JAMBI - Pilkada serentak di Provinsi Jambi banyak memunculkan sejumlah figur potensial untuk maju menjadi orang nomor satu. Yang menarik perhatian adalah munculnya para figur perempuan (srikandi) yang memang sudah memiliki kekuatan basis serta ketokohan. Terutama para istri kepala daerah.
Mereka adalah Yunninta Asmara, istri Bupati Batanghari Syahirsah dan Cici Halimah, istri dari Bupati Tanjab Barat Safrial. Dua Ketua PKK ini memiliki kekuatan untuk maju pada Pilkada 2020 di daerahnya masing masing menggantikan suami mereka yang sudah dua periode.
Hal ini bukan tanpa alasan. Selain sebagai istri bupati, Yuninta dan Cici Halimah juga anggota DPRD di Batanghari dan Tanjabbar. Malahan mereka menjadi legislator itu sudah masuk pada periode ketiga.
Lalu bagaimana peluang para srikandi ini memenangi hajatan bergensi lima tahunan ini?
Pengamat politik Jambi, Mochammad Farisi menyebutkan, kedua tokoh tersebut sudah memiliki modal kapital dan modal sosial. Modal sosialnya sudah teruji pada Pemilu lalu dan kembali terpilih sebagai anggota dewan. Ini membuktikan bahwa mereka memiliki basis massa.
Modal penting lain yang dimiliki keduanya adalah status sebagai istri bupati aktif atau incumbent. " Kekuatan dinasti politik yang mereka miliki, yaitu sebagai istri bupati ini merupakan nilai plus bagi keduanya yang tidak dimiliki kandidat calon lain," katanya.
Selain itu, Lanjut Farisi, mereka juga punya modal kapital yang dalam artian memiliki finansial yang kuat. Semua modal ini sudah mereka berdua miliki dan memang berpotensi kuat untuk menang jika memang nantinya mereka memastikan diri untuk maju. "Karena mereka sudah dikenal sejak lama dan sudah lama di dalam dunia politik dan legislatif," sebutnya.
Akan tetapi, untuk memastikan kemenangan tidak bisa langsung dipastikan dari sekarang. Karena para calon lain yang berpotensi akan menjadi lawan mereka juga tidak bisa dianggap remeh. Makanya akan banyak pertimbangan yang harus dilihat. "Survei, tipe masyarakat, ketokohan, kekuatan partai pengusung, pasangan calon juga menjadi catatan," jelasnya.
"Hasil survei juga sangat menjadi penentu. Karena partai politik juga pasti akan melakukan survei terlebih dahulu sebelum memutuskan arah dukungan," pungkasnya.
Pengamat politik lainnya, Dony Yusra Pebrianto mengatakan, perempuan di Jambi dalam hal politik cukup berpotensi. Bisa berkaca dari keberadaan perempuan di legislatif termasuk DPD. "Kalau dalam kapasitas sebagai kepala daerah, kalangan perempuan Jambi dapat dikatakan sangat berpotensi. Apalagi nama-nama yang muncul sebelumnya sudah dibayangi nama-nama besar," jelasnya.
Dia menyebutkan sejumlah nama tokoh politik perempuan di Jambi, yaitu Masnah Busro, Yunninta Syahirsah, Cici Halimah Safrial, Camelia Puji Astuti Hasip, Saniatul Lativa Sukandar, ataupun Suliyanti Mahir, atau Ratu Munawaroh Zulkifli. Selain itu juga, nama mantan legislator Azizah Daryati Uteng, Elviana dan Rahima istri Gubernur Jambi aktif.
Menurut Dony, tingkat elaktabilitas mereka tentu juga tinggi, mulai dari pemilih yang memilih karena calonnya sendiri ataupun massa riil dari nama besar dibalik mereka. "Secara politik tentu ini sangat menguntungkan," katanya.
Disamping sudah punya basis suara, lanjut Dony, mereka tidak perlu membangun popularitas dari nol lagi. "Namun yang menjadi catatan adalah mereka juga tidak perlu mutlak bersandar pada nama-nama besar itu. Mereka harus mampu mengedepankan figur pribadinya," katanya lagi.
Disamping itu, peluang isu gender dalam politik juga kuat, mengingat angka pemilih perempuan juga tinggi. Berkaca dari Pemilu lalu, tercatat 1.194.509 jumlah pemilih perempuan di Jambi yang selisihnya sedikit sekali dengan pemilih laki-laki. "Dengan kata lain, jika visi misi mereka mampu merebut simpati kalangan perempuan tentu ini juga menjadi peluang. Ditambah model pendekatan yang tentu lebih mudah di saat perempuan bertemu dengan perempuan," pungkasnya.(fey)