JAMBI – Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (IKAMI SULSEL) Cabang Jambi, Sabtu malam (5/10) kemarin, menggelar malam Masa Keakraban dan Hari Lahir IKAMI SULSEL ke 58.
Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik dalam acara Makrab dan Harla IKAMI tahun ini adalah, IKAMI Sulsel sukses menggelar pemilihan anak dara kalolo tahun 2019. Para finalis berasal dari kabupaten/kota se Provinsi Jambi.

Puluhan finalis yang mengikuti ajang ini menggunakan busana khas bugis. Masing-masing finalis kemudian berjalan di atas catwalk. Selanjutnya dewan juri kemudian menyaring 10 besar finalis. Lima anak dara dan lima kalolo. Dalam tahapan ini, dewan Juri mengajukan sejumlah pertanyaan tentang wawasan finalis dalam mengenal sejarah, budaya dan tradisi masyarakat bugis.
Dari hasil jawaban finalis, dewan juri akhirnya memutuskan pemenang anak dara kalolo IKAMI Sulsel 2019. Yang terpilih menjadi anak dara IKAMI 2019 adalah Besse Sarina Lestari dan kalolo IKAMI 2019 adalah Debi Irfan.
Sementara itu dewan penasehat IKAMI Sulsel Cabang Jambi, Junaidi mengapresiasi kegiatan yang dilakukan IKAMI. Dan ia menilai sangat kreatif.
Namun, sebagai tokoh masyarakat bugis di Jambi, ia pun berpesan agar IKAMI lebih mengkedepankan identitas bugis itu sendiri seperti penguasaan aksara bugis, budaya dan adat istiadat bugis seprti prosesi pernikahan dan dalam bidang keagamaan salah satunya adalah pembacaan barzanji.
“ Sebagai orang bugis yang harus kita kedepankan adalah identitas diri kita sebagai orang bugis. Jangan sampai kita orang bugis tidak tahu dengan sejarah, budaya dan adat istiadat kita,” kata Junaidi.
Ketua Jurusan Ilmu Jurnalisitik UIN STS Jambi itu juga menyatakan bahwa, pada prinsipnya hal yang terpenting harus dijaga adalah bahasa bugis. Diungkapkannya, dikehiudpan era saat ini, banyak generasi muda bugis yang tidak tahu dan melafalkan bahasa bugis.
Menurutnya persoalan ini tidak boleh dianggap remeh, ia menghawatirkan apabila generasi muda bugis tidak mengenal bahasanya sendiri maka ia pun tidak akan mengenal dan mengetahui jati dirinya. Dengan hal ini ia pun meminta dan mengharapkan kepada orang tua untuk terus mengajarkan anak-anaknya berbahasa bugis.
“ Hal yang penting harus kita lakukan adalah menjaga bahasa kita. Jangan sampai kita orang bugis tidak tahu dengan bahasa bugis. Dan ini tugas orang tua dan kita semua untuk terus menjaga dan melestarikan budaya-budaya kita orang bugis,” lanjut Junaidi kepada Jambi One.com.(*)