Kemarau Panjang, Musim Tanam Padi Ketiga di Tanjabtim Molor Akibat Kekurangan Air

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:51:21 WIB - Dibaca: 40 kali

Ilustrasi petani memeriksa kondisi lahan persawahan yang mengering akibat kemarau panjang, sehingga musim tanam padi ketiga di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tertunda. Foto: Rahim
Ilustrasi petani memeriksa kondisi lahan persawahan yang mengering akibat kemarau panjang, sehingga musim tanam padi ketiga di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tertunda. Foto: Rahim ()

JAMBIPRIMA.COM, TANJABTIM – Musim kemarau berkepanjangan berdampak pada aktivitas pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Provinsi Jambi. Petani terpaksa menunda musim tanam padi ketiga tahun 2026 akibat berkurangnya ketersediaan air di lahan persawahan.

Jadwal penanaman yang semula direncanakan berlangsung pada September hingga Oktober 2026 belum dapat berjalan sesuai target. Kondisi tersebut dipicu minimnya curah hujan yang menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami kekurangan pasokan air.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanjabtim, Sunarno, saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (30/10/2026), menjelaskan bahwa faktor cuaca menjadi kendala utama dalam pelaksanaan musim tanam ketiga tahun ini.

Menurutnya, kegiatan penanaman padi seharusnya sudah dimulai sejak awal September. Namun, kondisi lahan yang belum memperoleh pasokan air memadai membuat petani harus menunggu hingga situasi memungkinkan.

Keterlambatan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpotensi memengaruhi kalender pertanian, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman hingga waktu panen.

Meski demikian, kondisi cuaca di sejumlah wilayah Tanjabtim mulai menunjukkan perubahan. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir diharapkan dapat membantu meningkatkan ketersediaan air pada lahan persawahan.

Pemerintah daerah berharap intensitas hujan kembali normal dan berlangsung secara konsisten sehingga petani dapat segera memulai penanaman tanpa harus menghadapi penundaan lebih panjang.

Sunarno juga menjelaskan bahwa kemarau sebelumnya tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap musim tanam padi kedua tahun 2026.

Pasalnya, ketika kondisi cuaca mulai kering, sebagian besar tanaman padi telah memasuki fase generatif hingga masa panen yang berlangsung pada akhir Agustus dan awal September 2026.

Berbeda dengan musim tanam kedua, pelaksanaan musim tanam ketiga membutuhkan ketersediaan air yang cukup sejak tahap awal pengolahan lahan hingga pertumbuhan tanaman.

Apabila kondisi kekurangan air terus berlangsung, keterlambatan penanaman dikhawatirkan ikut menggeser jadwal panen dan memengaruhi produktivitas pertanian serta pendapatan petani.

Karena itu, normalisasi curah hujan menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kelanjutan aktivitas pertanian di wilayah Tanjabtim.

Sunarno menegaskan bahwa jadwal musim tanam ketiga memang mengalami perubahan akibat kondisi cuaca yang belum mendukung.

"Tanam padi yang dijadwalkan awal September sampai Oktober, mundur karena pengaruh cuaca," ujar Sunarno.

Ia berharap kondisi cuaca segera membaik agar petani dapat kembali menggarap lahan persawahan dan melaksanakan penanaman sesuai kondisi di lapangan.

"Harapan kami hujan segera normal dan kami akan segera tanam," pungkasnya. (rhm)





BERITA BERIKUTNYA