JAMBI - Kebarakan Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi terus meluas. Data per 28 Agustus 2019 luas lahan yang terbakar mencapai 712 hektare (Ha). Bahkan kabut asap masih berpotensi menjadi ancaman bagi warga Kota Jambi dan kabupaten lainnya. Beberapa hari terakhir asap mulai kembali masuk Kota Jambi, setelah sempat hilang disiram hujan pekan lalu.
Kepala DLH Kota Jambi, Ardi mengatakan, dari pantauan alat AQMS yang ada di lapangan balaikota Jambi, kondisi udara di awal bulan September ini pada kategori baik. Namun dilihat data real-time pada tanggal 1 September, terdapat kecenderungan kenaikan parameter partikel 2,5 dan terkategori tidak sehat, sejak pukul 18.00 wib hingga pukul 01.00 dini hari.
“Kondisi kualitas udara di kota Jambi saat ini tergantung kondisi arah angin dari peristiwa karhutla, sehingga yang mengakibatkan meningkatnya partikulat parameter,” sebutnya.
Menurutnya , pada 1 September, kota Jambi mengalami bau hasil pembakaran yang sangat menyengat. Sehingga beberapa daerah kabupaten tetangga di kota Jambi yang masih terdapat peristiwa karhutla tersebut.
“Kita masih mengimbau warga jika keluar rumah untuk mengenakan masker, agar kondisi kesehatan tetap terjaga,” pungkasnya.
Terpisah, Kasi Data dan Informasi Badan Metreologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi, Kurnia Ningsih mengatakan asap yang menyelimuti Kota Jambi diprediksi berasal dari dua wilayah. "Kalau siang angin dari arah selatan (Musi Banyuasin, Sumatra Selatan) dan malam hari angin dari arah timur (Tanjung Jabung Timur),"katanya, kemarin. (2/9).
Untuk di ketahui di dua wilayah tersebut lahan yang mengalami kebakaran cukup luas. Diantaranya di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Muba mencapai 3.290 hektare (ha) dengan kedalaman 3 hingga 4 meter. Sedangkan Tanjung Jabung Timur yang mencapai 250 hektare lebih.
Menurut Kurnia Ningsih, Kota Jambi terkontaminasi asap yang diduga bersumber dari dua wilayah tersebut. "Senin (2/9/2019) jaral padang pada pukul 6.00 wib mencapai 500 meter, Pukul 06. 30 wib jarak padang mencapai 3.900 meter, Pukul 07.00 wib 3.400 meter, Pukul 07.30 Wib mencapai 5000 meter dan terkahir pukul 08.00 Wib mencapai 6000 meter dengan jarak padang berasap,"ungkapnya.
Sedangkan titik Hotspot di Provinsi Jambi terdapat 48 titik yang terpantau melalui satelit tera dan aqua. Titik api itu tersebar di tiga kabupaten. Yakni Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat dan Batanghari. "Batanghari terdapat 13 titik hotspot yang berada di Kecamatan Bajubang, dengan rincian tingkat kepercayaan di atas 50 persen dan hal itu berpotensi menjadi titik api,"ungkapnya.
Kemudian, di Tanjung Jabung Barat berada di Kecamatan Betara 7 titik. Tingkat kepercayaan di atas 50 persen. Sedangkan titik terbanyak berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sebanyak 27 titik panas berada di Kecamatan dendang, dan satu titik berada di Kecamatan Berbak. "Dengan angka kepercayaan di atas 50 persen hingga 100 persen,"ungkapnya lagi.
Sementara itu, Asmuni salah satu ketua RT di Desa Pematang Lumut, Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat mengatakan kebakaran yang terjadi di wilayah itu sangat menghawatirkan. Pasalnya kobaran api sangat dekat dengan pemukiman warga. " Yang terbakar lahan pinang dan karet. Kita minta bantuan pemadam yang lebih banyak, karena ini dekat pemukiman warga,"katanya,Minggu (1/9).
Selain itu, tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat pipa yang diduga pipa minyak (belum diketahui milik perusahaan mana)."Kalau api itu meluas ke arah pipa gawat. Kalau pipa itu meledak, pematang lumut bisa habis,"pungkasnya.
Dua bulan, 230.09 Ha Lahan Terbakar di Sarolangun
Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla) juga menjadi ancaman serius di Kabupaten Sarolangun. Berdasarkan data dari Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sarolangun, dalam dua bulan, Juli dan Agustus 2019, luas lahan yang terbakar di daerah tersebut mencapai 230.09 Hektar (Ha) lebih.
Menurut dia, ke 230,09 hektar lahan yang terbakar itu tersebar di sejumlah kecamatan. Diantaranya, Kecamatan Sarolangun 45.57 Hektar, Bathin VIII 4,1 hektar. Berikutnya,
Kecamatan Pelawan pada bulan Agustus terjadi 4 Kali karhutla dengan total lahan terbakar 5,2 Hektar. Lalu, Singkut 4 Hektar, dan Limun 80 Hektar hutan lindung yang terbakar.
Selanjutnya, kecamatan Cermin Nan Gedang 3.16 Hektar, Pauh 39.46 Hektar, Mandiangin 33 Hektar, dan Kecamatan Air Hitam 15.4 Hektar. “Dari sekian banyak kejadian, yang paling luas karhutlanya kecamatan Limun, Sarolangun, Pauh, Mandiangin dan Air Hitam. Yang terbakar tersebut lahan gambut, perkebunan perusahaan, hutan lindung, lahan perkebunan milik warga,” jelasnya. (isw/ali/wel)