukkan peningkatan. Bahkan wilayah Tanjabtim Mulai diselimuti Kabut Asap.
Akibat kabut asap ini sejumlah tempat rekreasi yang biasa dipadati pengunjung terlihat lengang di sore hari. Biasanya di hari libur, tempat rekreasi, seperti taman rakyat selalu ramai dikunjungi warga bersama keluarga untuk menghabiskan waktu libur. Namun berbeda dengan kondisi saat ini, hanya terlihat beberapa remaja saja yang terlihat di taman rakyat Tanjabtim.
Randi, warga Kelurahan Talang Babat yang biasanya menghabiskan akhir pekan bersama dua adiknya kini tidak lagi. Karena kabut asap sudah sangat mengganggu kesehatan. "Kan sudah mulai terasa, khususnya untuk mata terasa pedih,"katanya.
Randi pun mengaku jika tidak terlalu penting karena ingin bertemu rekannya, dia memilih menghabiskan waktu di rumah untuk saat ini. "Lebih di anjurkan dirumah. Karena kebetulan ibu juga orang kesehatan,"ujarnya.
Tidak hanya di Taman Rakyat, taman rekreasi lainnya juga terlihat sepi. Di Taman Selaras Pinang Masak (SPM) di kecamatan Sabak Timur, misalnya. Biasanya selalu dipadati pengunjung dari kabupaten tetangga, kini terlihat sepi. Karena untuk wilayah Kecamatan Sabak Timur sendiri kabut asap lebih tebal menyelimuti di bandingkan wilayah lain. "Udaranya mulai bikin sesak. Dan asap nya cukup terasa" kata Risa, salah seorang pengunjung yang mengaku tidak akan lama-lama di lokasi SPM.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Gustin ketika dikonfirmasi mengaku belum mengetahui indikator udara Minggu kemarin. "Untuk hari ini belum kita cek, udara dalam kategori apa," ujarnya. Jika di lihat secara kasat mata indikator udara jauh lebih buruk di banding hari sebelumnya.
Asap pekat yang menyelimuti kawasan perairan Tanjung Jabung (Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur) sudah menganggu aktifitas pelayaran. Direktur Polisi Air dan Udara (DitpolAirud) Polda Jambi, Kombes Pol Fauzi Bakti Mochji menghimbau kepada semua nelayan untuk tidak memaksakan berlayar di perairan Tanjung Jabung baik Tanjabtim maupun Tanjabbar. "Kalau memang kondisinya dan jarak pandang sangat menganggu jangan paksakan berlayar, itu bahaya untuk keselamatan,"katanya, Minggu (25/8)
Fauzi menegaskan pihaknya meminta kepada para nelayan jika harus terpaksa berlayar untuk keperluan yang mendesak bisa mendatangi pos Polairud yang terdekat. " Nanti tim akan bantu jika itu mendesak harus berlayar,"ujarya.
Dia juga menghimbau kepada masyarakat untuk menggunakan masker dalam berlayar. "Masker harus digunakan kesehatan dan keselamatan tetap di utamakan,"tandasnya
Sementar itu, sejumlah nelayan mengatakan asap mulai menyelimuti pelabuhan Marina Kuala Tungkal sejak siang tadi. "Siang sampai sore pekat semakin jadi,"kata salah seorang nelayan.
Dia juga tidak tau dari mana asap itu berasal, apakah asap itu kiriman atau seperti apa. "Entah saya juga ga tau, kiriman apa tidak. Yang jelas payah mau berlayar kalau gini,"ujarnya.(fai/zal/isw)