JAMBI- Bencana kabut asap terus meluas. Selain Kota Jambi, Muarojambi, Tanjab Timur dan Tanjab Barat, kini asap akibat dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) juga telah menyebar ke Batanghari, Sarolangun, Kerinci dan Sungai Penuh. Ibarat kata, kini Jambi sudah dikepung asap. Kondisi ini berdampak pada kualitas udara.
Di Kota jambi misalnya. Hingga Rabu (11/9) kemarin, kualitas udara masih memburuk.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jambi, Ardi mengatakan, Berdasarkan data Air Quality Monitoring System (AQMS) kualitas udara masih sering terjadi peningkatan dan penurunan status. “Kualitas udara berfluktuasi dari sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya,” katanya.
Ardi menjelaskan, jika dihimpun dari data beberapa hari lalu, status berbahaya terjadi pada malam hari. Sementara status sangat tidak sehat, dan status tidak sehat terjadi pada pagi dan sore hari. Data realtime Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi, Selasa pagi (10/9) pukul 10.30 WIB Parameter PM2.5 nilai 202 di atas baku mutu, kategori sangat tidak sehat.
Kemudian, data realtime pukul 21.30 WIB, parameter PM2.5 nilai 428, di atas baku mutu, kategori berbahaya. Lalu, pada Rabu (11/9), data realtime pukul 16.00 WIB parameter PM2.5 nilai 173, kategori sangat tidak sehat. Data realtime pukul 17.00 WIB parameter PM2.5 nilai 210, kategori sangat tidak sehat.
Meski kualitas udara memburuk, kabut sap yang mengepung Kota Jambi belum berdampak pada aktivitas penerbangan. Hingga sore kemarin, aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Saifudin Jambi masih normal seperti biasa.
Assistant Manager Terminal & Landside Service Bandara STS Jambi, Radiyan Prabowo mengatakan, meski kabut asap terjadi, pendaratan pesawat di Bandara STS Jambi masih lancar. "Sampai saat ini masih aman aman saja,"katanya, Rabu (11/9).
Dia menyebutkan semua maskapai masih melayani penerbangan keluar maupun masuk ke bandara STS Jambi."Masih terbang semua maskapai,"tandasnya.
Sementara itu Kasi Data Dan Informasi BMKG Jambi, Kurnia Ningsih mengatakan jarak pandang saat ini masih dalam kategori aman untuk penerbangan. "Pukul 07.00 Wib jarah pandang 3.000 meter, Pukul 08.00 Wib 2.600 meter, Pukul 09.00 Wib 5.000 dan Pukul 10,11,12 jarak padang 8.000 meter. Terkahir pukul 13.00 Wib 6.000 meter,"katanya kemarin.
Menurut dia, asap yang masuk ke Kota Jambi pada siang hari bisa terhembus oleh angin cukup kencang. Sehingga asap yang singgah ke kota segera keluar terbawa angin.
Saat ditanya kenapa asap pada malam hari cendrung tebal dan pekat, Kurnia Ningsih mengatakan pada malam hari kecepatan angin cukup lambat. Sehingga asap susah terbawa keluar. ‘’ Arah angin saat ini masih dari Selatan, Tenggara dan Timur,"sebutnya.
Sementara itu, dari Tanjab Timur dilaporkan kabut asap masih cukup tebal. Rabu (11/9) pagi, jarak pandang di Jembatan Muarasabak tidak sampai 100 M. Pantauan dari atas Jembatan penyebrangan Muara Sabak, kabut asap tampak jelas menyelimuti pemukiman warga.
Pada pukul 06.30 kabut asap yang menyelimuti kawasan Muarasabak mengakibatkan jarak pandang terbatas. Jangkauan pandangan normal hanya mencapai 100 M. Bahkan di bawah itu.
Salah seorang warga Muarasabak Timur, Sukiman (49) mengatakan kondisi asap pekat seperti yang terjadi pada Rabu pagi sudah berlangsung sejak dua pekan lalu. Namun kondisi makin parah terjadi selama sepekan terakhir. Kabut asap tebal terjadi mulai pagi hari hingga sore hari dan nyaris tidak terlihat cahaya matahari. " Bahkan hampir seminggu ini panas matahari dak lagi teraso. Dak nembus dibuat asap,"katanya.
Menurut Sukiman, kabut asap yang terjadi di Muarasabak timur merupakan dampak dari Kebakaran hutan yang terjadi dari Kecamatan tetangga. Meski di Kecamatan Sadu juga terjadi, namun posisinya jauh di ujung kecamatan. ‘’Jatuhnya kami ini terkepung asap dari kebakaran di Kecamatan Dendang, Mendahara, dan Sadu," ujarnya.
Lalu, di Batanghari, kualitas udara akibat kabut asap juga sudah mengkhawatirkan. Rabu (11/9) kemarin, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batanghari, resmi menetapkan kualitas udara daerah itu tidak sehat. Keputusan ini berdasarkan laporan hasil uji laboratorium lingkungan Nomor: 35/LHU/L2BTH/IX/2019.
Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH Kabupaten Batanghari, Dodi Martarinaldo membenarkan kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Data kualitas udara tidak sehat diperoleh menggunakan metode High Volume Air Sample (HVAS). "Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) hari ini (Rabu kemarin) berada pada angka 110,14 dengan kategori tidak sehat. Atau berada pada warna kuning," katanya, Rabu (11/9).
Kategori udara tidak sehat apabila ISPU mencapai angka 101-199. Sedangkan kategori udara sangat tidak sehat berada pada angka 200-299 atau berada di warna merah. Sedangkan kategori udara berbahaya apabila ISPU mencapai angka >300 berada di warna hitam. "Kami sudah melaporkan hasil tersebut kepada Bupati Batanghari, tembusan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan," ucapnya.
Menurut dia, DLH Kabupaten Batanghari melakukan pengujian selama 24 jam, dimulai setiap pukul 15.00 WIB. Lokasi pengujian berlansung di Laboratorium Lingkungan DLH Kabupaten Batanghari.
Kemudian, dari Kerinci dan Sungai Penuh dilaporkan juga sudah terpapar kabut asap. Meski di dua daerah itu tidak ada titik api, Namun beberapa pekan terakhir warga Kerinci dan Sungai Penuh ikut merasakan dampak kabut asap.
Kendati tidak terlalu tebal, tapi kabut asap mulai terasa. Terutama pagi hari. Lalu siang hari kabut asap mulai menipis. "Sudah beberapa hari ini kabut asap mulai terasa di hidung. Apalagi pagi hari. Kita dak tau apakah asap ini kiriman atau ada titik api di Kerinci,"kata Marni salah seorang warga.
Prakirawan BMKG Kerinci, Mardiansyah, mengatakan secara umum Kerinci dan kota Sungai Penuh cerah berawan. Namun bulan ini mulai terpapar kabut asap. "Untuk ketebalan relative. Saya belum bisa ngasih kepastian apa sehat atau tidak. Coba tanya ke Dinas Kesehatan,"katanya.
Menurut perkiraannya, kabut asap di Kerinci dan Sungai Penuh merupakan kiriman dari daerah tetangga. "Di kerinci tidak titik api. Kabut asap ini kiriman dari Palembang, Jambi, Riau,"sebutnya.
Mardiansyah mengatakan, meki belum parah, kabut sudah sudah mulai menganggu penerbangan. Meski demikian aktivitas penerbangan di Bandara Depati Parbo masih normal.
"Cukup mengganggu dari jarak pandang yang. Tapi saat ini aktivitas penerbangan masih normal,"pungkasnya. (ali/isw/fai/sau)