Pengamat: Banyak Mesin Partai yang Bergerak

Kandidat yang Didukung Parpol Kecil Bisa Untung

Jumat, 24 Januari 2020 - 07:54:30 WIB - Dibaca: 1951 kali

(ist/Jambione.com)

JAMBI – Salah satu faktor penentu kemenangan dalam pemilihan gubernur (pilgub) Jambi adalah partai pengusung. Makin banyak partai pengusung makin besar peluang menang. Karena banyak mesin partai yang bergera dan bekerja. Oleh sebab itu, sebagian pengamat mengatakan calon yang banyak diusung partai kecil (perolehan kursi di DPRD) malah bisa untung secara politik.

Seperti diketahui, saat ini ada sekitar saat ini ada 55 kursi di DPRD Provinsi Jambi yang menjadi rebutan kandidat. Rinciannya PDIP 9 kursi, Demokrat, Gerindra, Golkar dan PAN sama-sama meraih 7 kursi. Selanjutnya ada PKS dan PKB yang sama-sama meraih 5 kursi. NasDem 4 kursi, PPP 3 kursi, Hanura 2 kursi, dan terakhir partai Berkarya 1 kursi.

Melihat komposisi kursi di DPRD, sebenarnya bisa menguasai tiga atau empat dari enam partai yang perolehan kursinya menengah dan kecil saja, kandidat sudah bisa mencalonkan diri. Yaitu, PAN, PKB, Nasdem, PPP, Hanura dan Berkarya.  Secara politik, kandidat diuntungkan jumlah partai, yang secara otomatis jumlah ‘mesin’ yang bergerak pun lebih banyak. 

Sementara ini, dari 11 partai yang memiliki kursi di DPRD, baru PPP yang sudah menyatakan dukungan ke Sy Fasha. Sementara yang lain belum ada kejelasan. Termasuk partai besar, seperti PDIP, Demokrat, dan Gerindra. Sedangkan PAN sepertinya sudah pasti mengusung Ketua DPW nya H bakri. Lalu Golkar mengusung Cek Endra. Walaupun belum resmi.  

Meski baru didukung ‘partai kecil’, para pengamat menilai  Fasha sedikit lebih maju dibandingkan kandidat lain.  Apalagi jika Wali Kota Jambi ini bisa merangkul PKS, Hanura dan PKB. Secara politik, jumlah mesin politiknya tentu lebih banyak dibandingkan kandidat lain.

Pengamat politik Dony Yusra Pebrianto menilai, strategi jitu seperti ini seharusnya dilakukan para bakal calon gubernur (balongub), di saat partai-partai dengan perolehan kursi signifikan masih belum membuka arah dukungan. "Atau bisa jadi masih memantau kekuatan yang dibangun para bakal calon yang mendaftar, mengingat partai-partai dengan perolehan kursi signifikanpun masih tidak bisa mengajukan calon sendiri karena perolehan kursi mereka juga tidak cukup.

Seperti PDIP yang meraih 9 kursi atau 16,36 persen. Golkar, Gerindra, Demokrat dan PAN meraih 7 Kursi atau 12,72 persen. Menurut Dony, sebagai syarat maju, calon yang diusung partai besar memang tidak memiliki beban yang berat untuk mencukupkan jumlah dukungan. Dengan modal 2 atau 3 kursi akan melenggangkan mereka untuk ditetapkan sebagai pasangan calon.

"Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi Partai yang memiliki kursi besar memiliki kekuatan bargaining position dalam arah dukungan tersebut," katanya.

 Apakah ada kemungkinan koalisi partai-partai yang tidak memperoleh suara signifikan akan mengerucut kepada satu calon? Menurut dia, hal ini juga menjadi salah satu kekuatan calon yang diusung. Dengan banyaknya jumlah partai pengusung artinya mesin partai yang akan bekerja juga makin banyak.

"Artinya kekuatan mesin politik akan sangat kuat mengingat banyaknya partai politik yang tentu akan berkontribusi memenangkan calon tersebut," jelasnya.

Tapi untuk mewujudkan itu, menurut Dony, juga tidak mudah. Komunikasi politik lintas partai tersebut membutuhkan energy yang tidak sedikit. Apalagi calon tersebut setidaknya diusung oleh 5 atau bahkan 6 partai.

"Tentu membutuhkan komunikasi politik ekstra mengingat jika terlalu lama meliuk-liuk dalam komunikasi. Tidak menutup kemungkinan juga akan tertinggal di tengah jalan manakala ternyata dukungan kurang. Apalagi jika tidak mendapat dukungan dari partai yang memperoleh kursi setidaknya 7 kursi," ungkapnya.

"Namun menurut hemat saya koalisi ke depan akan ada kombinasi antar perolehan kursi partai. Karena petanya saat ini tidak ada partai yang dapat mengusung calon sendiri tanpa berkoalisi," katanya.

Jika melihat komposisi kursi dan arah komunikasi politik saat ini, Dony memperkirakan koalisi partai ke depan cenderung koalisi kombinasi. Karena  semua bakal calon yang digadang-gadang maju melakukan komunikasi ke semua parpol.(fey)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA