Air Sungai Batanghari Menyusut, Kota Jambi Terancam Krisis Air

Sabtu, 06 Juli 2019 - 06:13:45 WIB - Dibaca: 1794 kali

()

JAMBI - Provinsi Jambi, khususnya Kota Jambi terancam krisis air bersih.  Sejak beberapa pekan terkahir, hujan tak lagi turun. Dampaknya debit air Sungai Batanghari menyusut. Bahkan kini sudah berada di bawah ketinggain normal. Padahal Sungai Batanghari menjadi sumber air PDAM Tirta Mayang yang mengalir ke rumah warga Kota Jambi.

            Penjaga pintu air kawasan Ancol, Kecamatan Pasar Kota Jambi, Syahrudin, mengatakan ketinggian debit Sungai Batanghari, Jumat (5/7) berada di angka 7,70 meter. Angka itu jauh di bawah ketinggian normal debit Sungai Batanghari. “Ketinggian normal debit Sungai Batanghari 9 hingga 12 meter,” katanya.

            Menurut Syahrudin,  turunnya debit air Sungai Batangahri sudah dimulai pasca hari raya Idul Fitri lalu. Sejak itu, debit air terus menyusut sampai sekarang. ‘’Ini kemarau nian nampaknyo, tidak ada hujan lagi,” ujarnya.

            Selain PDAM, lanjut, Syahrudin, menyusutnya debit air Sungai Batanghari juga berdampak pada sumur-sumur warga. Kini banyak sumur warga yang kering. Diantaranya, di kawasan Jelutung, Telanaipura. Jika hutan tidak turun, dia memperkirakan Sungai Batanghari akan terus menyusut.

            Terpisah, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Jambi, Adi Setiadi,  mengatakan saat ini Jambi memang pada fase musim kemarau. Hal ini sudah terjadi sejal awal Juni lalu. “Curah hujan  kurang dari 50 mm per dekade,” katanya.

            Menurut  Adi, sifat hujan pada musim kemarau 2019 ini di bawah kondisi normal musim kemarau pada umumnya. Artinya, hujan kurang dari rata-rata normal. Puncak Kemarau  akan terjadi pada Agustus mendatang.  “Sekarang cuaca sudah mulai kabur. Ada asap,” sambungnya.

            Adi mengungkapkan, pergerakan hujan tiga bulan kedepan, untuk wilayah timur Jambi masuk dalam kageori rendah, yakni 50 hingga 100 mm. Sementara untuk wilayah Jambi bagian barat diperkirakan dalam kategori menengah, yakni 100-200 mm.

            Saat ini kata Adi, menunjukan diatmosfir jumlah air berkurang. Itulah yang menyebabkan albido, sehingga jumlah radiasi yang diserap lebih banyak dari yang dipancar.

“Panasnya memang berbeda,” pungkasnya.(ali)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA