Menggali Peninggalan Sejarah di Parit Culum I, Muarasabak

Senin, 01 Juli 2019 - 06:13:10 WIB - Dibaca: 2862 kali

()

Sumur dan Goa yang Diklaim tempat Pemandian Raja Bikin Heboh

 

Parit Culum,  di Muarasabak, Tanjab Timur menyimpan banyak peninggalan sejarah. Daerah ini diklaim memiliki bahasa melayu tertua. Lalu juga ditemukan sejumlah peninggalan Dinasti Song Abad Ke-11-13. Yang terannyar, Parit Culum kembali dihebohkan dengan keberadaan sumur pemandian dan goa, yang disebut sebut peninggalan raja terakhir melayu Jambi, Sultan Thaha Syarifudin.

 

AFRIZAL NOOR – MUARASABAK

 

 

Kelurahan Parit Culum Kecamatan Muarasabak Barat sedari dulu memang banyak ditemukan sejumlah peninggalan sejarah. Mulai dari arca dewi, wadah perunggu, dan ratusan keping koin kuno. Sejumlah penemuan tersebut pun dikaitkan dengan peninggalan Dinasti Song pada abad Ke-XI hingga XIII.

            Bahkan dari hasil penelitian yang dilakukan Kantor Bahasa Provinsi Jambi, dialeg masyarakat Kelurahan Parit Culum I diklaim sebagai bahasa melayu tertua dan masuk kategori bahasa proto. Sayangnya, penelurusan terhadap peninggalan sejarah di Parit Culum I Kecamatan Muarasabak Barat ini tak kunjung rampung.

Bahkan beberapa peninggalan sejarah seperti arca dan koin kuno telah raib entah kemana. Kini, warga setempat kembali dihebohkan dengan keberadaan sumur di salah satu kebun warga. Sumur tersebut disinyalir sebagai tempat pemandian raja terakhir Melayu Jambi, Sultan Thaha Syarifudin.

Sumur yang berbentuk semacam perigi tersebut, dikelilingi oleh lapisan bebatuan yang tersusun rapi. Menariknya lagi, di tepi sumur tersebut terdapat goa, yang sempat digunakan raja sebagai tempat persembunyiannya.

Cerita ini diungkapkan Nangati, seorang ibu rumah tangga yang mengaku sebagai anak bungsu dari Raden Hasan, yang merupakan cucu dari Inu Kertapati, anak dari Raja Sultan Thaha Syarifudin. “Raja Sultan Thaha itu buyut saya. Dan saya mendapat mandat untuk mengurus tanah yang di dalamnya terdapat sumur pemandian raja tersebut,” katanya.

            Menurut Nangati, cerita tentang sumur pemandian raja tersebut dia peroleh dari ayahnya Raden Hasan, yang telah menguasai tanah tersebut sejak tahun 80 an. Dimana saat Raja Sultan Thaha menetap di lokasi tersebut, disekitar sumur banyak dijumpai pohon durian.

            Terkait keberadaan sumur yang diklaim sebagai tempat pemandian raja tersebut, Lurah Parit Culum I, Usman pun membenarkannya. Meski tidak dapat memastikan kebenaran cerita tersebut, namun beberapa orang dari Kota Jambi dikabarkan telah mendatangi lokasi tersebut. “Ceritanya sih seperti itu, tapi saya kurang tahu juga benar atau tidaknya,” katanya.

Menurut Usman, keberadaan sumur yang diklaim sebagai pemandian raja itu baru mencuat sekitar satu pekan terakhir. Kata dia, Nangati sendiri merupakan warga baru yang menetap di Kelurahan Parit Culum I. Begitu juga soal kepemilikan lahan yang diatasnya terdapat sumur dan goa, pihak kelurahan tidak dapat memastikan kepemilikan lahan tersebut.

            “Pemilik lahan itu yang sampai saat ini saya belum tahu. Kalau Ibu Nangati sendiri merupakan warga baru,” pungkasnya.(***)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA