JAMBIONE.COM, JAMBI - Klan Asafri Jaya Bakri (AJB) mulai mengakar di Kota Sungai Penuh. Memasuki periode kedua Walikota di daerah pemekaran Kabupaten Kerinci ini, kini putra AJB Fikar Azami yang saat ini menjabat Ketua DPRD Sungai Penuh juga mulai digadang-gadang bakal maju menjadi Calon Walikota Sungai Penuh melanjutkan kepemimpinan sang ayah.
Selain itu, sang adik Ezzaty juga terjun ke dunia politik, bahkan mampu meraih suara signifikan pada Pemilu 2019 lalu, yang mendudukkannya sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi dari Partai Demokrat.
Teranyar istri AJB juga mulai membidik dunia politik. Tak tanggung-tanggung, ia langsung menduduki pucuk pimpinan sebagai Ketua NasDem Sungai Penuh. Padahal suaminya, AJB merupakan merupakan Ketua Majelis Pertimbangan partai Demokrat. Sedangkan putranya Ketua DPC Demokrat Sungai Penuh.
Terkait fenomena politik itu, menurut pengamat politik Bahren Nurdin, dalam politik merupakan hal yang wajar suami istri menjadi ketua partai yang berbeda. "Jadi, secara hukum yang mereka lakukan tidak salah dan itu sah," katanya.
Akan tetapi kata dia, jika dilihat dari aspek sosial, sangat jelas AJB sedang meramu dinasti politik yang dibuktikan dengan dua anaknya masuk ke ranah politik serta istri yang saat kini memegang jabatan ketua partai. Ini sangat terlihat dengan jelas oleh masyarakat bahwa keluarga ini sedang membangun dinasti. "Tampak yang dibuat sangat jelas dengan AJB yang berkeinginan di Pilgub serta anaknya Fikar Azami yang diplot untuk Walikota Sungai Penuh," sebut akademisi UIN STS Jambi ini.
Menurut Bahren, ukuran dari dinasti ini sebenarnya adalah tergantung dari penilaian masyarakat. Terutama warga Sungai Penuh. Apalagi selama AJB memimpin bersama dengan koloninya memperlihatkan hasil yang baik seperti pembangunan dan pemikirannya untuk kesejahteraan. "Tentu ini hanya diketahui oleh masyarakat Sungai Penuh itu sendiri," sebutnya.
"Jika dalam masa itu terlihat positif, tergantung masyarakat lagi untuk kembali memilih, baik AJB untuk kontestasi Pilgub atau Fikar Azami pada Pilwako Sungai Penuh nanti," sambungnya.
Hanya, kata Bahren, pola politik dinasti ini akan memunculkan stigma negatif. Karena berpotensi untuk menimbulkan kejahatan politik. Hal ini karena mereka akan lebih mudah untuk menggunakan hal tersebut untuk saling melindungi. Tetapi ada juga dampak positif karena bisa saling bahu membahu untuk pembangunan dan menyejahterakan masyarakat. "Meskipun begitu tetap kesan terbesarnya adalah negatif. Namun ketika mampu membuktikan bahwa itu baik silakan saja," sebutnya.
Apakah rentetan itu akan berlaku sampai 20 tahun ke depan dengan kembali memajukan Ezzaty di Sungai Penuh, Sekjend KPPD RI ini menyatakan pola itu sangat bisa terjadi karena kesempatan untuk memulai sudah dilakukan. "Terbukti dengan Ezzaty yang masih dibilang muda masuk sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi terpilih saat ini," pungkasnya.(fey)